Karya Tulis

Masker Biru

Oleh Nia Nayajomis

“Dasar perempuan tidak tahu diri !” Teriak Ayah lantas mendaratkan sebuah tamparan di pipi kanan Mama
“Plak !”
“Kamu itu yang tidak tahu diri, kamu itu kalau tidak menikah denganku kamu tidak akan punya apa-apa ! Sudah begitu kamu masih berani berselingkuh dibelakangku !” Balas Mama sambil memegang pipinya yang habis di tampar Ayah
Sementara kedua pasangan suami istri yang telah mengarungi bahtera rumah tangga selama lima belas tahun itu bertengkar di dalam kamar, dibalik pintunya yang tertutup gadis kecil berusia 10 tahun duduk bersimpuh sambil memeluk boneka barbie kesayangannya tengah menangis sedih mendapati orang tuanya bertengkar setiap hari.
Tiba-tiba pintu terbuka, gadis kecil itu terkejut dan buru-buru menghentikan tangisannya.
“Apa yang kamu lakukan disini ?” Teriak Mama yang rupanya masih dirundung amarah karena bertengkar dengan Ayah tadi.
“Kamu menguping Ayah dan Mama bertengkar lagi ?” Teriak Mama lagi
Gadis kecil itu masih tak menjawab, ia malah menunjukkan ekspresi ketakutan melihat ibunya.
“Sini kamu !”
Mama langsung menyambar tangan gadis kecilnya itu lalu menyeretnya ke kamar mandi.
“Ampun Ma ! Ampun ! Ampuni Alea Ma !” Ujar gadis kecil itu memelas dengan barbie yang masih berada dipelukannya
Begitu sampai di kamar mandi, gadis kecil bernama Alea itu langsung dihempaskan di lantai lalu tanpa belas kasih sang Mama langsung mengguyurnya dengan air.
“Ampun Ma, dingin ! Ampun !”
“Biar ! Biar kamu jera ! Bila perlu kamu mati sekalian biar tidak menjadi beban Mama !”

***
Pukul 23.38, Alea meringkuk di sudut tempat tidurnya. Rambutnya masih basah meskipun bajunya sudah diganti dengan yang kering. Begitupula matanya, juga masih basah dengan air mata. Batinnya terasa tersiksa harus melihat orang tuanya setiap hari bertengkar.
Sejenak hening, tapi suara gaduh kembali terdengar dari kamar irang tuanya. Suara gaduh itu merembet ke ruang tivi dan makin mendekat ke arah kamar Alea.
Alea melihat masker yang tadi siang ia gunakan saat berangkat ke sekolah tergeletak di lantai kamarnya. Kemudian ia pungut dan segera ia kenakan.
“Bruak !” Pintu kamar dibuka dengan kasar
“Jangan sampai aku melihatmu menangis lagi ! Awas kamu !” Pintah Mama memperingatkan Alea
“Bruak !” Pintu kamar kembali tertutup dengan kasar

***
7 tahun kemudian.
Alea kini telah duduk di bangku SMA. Namun, situasi di rumah tidak juga berubah. Meskipun orang tua Alea masih tinggal bersama dan status perkawinan mereka juga masih tetap.
Apabila orangtuanya mulai bertengkar, Alea memutuskan meninggalkan rumah dengan sepedanya. Berkeliling di sekitar komplek rumahnya atau pergi ke taman.
Sore itu sepulang sekolah, Alea berencana mengerjakan tugas di rumah. Tapi ketika ia sampai di luar pagar rumah, ia mendengar suara gaduh dari dalam rumah. Yah, orang tuanya kembali bertengkar. Alea memutuskan berbalik arah meninggalkan rumah. Sambil berjalan air matanya kembali menetes. Segera ia ambil masker biru dari dalam tasnya. Kemudian ia kenakan.
Sampai di taman, dia duduk menunduk di bangku yang tersedia sambil menangis dibalik masker birunya.
“Alea !” Sapa seseorang
Alea menghentikan tangisnya lalu mendongakkan kepalanya ke arah orang yang menyapanya tadi
“Kakak,” gumam Alea dalam hati
“Kau menangis lagi ?” Ujarnya
Alea tidak menjawab
Dimas lalu duduk di samping Alea. Kemudian dia melepas masker biru yang menutupi separuh wajah Alea.
Alea kembali menangis sambil menundukkan kepalanya.
“Selama ini aku sudah menyarankanmu untuk pindah dari rumah dan tinggal bersama aku dan nenek ! Tapi kau masih bersi keras untuk tinggal di rumah. Kau tahu kan, Ayah dan Mama tidak akan bisa berubah ! Sekalipun kau memelas dihadapan mereka agar mereka tidak bertengkar percuma ! Dan kau tahu aku sudah pernah melakukannya !”
“Aku hanya ingin berkumpul bersama Ayah dan Mama, Kak ! Aku ingin seperti yang lain, tinggal bersama orang tua !”
“Untuk apa kau tinggal bersama orang tua jika itu hanya membuat batinmu tertekan ?”
Alea tak menjawab, ia terus saja menangis.”Biar saja mereka terus seperti itu. Yang terpenting jangan sampai masa depan kita rusak karena mereka ! Kita harus jadi lebih baik dibanding mereka ! Masih ada aku dan nenek sebagai keluargamu yang akan menyayangi dan menjagamu ! Kau tak perlu khawatir !”

***
Pukul 19.00.
Alea baru sampai di rumah dengan matanya yang masih sembab. Suasana rumah hening dan sepi. Entah kemana orang tuanya. Tiba-tiba Ayah dan Mamanya muncul dari dalam kamar dengan secarik kertas lalu menghampiri Alea yang masih berdiri di ruang tivi.
“Maafkan Mama !” Ujar Mama seraya memeluk Alea
“Maafkan Ayah !” Ujar Ayah pula seraya memeluk Alea
Alea bingung mendapati sikap orang tuanya yang lain dari biasanya itu.
Kedua orang tuanya lalu melepaskan pelukannya pada Alea.
“Kami sudah memutuskan untuk berpisah !” Kata Mama sambil menyodorkan secarik kertas berisi pernyataan cerai itu pada Alea
Alea menitikkan air mata sambil menerima kertas itu.
“Mungkin ini yang terbaik untukmu dan Dimas ! Mulai hari ini kalian tidak akan tertekan lagi dengan pertengkaran kami, terserah kamu mau ikut Ayah, Mama, atau Kakakmu. Yang jelas kami tetap menyayangimu dan kakakmu !” Terang Ayah yang selama ini hampir tak pernah bicara dengannya.
“Masa depanmu dan Kakak harus lebih baik dari kami ! Tak usah khawatir meskipun orang tuamu berpisah, kau tetap harus melanjutkan hidupmu !” Tambah Mama
Kekhawatiran Alea selama ini terjadi juga akhirnya. Ia pikir dengan tetap bertahan di rumah dan menjadi anak yang baik dapat mencegah orang tuanya berpisah. Tapi ternyata kedua orangtuanya tetap tak bisa bersatu.
Alea menangis sepanjang malam meratapi perpisahan orang tuanya. Lantas dia terfikir, bahwa ia harus melanjutkan hidupnya seperti pesan orang tuanya. Dia tetap ingin menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya meskipun mereka sekarang tak lagi bersama.
Akhirnya, pukul setengah 3 pagi ia menelpon kakaknya.
“Kak, besok siang sepulang sekolah jemput aku ! Bantu aku mengemasi barang-barangku di rumah. Aku memutuskan untuk tinggal bersamamu !”
“Baik, besok aku akan menjemputmu !”
Alea lalu mematikan telponnya dan beranjak ke peraduan. Menanti esok yang lebih baik untuknya, untuk kakak, dan orang tuanya.

Ampelgading, 26 Desember 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s