Karya Tulis

Kapas Biru

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 3

Selang beberapa hari, Ayah Luna dan kedua pamannya dari pihak ayah maupun ibu pergi ke rumah Arman untuk menyerahkan tanggal pernikahan yang sudah ditentukan. Sementara Luna, setiap hari di rumah meratapi hidupnya yang terasa tak berharga. Tapi apa yang bisa ia perbuat ? Tak ada. Dia tergolong orang yang tak berani berbuat nekat sekalipun untuk menyelamatkan jiwanya.
Sore itu, Ibu menghampiri Luna di kamar yang tengah duduk melamun di tempat tidur. Ditangannya ada sebuah album foto berwarna merah dengan ukuran yang cukup besar.
“Luna, “ujar Ibu di ambang pintu
Luna sontak menoleh ke arah ibunya berada
“Apa Ibu mengganggumu ?” Tanya Ibu
“Tidak Bu !” Jawab Luna lemah dengan ekspresinya yang muram
“Ibu mau menunjukkan koleksi gaun pernikahan dari Anik Permata yang bisa kau gunakan nanti”
“Tak ada pernikahan”
“Luna, . . .”
“Luna tidak menginginkan pernikahan ini !”
“Katakan itu pada ayahmu ! Ibu hanya . . . ”
“Tak adakah di rumah ini yang bisa membelaku ? Setidaknya mendengar pendapatku ? Kematian Vina nukan keinginanku apalagi kehendakku Bu, tapi kenapa sampai detik ini seolah akulah penyebab kematian Vina dan kalian menghukumku sedemikian kejamnya dengan mengacuhkanku ?”
“Ibu keluar dulu !”
Ibu keluar begitu saja tanpa memperdulikan kata-kata Luna dan meninggalkan album foto koleksi gaun itu di kamar Luna. Sementara Luna hanya menatap kesal kepergian ibunya.
***
Arman pergi ke rumah Luna menjemput calon istrinya itu dengan mengendarai mobil vw kodok hijau kesayangannya untuk diajak pergi berbelanja peningset seperti instruksi ibunya. Ketika sampai, laki-laki yang sudah matang itu disambut oleh calon ibu mertuanya yang kebetulan sedang duduk di teras rumah.
“Nak Arman, mau jemput Luna ya ? Tadi Ibu sudah telpon katanya Luna mau diajak belanja peningset !”
“Iya Bu,”
“Kalau begitu sampeyan tunggu dulu sebentar ya, biar Luna tak panggil di dalam !”
“Iya Bu !”
Ibu pun masuk ke dalam. Tak berapa lama, ia telah keluar menghampiri Arman lagi bersama Luna.
“Nah, Luna sudah ada di sini ! Nak Arman kalau nyetir mobil hati-hati ya !”
“Enggih Bu, kalau begitu kami pamit dulu ! Assalamualaikum, ayo Dik Luna !”
Luna dengan langkah malas mengikuti Arman dari belakang menuju mobil vw hijau yang terparkir di halaman rumah itu.
Setelah siap, Arman pun menjalankam mobilnya menuju tempat tujuan.
Diperjalanan, Arman mencoba mengajak Luna berbicara. Karena sejak tadi Luna diam saja.
“Hmmm, gimana kalau kita makan dulu Dik ?” Ujar Arman
“Jangan panggil aku ‘dik’, ” sentak Luna
“Lalu aku harus memanggilmu apa ?”
“Jangan pernah memanggilku !”
“Apa maksudmu ? Kita sebentar lagi akan menikah dan menjadi suami istri . . . ”
“Kau tidak usah berpura-pura bodoh, aku yakin dosen dengan gelar setinggi dirimu tidak mungkin tidak mengerti dengan kata-kataku tadi. Biar kuperjelas, aku tidak menginginkan perjodohan ini. Dan aku tidak mau menikah denganmu !”
Arman menghentikan laju mobilnya di tengah jalan di ujung komplek perumahan itu. Kemudian dia menghela nafas berat.
“Jadi apa maumu ? Aku membatalkan perjodohan ini, dan meninggalkanmu begitu ?”
“Iya !”
“Apa kau tidak mengkhawatirkan perasaan orang tuamu jika pernikahan ini batal ?”
“Apa mereka juga memperdulikan perasaanku ketika menjodohkanku denganmu ?”
Sejenak suasana menjadi hening. Arman seperti kena skakmat dengan pernyataan Luna tadi. Ia mulai menanyakan keyakinan dirinya lagi untuk menikahi Luna yang sudah jelas menolaknya.
“Kau sendiri bahkan tidak tahu kan bagaimana perasaanku padamu ? Dan bodohnya, kau mau saja dijodohkan denganku ? Apa yang kau fikirkan ?”
‘Yah benar apa kata Luna’ begitu fikir Arman
Nafa lantas bergegas keluar dari dalam mobil yang dikemudikan Arman itu. Tapi, Arman menahannya.
“Kau mau kemana ?”
“Pergi !”
“Jangan !”
“Kau mau apa lagi ? Apa kau tidak sadar dengan kata-kataku tadi ?”
“Aku sadar, tapi aku tidak punya alasan yang kuat untuk meninggalkanmu dan membatalkan pernikahan ini !”
“Apa ?”
“Iya, aku tetap akan menikahimu !””Kau bodoh atau apa ? Bagaimana mungkin kau menikahi sesorang yang bahkan tidak menyukaimu sama sekali ? Apa kau tega menyiksa batin seorang pererempuan di dalam pernikahan yang sama sekali tak ia inginkan ?”
“Aku akan membahagiakanmu ! Aku janji !” Ujar Arman sambil mengangkat kedua jarinya
“Aku pikir dengan berkata seperti ini kau mau memikirkan perasaanku ! Tapi ternyata kau sama saja dengan orang tuaku.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu ! Mungkin dengan hidup bersamaku, kau bisa merasa lebih baik !”
“Apa kau bilang ? Hidupku akan lebih baik ? Tidak mungkin. Yang ada aku akan menjadi gila seumur hidupku !”
“Kau bahkan belum memulainya, dan kau sudah berkata seperti itu. Aku akan buktikan perkataanku !”
“Kau ini bicara apa ha ?” Luna mulai menangis putus asa
“Kau tidak tahu bagaimana rasanya diposisiku ! Aku tidak menginginkan pernikahan ini, aku ingin hidup seperti yang aku mau bukan menjadi istrimu !” Teriak Luna penuh amarah
Arman diam memikirkan lagi kondisi perempuan di hadapannya itu. Ia merasakan ketidakrelaan perempuan itu menjadi istrinya. Haruskah ia menuruti permintaan Luna dan membatalkan perjodohan itu ? Dia jadi dilema, di sisi lain ia kasihan dengan Luna yang tidak menginginkan perjodohan itu, tapi di sisi lain ia juga tidak mau mengecewakan bahkan membuat malu orang tuanya.
“Begini saja, kita tetap akan menikah. Tapi tidak ada pesta atau apapun. Kita menikah di KUA. Setelah itu aku akan membawamu tinggal bersamaku di Blitar. Di sana kau bisa hidup semaumu. Aku tidak akan melarang kau berbuat apapun !”
Kali ini Luna yang diam dan memikirkan kata-kata Arman.
***
Jam menunjukkan pukul 08.15, Arman dan Luna duduk berdampingan di hadapan meja penghulu. Di samping Arman, kedua orang tuanya juga duduk berdampingan dengan salah seorang paman Arman dari pihak ayah. Begitu pula orang tua Luna, mereka duduk mendampingi putri semata wayangnya yang akan melepas masa lajang.
“Baik, Bapak Ibu dan kedua mempelai yang berbahagia, saya akan memulai prosesi ijab kabul. Mas Arman, begitu saya mengucapkan kalimat ‘saya nikahkan engkau Arman Kusubandrio bin Djoyo dengan Bening Cahaya Laluna binti Rahman dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai’ sampean langsung nyambung ya !” Terang Pak Penghulu yang masih muda kira-kira seumuran dengan Arman itu
“Baik Pak !” Balas Arman
Kemudian Arman pun menjabat tangan penghulu tersebut. Lalu prosesi ijab kabul yang khidmat itupun berlangsung kurang lebih sepuluh menitan.
Tak ada pesta, tak ada foto bersama, tak ada hantaran pernikahan selain seperangkat alat sholat dan uang mahar sebesar seratus ribu rupiah di acara pernikahan Arman dan Luna pagi itu. Seperti telah Arman janjikan pada Luna, tak ada apapun di pernikahan mereka.
Usai acara ijab kabul, Arman dan Luna langsung bersiap untuk pindah ke Blitar tanpa menunggu sepasar seperti permintaan orang tua masing-masing.
Barang yang mereka bawa tak banyak, jadi proses packing pun tak memakan waktu yang lama sebelum tengah hari mereka sudah berada dalam perjalanan.
***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s