Bio

Pentingnya Berinvestasi di Masa Lajang

Oleh Nia Nayajomis

Banyaknya keinginan yang ingin dicapai, menjadi salah satu hal yang memotivasi diri kaum muda untuk bekerja lebih giat. ‘Pumpung masih muda dan belum berumah tangga’ begitu pikir mereka. Liburan kesana-kemari, shoping sana-sini, nongkrong bersama teman-teman adalah segelintir pemuas bahagia yang ingin diraih anak muda selagi lajang. Kadang yang larut dalam kesenangan semacam ini sampai lupa untuk menabung guna masa depan.

Usia yang masih muda kadang juga menjadi alasan untuk menunda melakukannya. Padahal masa tak dapat diputar, karena waktu tergolong barang habis pakai dan akan terus bergerak maju tanpa toleransi. Akhirnya, di masa mendatang kala masa sulit datang utamanya masalah finansial misal untuk biaya menikah, kita sibuk mencari pertolongan untuk mengatasinya dan baru sadar jika menabung untuk masa mendatang itu penting.

Ketika masih lajang, kesulitan keuangan itu tak terlalu spesifik. Tapi ketika berumah tangga, sangat, sangat, sangat terasa pertolongan tabungan di masa sebelumnya, di masa masih bekerja untuk para wanita. Tapi tabungan itu tak bisa tahan lama penyimpanannya apabila tidak ditopang dengan penghasilan yang bisa terus menambah nilainya. Nah, berarti tabungan harus dirupakan investasi jangka panjang bisa berupa barang bergerak maupun tidak bergerak agar nilainya tidak berkurang, malah kalau bisa harus bertambah. Investasi inilah nantinya yang akan menjadi penolong di masa sulit pada masa mendatang. Seperti kisah saya berikut, nyata dan terjadi. Manfaatnya begitu saya syukuri sekarang.

Sekitar tahun 2015, saya lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 5 Bulan menganggur, saya baru diterima bekerja di home industry korden. Gaji saya saat pertama kali masuk Rp. 400.000,-, nominal yang sangat kecil bukan ? Tapi alhamdulillah itu sudah bersih bagi saya dan saya dapat menyisihkannya setiap gajian minimal Rp. 100.000,- apabila tidak ada keperluan mendesak serta bisa memberikannya beberapa rupiah pada orang tua sekedar untuk berbagi kebahagiaan. Dimana dari tempat saya bekerja itu saya sudah dapat jatah makan siang dan pinjaman kendaraan berupa motor yang setiap bulannya hanya menghabiskan Rp. 20.000,- untuk membeli bensin. Hanya menghabiskan 2 liter bensin setidaknya karena jarak rumah dan tempat kerja memang dekat hanya 4km saja.

Di bulan-bulan berikutnya, gaji saya naik Rp. 50.000,- jadi gaji yang saya terima Rp. 450.000,-. Alhamdulillah kebutuhan juga tak banyak, beberapa rupiah untuk pegangan dan memberi orang tua selebihnya saya tabung. Begitu seterusnya sampai akhirnya gaji saya Rp. 550.000,- saya bisa membeli ponsel pintar yang sekarang bisa saya gunakan untuk nge-blog ini dan menabung lebih banyak lagi.

3 bulan sebelum akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan saya itu, saya sudah memiliki tabungan Rp. 900.000,-. Nilai yang cukup besar bagi saya. Saya terfikir, untuk apa uang tabungan saya itu ? Apa hanya akan berupa uang saja dan akan terus bertambah jika saya terus bekerja ? Saya berfikir uang tersebut harus bisa saya gunakan hingga jangka panjang. Bila perlu sampai menikah barokah dan manfaatnya bisa saya gunakan.

Sayapun berdiskusi dengan calon suami saya. Sejak dulu saya disarankan untuk berjualan di bangunan tempat ibu saya berjualan dulu. Letaknya di samping rumah. Awalnya saya ingin berjualan pulsa saja. Sampai akhirnya calon suami saya yang sekarang menjadi suami saya memaksa saya untuk berjualan kelontong. Agak ragu awalnya, soalnya saya tidak pandai berdagang dan mengelola keuangan untuk berdagang.

Akhirnya, 2 bulan kemudian saya mantap buka usaha di rumah dan memutuskan keluar dari pekerjaan saya. Alhamdulillah, keluar dari home industry korden itu juragan saya menaikkan upah terakhir saya menjadi Rp. 600.000,-. Lumayan untuk tambah modal mengisi warung kecil saya.

Bangunan warung kecil ibu saya itu lalu saya bersihkan. Uang tabungan saya, saya belanjakan berbagai jenis dagangan yang bisa laku di daerah tempat tinggal saya. Bapak saya yang waktu itu mendapat deviden dari saham yang ia miliki di salah satu pom yang ada di daerah tempat tinggal saya, ia berikan beberapa rupiah pada saya sebagai tambahan modal usaha. Calon suami saya juga memberi modal untuk berjualan pulsa seperti keinginan saya dulu. Akhirnya di hari Selasa bulan Maret entah tanggal berapa tepatnya, saya mulai berjualan.

Meski awal-awal berjualan sepi dan sempat keteteran karena tidak bisa mengelola keuangannya, alhamdulillah ada calon suami yang senantiasa menyemangati dan membantu di setiap kesulitan berjualan. 2 bulan berjualan, lebaran tiba. Laba dari berjualan selama 2 bulan yang saya kumpulkan bisa saya pergunakan untuk membeli baju lebaran sendiri. Untuk orang tua, alhamdulillah dulu waktu masih bekerja masih sempat menabung untuk lebaran, khusus untuk memberi hadiah buat mereka yang membesarkanku. Alhamdulillah jelang melepas masa lajang saya sudah mapan untuk kategori perempuan desa versi saya.

Kehidupan terus berlanjut. Warung yang saya isi dengan peluh saya sewaktu masih bekerja ini terus saya kembangkan sedikit demi sedikit dengan beragam cobaan yang menjadikannya pasang-surut. Bahkan labanya yang tak seberapa bisa membantu saya mencukupi kebutuhan rumah tangga saya setelah menikah. Bahkan saya masih bisa menabung meskipun tak seberapa. Hasilnya ? Bisa membantu juga untuk kehidupan saya semasa hamil hingga melahirkan bersama suami. Bahkan hingga sekarang anak saya beranjak besar selain bisa membantu kebutuhan di dapur, kebutuhan anak saya seperti membeli pempers bisa ikut terbantu juga.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan upaya saya sewaktu masih lajang dulu. Menahan diri untuk tidak berfoya-foya dan berusaha berhemat meskipun dengan gaji sedikit. Hasilnya, sangat membantu kehidupan saya saat ini. Saya sangat bersyukur. Semoga saya bisa terus berusaha lewat investasi kecil yang saya bangun di masa muda dulu itu.

Semoga kisah saya ini bisa memberi inspirasi dan motivasi untuk pembaca sekalian. Tak harus sama seperti saya, yang terpenting berinvestasilah sekecil apapun, jangan boros, dan tetap bekerja keras. Jangan lupa berdo’a dan bersedekah, serta baik kepada kedua orang tua agar kehidupan kita senantiasa barokah. Amin.

Sekian cerita yang saya bagi di bulan yang bertepatan dengan waktu dibukanya usaha kecil saya di rumah !

Salam inspirasi🙏

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s