Karya Tulis

Ratna Manggali

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 11

Tapi tiba-tiba sebuah sinar putih bergerak cepat menembus dada Ratna Manggali. Dia terdorong dan melepaskan cekikannya dari leher Bahula.
Ratna Manggali juga memuntahkan sepercik darah dari mulutnya. Seketika itu pula aura gelap di dalam diri Ratna Manggali menghilang. Dan wabah penyakit yang menyerang rakyat Daha musnah saat itu juga.
Melihat istrinya memuntahkan darah, Bahula khawatir dan segera menghampiri istrinya.
Tapi Ratna Manggali malah mendorong Bahula agar menjauhinya.
Mengetahui Mpu Barada yang menyerangnya tadi, Ratna Manggali mencoba memanfaatkan kekuatannya untuk membalas serangan itu. Tapi mendadak semua kemampuan dan kekuatannya menghilang. Dia kebingungan mendapati kekuatannya menghilang.
“Apa lagi yang akan kau lakukan Ratna Manggali ?” seru Raja Airlangga dari singgah sananya
Ratna Manggali membalikkan tubuhnya melihat ke arah pempimpin tanah Daha yang berada kira-kira sepuluh meter dari tempatnya berdiri itu.
“Aku ? Aku akan menuntut keadilan atas diriku pada kalian semua!” teriak Ratna Manggali penuh amarah
“Keadilan apa yang kau inginkan ? Kami tidak memiliki urusan dengan dirimu !” ujar Raja Airlangga
“Apa ? Kau bilang kalian semua tidak memiliki urusan denganku ? Lalu apa kematian ibuku tidak ada kaitannya dengan diriku ? Dan bagaimana dengan Bahula yang kau jadikan alat untuk menumbangkan ibuku dengan menikahiku ?”
Sejenak suasana hening
“Bagaimana ? Apa menurut kalian perempuan sepertiku memang pantas dijadikan korban dalam misi politik seperti yang telah kalian lakukan ?”
Kata-kata Ratna Manggali tadi seolah membungkam sekaligus menyadarkan semua punggawa istana Daha atas dampak dari kematian Calon Arang, perempuan yang selama ini dicap sebagai penjahat itu. Dimana cara yang mereka gunakan untuk menyingkirkan Calon Arang, tanpa mereka sadari telah menyakiti seseorang yang tidak bersalah.
Pernyataan-pernyataan Ratna Manggali tadi lebih menyentuh lagi pada diri Mpu Barada. Dialah yang mencetuskan cara untuk mengalahkan Calon Arang dengan menikahkan Ratna Manggali dan Bahula. Betapa berdosa dirinya telah mengorbankan perasaan perempuan itu.
“Jawab aku ! Adakah diantara kalian yang memikirkan diriku ? Setidaknya memikirkan perasaanku ?”
Tak ada satupun yang bersuara. Semua orang terbungkam atas kesalahan yang tanpa sengaja mereka lakukan.
“Bahula ? Jawab aku ! Tidakkah kau terbersit di dalam hatimu bagaimana perasaanku atas apa yang kau lakukan padaku ? Kau berpura-pura mencintaiku semata-mata untuk melancarkan kepentinganmu ?”
Bahula tidak bisa berkata apapun selain merasa bersalah. Karena apa yang ia duga selama ini benar-benar terjadi sekarang.
“Kalian benar-benar kejam ! Lagi-lagi perempuan yang menjadi korban kekejaman politik ! Jika kalian mengecap ibuku sebagai penjahat di negeri ini, justru di dalam diri kalian sendirilah jiwa penjahat itu ada !” umpat Ratna Manggali seraya meneteskan air mata
“Ratna Manggali, ” ujar Mpu Barada sambil berjalan dari kerumunan prajurit mendekat ke tempat Ratna Manggali berdiri
Ratna Manggali mengalihkan pandangannya pada laki-laki tua itu.
“Kau tidak perlu menuntut keadilan pada Raja Airlangga, Bahula atau siapapun di negeri ini atas apa yang telah kau alami kecuali kepada diriku. Akulah yang merencanakan cara untuk mengalahkan mendiang ibumu dengan mengawinkanmu dan Bahula. Aku meminta maaf padamu dengan setulus hatiku karena telah mengorbankan perasaanmu yang tulus! Kau berhak menuntut keadilan padaku, aku bersedia menerima hukuman apapun yang kau limpahkan padaku !” ujar Mpu Barada sambil mengatubkan kedua tangannya.
Ratna Manggali tidak membalas perkataan Mpu Barada. Hanya derai air mata yang kian deras yang tampak di wajah Ratna Manggali.
“Ratna Manggali, jika kau tak sanggup menentukan hukuman apa yang pantas untukkku untuk menebus dendammu, izinkan Raja Airlangga yang menghukumku !” tutur Mpu Barada lagi
Ratna Manggali masih tidak bergeming. Dia diam dengan sekian kenestapaan yang nampak diwajahnya.
“Prabu, dengan segenap keikhlasan hatiku, aku memohon padamu jatuhkan hukuman yang setimpal padaku atas kesalahan yang telah kuperbuat pada Ratna Manggali !” pintah Mpu Barada pada Raja Airlangga
Raja Airlangga tampak enggan menanggapi hal tersebut. Ia pun dirundung gundah atas pernyataan tuntutan yang dilontarkan oleh Ratna Manggali sebelumnya.
Demikian Bahula, ia juga dilanda gundah gulana atas pernyataan tuntutan Ratna Manggali tadi. Dia tidak dapat memikirkan hal lain selain rasa bersalahnya yang begitu besar pada perempuan yang sangat ia cintai itu.
***
Suara gemricik air sungai yang mengalir menerjang bebatuan itu tetdengar begitu menyegarkan. Kabut tipis yang mengitari sekitaran aliran sungai pagi itu menambah keheningan suasana. Ratna Manggali duduk di atas sebuah batu besar di tepi sungai tersebut. Ia menumpukan kepalanya di atas kedua belah tangannya yang berada di atas lututnya yang duduk menyiku.
Matanya yang sembab menandakan jika perasaannya belum baik karena peristiwa kemarin.
Hatinya belum bisa mengikhlaskan dendam pasca kematian ibunya itu meskipun ia telah meminta Raja Airlangga agar tidak mengabulkan permohonan Mpu Barada yang meminta untuk dihukum. Dan menyatakan cukup dengan kesadaran yang telah dirasakan semua punggawa istana setelah tahu bagaimana dirinya yang tersakiti.
Dari jauh, Bahula memperhatikan Ratna Manggali yang tengah muram di tepi sungai itu. Ia tak berani mendekatinya. Bahkan setelah peristiwa di balairung istana kemarin ia tak turut pulang bersama Ratna Manggali ke kediamannya di Girah. Ia sengaja membiarkan Ratna Manggali sendiri karena dirinya terlalu merasa bersalah untuk berhadapan dengan Ratna Manggali. Tapi meski begitu ia tetap memperhatikan istrinya itu dari kejauhan dan mencoba menjalani hidupnya dengan normal meskipun perasaannya dirundung gundah.
Sementara itu, suasana di kerajaan Daha kembali aman dan tentram seperti sedia kala. Semua punggawa istana mulai raja hingga pejabat dengan tingkatan terendah dan seluruh rakyat Daha kembali beraktivitas seperti semula.
***
Bersambung
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s