Karya Tulis

Kapas Biru

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 2

Begitu sampai di dalam, ketiga orang tadi langsung disambut hangat oleh ayah Luna lantas saling bersalam-salaman kemudian semuanya pun duduk. Sebagai basa basi, paman Luna dari pihak ayah mempersilahkan si Tamu tadi untuk mencicipi aneka suguhan yang telah disediakan di meja.
Sementara itu, Luna tidak nyaman dengan laki-laki muda yang turut bertamu mungkin dengan orang tuanya itu, karena dari awal kedatangannya tadi, dia terus memperhatikan Luna.
“Luna ini putri Pak Rahman satu-satunya, dia baru saja lulus kuliah manajemen di UM, benar ya Nduk ?” Kata Paman dari pihak ibu
“Iya Paklik !” Sahut Luna
“Kalau Mas Arman ini piye ? Masih kuliah atau sudah kerja atau bagaimana ?”
“Kalau saya sekarang kerja sambil ngajar Paklik !” Kata laki-laki yang ternyata bernama Arman itu sembari tersenyum
“Loh ngajar ? Ngajar di sekolah mana ?”
“Ngajar di Universitas *** Paklik !”
“Oh dosen ! Hebat sekali, padahal sudah sibuk jadi sekcam tapi masih bisa nyambi ngajar ya ?”
“Alhamdulillah sejauh ini keduanya bisa dikerjakan dengan lancar !”
“Ngomong-ngomong, usianya Mas Arman ini berapa ya ?” Tanya Paman dari pihak ayah
Arman hanya tersenyum,
“Kelihatannya masih muda, tapi karirnya sudah bagus !” Tambahnya lagi
“Saya baru 35 tahun Pakde !”
“Oh agak jauh berarti ya rentang usianya dengan Luna, usiamu piro to Nduk ?”
Luna yang dari tadi agak melamun jadi gragapan ketika ditanya,
“Saya ? Saya 24 tahun !”
“Baiklah, kalau begitu singkat saja dulu perkenalannya. Nanti biar dilanjut sendiri saja sama pihak yang akan dijodohkan. Jadi begini . . . ” Ucap Paman dari pihak ibu terputus
“Tunggu, jadi ini acara perjodohan ?” Kata Luna yang membuat suasana mendadak canggung
“Makanya sampean dengarkan dulu Nduk, Paklik bicara !”
“Luna, sudah !”ujar Ibu berbisik
“Jadi begini Mas Arman, Nduk Luna, kemarin Pak Rahman datang menemui saya di rumah. Katanya beliau habis bertemu dengan Pak Djoyo. Nah dari pertemuan itu, disepakati kalau beliau berdua bermaksut menjodohkan anak-anaknya yaitu Mas Arman dan Ndukku Luna ini !”
Tak ada sahutan. Suasana jadi hening dan canggung. Lalu acarapun diselingi makan siang bersama sambil kembali menghangatkan suasana.
Luna yang tak ikut makan bersama duduk di teras rumah. Melamunkan apa yang baru saja alami. Lamunannya mendadak kabur begitu Arman tiba-tiba muncul didepannya.
“Hai !” Sapa Arman ramah
Luna tak membalas, ia diam saja
“Kita masih bisa . . .”
Luna beranjak pergi meninggalkan Arman di teras rumah begitu saja.
***
“Jadi bagaimana Mas Arman, dan Nduk Luna ? Apa kalian bersedia dijodohkan ?” Tanya Paman dari pihak ibu
Arman maupun Luna sama-sama diam. Arman menunggu Luna membuka suara terlebih dahulu. Tapi setelah beberapa lama, Luna tak juga bicara. Akhirmya Arman langsung angkat bicara
“Saya menerima perjodohan ini !” Kata Arman
“Kalau Nduk Luna ?”
Nafa diam beberapa saat, lalu
“Saya akan memikirkannya terlebih dahulu !”
Setelah itu acara pun ditutup, Arman dan orang tuanya pamit pulang.
***
Setelah paman-pamannya pulang, Luna langsung menghampiri ayahnya yang tengah berada di kamar. Ini pertama kalinya ia menghadap ayahnya sejak Vina pergi.
“Ayah !” Ujar Luna penuh amarah
“Apa ?” Sahut Ayah santai
“Apa-apaan ini ? Ayah menjodohkanku tanpa bertanya dulu bagaimana pendapatku ?”
“Sudahlah menurut saja pada orang tua, apa salahnya menurut pada orang tua ?”
“Ayah !”
“Kau membentak ayah ?”
Ibu yang berada di dapur mulai mendengar suara perdebatan Luna dan Ayah yang kian meninggi. Kemudian ia pun segera menghampiri kedua ayah beranak itu.
“Selama ini Luna dianggap apa ? Luna selalu menjadi anak yang penurut, patuh, dan selalu berprestasi di sekolah. Tapi Ayah tidak pernah menganggapnya ! Bahkan menganggap Luna ada pun tidak!”
“Plak !”
Begitu Ibu sampai, Ayah telah melayangkan sebuah tamparan di pipi Luna
“Tanggal pernikahanmu dan Arman sudah Ayah putuskan ! Jadi terima saja keputusan ini !”
Luna menangis sambil berjalan lunglai meninggalkan kamar orang tuanya. Sementara Ibu hanya bisa menatap iba Luna menangis.
Ibu mencoba untuk meraih bahu Luna, tapi rupanya gadis muda itu tengah terpuruk oleh emosinya.
***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s