Karya Tulis

Kapas Biru

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 4

Pukul 14.30, mobil vw yang Luna dan Arman tumpangi telah sampai di Waduk Karangkates, kurang lebih 1 jam lagi mereka akan tiba di tempat tujuan.
Arman mengajak Luna berhenti sebentar di salah satu lokasi wisata di Kabupaten Malang itu. Sekedar untuk beristirahat dan makan sambil menikmati pemandangan waduk yang indah di sore itu.
Luna yang tidak bicara sama sekali sepanjang perjalanan tadi keluar dari dalam mobil lalu duduk di kap mobil yang parkir di tepi jalan di atas waduk itu. Sementara Arman pergi ke warung yang berada sekitar beberapa meter dari mobilnya parkir itu untuk membeli makanan.
Luna asyik menikmati pemandangan indah di sekitar waduk yang cukup sepi sore itu. Tiba-tiba Arman muncul dihadapannya dengan sebungkus roti dan sebotol teh.
“Aku yakin kau tidak akan mau ku ajak makan nasi atau makanan lain ! Jadi kubelikan ini, makanlah kulihat sejak pagi tadi kau belum memasukkan makanan apapun ke dalam mulutmu !” Ujar Arman
Luna memandang kedua tangan Arman yang masing-masing membawa makanan dan minuman itu. Luna mengambil sebotol teh di tangan Arman itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Arman tersenyum lantas membuka sebungkus roti di tangannya itu. Kemudian turut duduk di kap mobil seperti Luna sambil memakan roti yang hendak ia berikan pada Luna tadi.
Arman merogoh saku celana pendeknya. Lalu ia mengeluarkan sebuah kotak cincin yang kemudian ia buka tutupnya dan ia sodorkan pada Luna.
“Ambilah !” Pintahnya pada Luna
Luna memandang kotak dengan cincin emas polos yang tersemat di dalamnya itu.
“Kau bilang, tidak ada apapun di acara pernikahan ini, kenapa memberiku cincin ?”
“Jangan kau anggap sebagai bagian dari hari pernikahan ini. Anggap saja ini sekedar barang pemberian !”
“Aku tidak mau !”
“Kau sudah menerimaku sebagai suamimu, untuk apa kau masih menolak benda pemberian dariku ?”
“Aku tidak pernah menerima kau hadir di dalam kehidupanku !”
“Lalu kenapa kau menerima tawaranku hari itu ?”
Luna terdiam, dia teringat bagaimana ia memutuskan akhirnya mau menikah dengan Arman. Bukankah ia tak mencintai laki-laki itu ? Tapi saat itu rasanya tak ada jawaban lain yang muncul di dalam pikirannya selain menerima perjodohannya dengan Arman.
“Kenapa tak kau saja yang memutuskan perjodohan itu ? Jika memang kau tak mau dinikahkan denganku !”
Luna tak bisa menjawab. Dia merasa telah melakukan hal yang bodoh dengan keputusan yang ia ambil. Apalagi saat ini. Dengan kata-kata Arman barusan, ia makin merasa bodoh.
Luna menghempaskan botol di tangannya itu ke aspal jalan. Lalu bergegas mengambil tasnya di dalam mobil dan berlari meninggalkan Arman dan mobil vwnya sambil menangis.
“Luna !” Teriak Arman
Laki-laki itu segera mengejar istrinya itu.
Luna berlari makin kencang, tapi Arman berhasil mendapatkannya.
“Kau kenapa ? Kenapa kau menangis ?” Tanya Arman
“Lepaskan aku !” Berontak Luna
“Kau kenapa ? Kenapa kau menangis ?”
“Biarkan aku pergi ! Kau bilang aku boleh melakukan apapun yang aku mau kan begitu aku menikah denganmu ? Dan kau tidak akan melarangku !”
“Tidak dengan meninggalkanku !”
Luna menangis sedih merasakan betapa pilu perasaannya saat ini.
Arman lalu memeluknya.
“Aku sudah berjanji padamu kan akan membuatmu bahagia ? Aku bahkan baru memulainya, kau belum merasakan bahagia yang akan aku ciptakan untukmu tapi kau sudah akan pergi meninggalkanku”
Luna tak perduli pada apa yang dikatakan oleh Arman. Saat ini ia hanya merasa sedih karena menurutnya dia sudah mengambil keputusan yang bodoh.
Setelah Luna tenang, Arman mengajak Luna melanjutkan perjalanan menuju Blitar.
***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s