Karya Tulis

Diary Ana

Oleh Nia Nayajomis

Tak terasa tahun 2018 tinggal lima hari lagi. Hujan gerimis sepanjang hari menjadi ciri khas yang otentik di bulan Desember ini.
Meskipun begitu ada banyak bonus hari libur bagi seluruh umat yang mengabdikan diri di segala institusi.
Tak terkecuali Dian. Malam tadi dia menyaksikan tim bola favoritnya bertanding hingga pagi, padahal hari ini adalah hari senin. Hari kerja. Meskipun banyak orang hari ini libur bekerja, tidak dengan Dian. Institusi tempat ia bekerja memutuskan tidak libur hari ini. Maklum, di setiap kalender memang tidak sama, tanggal 24 ada yang merah alias libur dan ada yang tidak.
Waktu baru menunjukkan pukul setengah 6 pagi, meskipun mata sebenarnya masih ingin dipejam tapi raga memaksa Dian untuk beranjak dari peraduan.
Sebelum pergi ke kamar mandi, ia menyempatkan diri memeriksa ponselnya yang ia charger entah mulai jam berapa semalam.
Tak ada whatsapp apapun dari Ana. Dia terakhir aktif pukul 8 malam. Pesan terakhir Ana hanya menanyakan apakah Dian sudah makan. Dan Dian hanya menjawab sudah.
Kebetulan sekali begitu pesan balasan itu terkirim ponsel Dian langsung mati karena batreynya habis. Maklum, seharian kemarin Dian sibuk pergi memancing ke Pantai Sendang Biru dan dia lupa tak membawa charger sehingga meskipun batreynya tinggal sedikit ia biarkan hingga padam.
Dian lalu bergegas mandi, kemudian siap-siap dan sarapan lalu berangkat bekerja. Di perjalanan menuju tempatnya bekerja tanpa sadar ia memikirkan sikap Ana yang agak berbeda akhir-akhir ini. Gadis yang biasanya banyak bicara ini sekarang jadi agak pendiam. Dan anehnya lagi meskipun dirinya seharian tak memberi kabar, Ana juga tak menghubunginya sama sekali. Padahal biasanya, ia tak segera membalas pesan whatsappnya saja, Ana sudah menerornya dengan pesan-pesan tuduhan yang membosankan.
Akhirnya, Dian memutuskan untuk meminggirkan laju kendaraannya dan berhenti sebentar. Dia ambil ponsel di saku celananya, lalu mengirimkan pesan ke Ana bahwa ia akan datang ke rumahnya sore nanti sepulang bekerja. Setelah itu, Dian kembali melanjutkan perjalanannya.
20 menit kemudian, Dian tiba di tempat kerjanya. Setelah memarkir motor CBnya, dia lantas membuka ponsel dan menemukan satu pesan whatsapp dari Ana. Ketika ia buka pesan itu hanya berisi tulisan ‘oke’. Tidak kurang dan tidak lebih. Dian menghela nafas, lalu mematikan ponselnya dan bergegas masuk ke dalam kantor.
***
Pukul 15.45. Dian melajukan motornya ke arah rumah Ana yang berada cukup dekat dari tempatnya bekerja. Kurang lebih lima belas menitan waktu yang harus ia tempuh.
Sampai di rumah Ana, Dian langsung disambut oleh gadis berbaju biru berkrah peterpan yang sudah berdiri di teras rumah. Setelah memarkir sepeda, Dian langsung menghampiri gadis itu. Gadis itu langsung mencium tangan Dian begitu sampai di hadapannya.
“Mas Dian langsung kesini dari kantor ?” Tanya Ana
“Iya,” balas Dian agak canggung mendapati ekpresi Ana yang jauh berbeda dari yang ia bayangkan sejak pagi
” Ya sudah, kalau begitu Mas Dian tunggu sini dulu. Ana siapkan makan di dalam”
“Oke”
Ana pun lantas masuk ke dalam rumah. Sementara Dian duduk di bangku yang telah tersedia di teras rumah bercat putih itu. Melihat ponsel bermerk oppo tergeletak di meja sendirian, Dian lalu menyambar ponsel yang tidak lain dan tidak bukan pasti milik Ana itu.
Dian langsung membuka kuncinya yang hanya digeser dipermukaan layarnya, kemudian dia mulai menyisir seisi ponsel ditangannya itu.
Ketika membuka aplikasi facebook, ada satu notifikasi. Lalu Dian membukanya. Tertulis notifikasi “Anda memiliki 6 simpanan yang belum dibuka, termasuk …” di urutan teratas.
Dian buka notifikasi yang membawanya ke kiriman-kiriman pengguna facebook lain yang muncul di beranda facebook itu yang sengaja disimpan secara pribadi oleh Ana.
Hampir keseluruhan isi dari kiriman tersimpan itu berjudul ‘ Tere Liye’ tapi ada beberapa juga yang berjudul lain.
Dian susuri sampai ke urutan yang paling bawah. Barulah dia mulai membuka satu demi satu kiriman tersimpan itu.

‘Menerima seseorang menjadi bagian hidup kita adalah pekerjaan yang tidak mudah.
Butuh proses, butuh keyakinan, butuh keberanian.
Tapi ada yang lebih berat lagi. Melepaskan seseorang yang selama ini menjadi bagian hidup kita, yang kita akhirnya tahu melepaskannya adalah pilihan terbaik untuk semuanya – Tere Liye’

Begitulah kiriman tersimpan pertama yang Dian baca, lalu ia mulai membacanya lagi satu demi satu setiap kiriman tersimpan itu ke urutan teratas

‘Selalu ada alasan terbaik kenapa sesuatu itu terjadi, meski itu menyakitkan, membuat sesak dan menangis.
Kita boleh jadi tidak paham kenapa itu harus terjadi, kita juga mungkin tidak terima, tapi Tuhan selalu punya skenario terbaiknya.
Jadi, Jalanilah dengan tulus. Besok lusa, semoga kita bisa melihatnya, dan tersenyum lapang. – Tere Liye’

‘Kita bisa menipu orang lain. Membungkus kesedihan dengan senyuman. Membungkus kesendirian dengan gelak tawa. Bisa. Tapi tidak bisa menipu diri sendiri.
Seperti itu emang bisa menyelamatkan (sementara) hubungan. Tapi hanya kejujuran yang membuat hubungan awet hingga mati. – Tere Liye’

‘Ketika tidak ada lagi yang bisa kau buat,
begitu banyak usaha terbaik dilakukan,
maka saatnya untuk bersabar.
Dengan sungguh bersabar,cepat atau lambat,
keajaiban akan tiba.
Dan ketika tiba,
dia datang tak tertahankan,
bahkan tembok paling keras pun runtuh. – Tere Liye’

‘Mulailah menerima dengan lapang hati. Apapun yang terjadi.
Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi.
Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka.
Terjemahkan bahkan basa basi menyapa pun tidak. Tidak peduli. – Tere Liye’

‘Ada masanya kita hanya butuh diam. Tidak bicara apapun,
tidak bicara dengan siapapun.Cukup direnungkan dalam-dalam.
Kemudian kita akhirnya paham banyak hal. – Tere Liye’

‘Ketika seseorang membuat kita menunggu,
itu berarti ada hal yang lebih penting
yang dia urus dibanding kita.
Selalu begitu.
Karena kalau kita memang penting,
amat berharga,
dia tidak akan pernah membiarkan kita menunggu.
Dan sama,
ketika kita merasa
seseorang itu penting,
kita juga tidak akan pernah membiarkan dia menunggu
sedikit pun. – Tere Liye’

Tiba-tiba Ana muncul dan membuat Dian yang tengah hanyut dalam kata-kata simpanan Ana di ponselnya itu terkejut
“Ayo kita makan dulu Mas ! Aku cuma masak sayur asem dan bikin bakwan hari ini !”
“Iya, nggak papa !”
Dian lalu menaruh ponsel kepunyaan Ana itu di meja, lalu beranjak ke dapur bersama Ana yang telah berjalan mendahuluinya
“Tak ada orang sepertimu, Ana !” Gumam Dian dalam hati sembari menatap Ana yang berjalan membelakanginya.

Ampelgading, 25 Desember 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s