Karya Tulis

Kapas Biru

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 1

7 November 2003,
Pukul setengah tujuh pagi, Luna dan Vina kecil berlari-lari dari rumah menuju taman di ujung komplek perumahan tempat tinggal mereka. Ketika hendak ke lokasi taman, kedua gadis kecil itu menyebrang jalan. Luna menyebrang terlebih dahulu, namun ketika Vina hendak menyebrang tiba-tiba mobil box yang melaju kencang dari arah barat menghantam tubuh gadis kecil itu.
Melihat adiknya terkapar sekarat di depan mobil box itu, Luna segera menghampirinya. Tangisnya langsung pecah. Orang-orang di sekitar tempat itupun turut menghampiri tubuh Vina.
Tak berapa lama, orang tua mereka tiba. Tangis kedua orang tua itu juga langsung pecah tatkala melihat putri bungsunya terkapar berdarah-darah seperti itu.
Vina pun lantas dibawa ke rumah sakit. Tapi ketika sampai di UGD, ternyata dia telah meninggal dunia.
Keesokan harinya usai pemakaman Vina, di rumah Luna dijadikan pelampiasan emosi kedua orang tuanya. Terutama sang Ayah yang begitu merasa sangat kehilangan Luna.
***
11 Januari 2019,
Luna lulus dari pendidikan manajemennya di salah satu universitas di Malang. Meskipun teman-teman dan para orang tuanya merayakan dengan penuh suka cita acara wisuda kelulusan itu, tidak dengan Luna dan orang tuanya. Setelah sidang mereka hanya berfoto bersama lalu pulang. Perayaan sederhana bahkan ucapan selamat untuk Luna pun tidak ada.
Kondisi demikian sudah berlangsung sejak dulu baik kelulusan SD-SMP-SMA ataupun di hari ulang tahunnya. Luna sudah bisa menerimanya dengan Ikhlas. Setelah lulus kuliah, Luna berencana mencari kerja. Tapi acara pagi ini sepertinya akan mengubah rencananya.
Malam sebelumnya,
“Tok . . . Tok . . . Tok !” Terdengar pintu kamar diketuk dari luar
Luna yang tengah membereskan kebaya yang ia gunakan tadi siang saat wisuda bergegas membuka pintu. Ketika dibuka, ternyata Ibu yang berada di depan pintu.
“Ada apa Bu ?” Tanya Luna
“Ibu mau bicara,” Jawab Ibu
“Kalau begitu masuklah !” Ujar Luna mempersilahkan ibunya masuk ke dalam kamar
Lantas kedua wanita itu pun duduk berhadapan di tempat tidur Luna
“Besok, Ayah akan kedatangan tamu. Kamu dandan yang cantik ya ? Gunakan pakaian terbaikmu !”
Luna mengeryitkan dahi mendengar kata-kata ibunya tadi. Perasaannya jadi tak enak. Karena tak biasanya Ayahnya melibatkan dirinya dalam hal menerima tamu. Jangankan menerima tamu, sejak Vina pergi perduli padanya saja tidak.
“Iya, Bu. Luna besok akan dadan dan menggunakan baju yang bagus !” Balas Luna kemudian
“Baiklah, kalau begitu Ibu keluar dulu !”
“Iya Bu !”
***
Luna berdandan seperti biasanya ia berdandan tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Ia mengenakan pakaian yang ia beli dan gunakan saat lebaran tahun lalu. Setelah selesai, ia keluar kamar menuju dapur tempat ibunya berada.
Belum sampai di dapur sang Ibu telah mencegatnya di ruang makan
“Ayo kita ke ruang tamu !” Ajak Ibu
Luna pun berbalik arah, lantas mengarahkan langkah kakinya ke ruang tamu.
Tiba di sana sudah ada 2 orang paman dari pihak ayah dan ibunya yang juga mengenakan hem batik seperti ayahnya.
Tak berapa lama sebuah mobil alphard berwarna hitam berhenti di depan rumah. Lalu keluar seorang laki-laki dan perempuan paruh baya serta seorang laki-laki muda dari dalam mobil itu. Ketiganya juga mengenakan pakaian yang rapi khas orang pergi ke kondangan. Si wanita mengenakan longdress berbahan brokat, sedangkan kedua laki-laki yang bersamanya itu mengenakan hem batik lengan panjang.
‘Mungkin inilah tamu yang dimaksud ibu semalam’ begitu pikir Luna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s