Karya Tulis

Ratna Manngali

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 10

Bahula dan Mpu Barada mengurung Ratna Manggali yang masih belum sadarkan diri itu didalam jeruji besi istana yang sudah dimantrai oleh Mpu Barada agar Ratna Manggali tidak dapat melarikan diri.
Selagi menunggu Ratna Manggali siuman, Bahula dan Mpu Barada yang duduk di depan jeruji besi itu membicarakan tentang kekuatan yang dimiliki Ratna Manggali yang muncul secara instan itu.
“Mungkinkah hati putih Ratna Manggali telah terlepas dari dalam dirinya ?” duga Mpu Barada
“Kenapa tidak kita pastikan saja sekarang Mpu ?” tukas Bahula
“Baiklah,”
Mpu Barada bergegas masuk ke dalam jeruji besi dimana Ratna Manggali terkapar tak sadarkan diri. Langkahnya diikuti oleh Bahula.
Begitu sampai di dalam jeruji besi itu, Bahula langsung memposisikan tubuh Ratna Manggali duduk kemudian Mpu Barada langsung melakukan tujuannya yaitu memeriksa hati putih Ratna Manggali.
Mula-mula ia membaca mantra untuk membuka mata batinnya. Setelah itu ia menotok bagian tengah punggung Ratna Mamggalih.
Dalam kegelapan mata Mpu Barada yang tertutup itu, dia tidak dapat melihat apapun selain kegelapan. Itu berarti hati putih Ratna Manggalih telah terlepas dari tubuhnya.
Tiba-tiba tubuh Ratna Manggali bergerak. Ratna Manggali terbangun dan ia langsung menggerakkan tangannya untuk mencekik Bahula. Sementara Mpu Barada segera menolong Bahula namun tak diduga Ratna Manggali juga menyerangnya dalam waktu yang bersamaan.
“Lepaskan aku Ratna Manggali ! Aku suamimu, Bahula !” pekik Bahula
Ratna Manggali tidak bergeming, dia terus mencengkram leher Bahula dengan erat.
Lagi-lagi Mpu Barada harus melumpuhkan Ratna Manggali. Tepat di tiga titik saraf kesadarannya Mpu Barada menotoknya dan dalam beberapa detik Ratna Manggali kembali pingsan.
“Tak ada waktu lagi, Ratna Manggali semakin menggila. Dirinya telah dipenuhi kebencian dan kegelapan. Kita harus segera mengembalikan hati putihnya !”
“Kemana kita mencarinya ? Dewi Durga ?” tanya Bahula
“Tepat sekali !”
Mpu Barada kemudian bangkit dan bergegas keluar dari jeruji besi itu. Diikuti oleh Bahula, tak lupa ia kembali menutup dan mengunci jeruji besi itu.
***
Mpu Barada dan Bahula pergi ke halaman belakang istana yang sunyi dan sepi. Di tengah halaman yang diselimuti rumput yang indah dan tanaman hias itu Mpu Barada melakukan melakukan sebuah ritual sederhana untuk memanggil Dewi Durga.
Beberapa mantra ia pergunakan untuk mengundang sang Dewi. Tak berapa lama suasana menjadi dingin dan ketika Mpu Barada membuka matanya yang ia pejamkan selama ritual pemanggilan, muncullah sosok perempuan ayu yang memgenakan busana dengan dominasi warna merah.
Sementara itu, Bahula yang berdiri kira-kira sepuluh meter dari tempat Mpu Barada terdiam memperhatikan apa yang akan dilakukan Mpu Barada begitu bertemu dengan Dewi begitu
“Aku tak perlu berbasa-basi padamu Dewi, kau pasti tahu apa tujuanku memanggilmu datang kemari !” ujar Mpu Barada
“Iya, aku tahu ! Kau ingin mengambil hati putih Ratna Manggali kan ?” sambung Dewi Durga
Sejenak suasana hening,
“Tapi apa kau tidak berfikir kenapa Ratna Manggali menyerahkan hatinya yang putih padaku ?” kata Dewi Durga lagi
Pertanyaan Dewi Durga itu begitu menohok Mpu Barada. Lebih-lebih Bahula
“Kau tidak tau alasan Ratna Manggali yang baik itu menjadi demikian kejamnya ? Aku rasa kalian perlu mencari tau alasan tersebut. Rasanya akan sia-sia saja aku mengembalikan hati putih Ratna Manggali jika setelah ini keadaan rumah tanggamu tidak berubah Bahula !”
Dewi Durga mengeluarkan sebuah benda bercahaya dari telapak tangannya.
“Aku berikan hati putih Ratna Manggali ini padamu Mpu Barada, semoga kau dapat menyelesaikan masalah ini dengan bijak !” kata Dewi Durga sambil memberikan benda bercahaya itu pada Mpu Barada.
Setelah Mpu Barada menerimanya, Dewi Durga menghilang.
Belum selesai rasa penasaran Mpu Barada dan Bahula atas pernyataan-pernyataan Dewi Durga itu, tiba-tiba terdengar keributan dari dalam istana. Kedua laki-laki beda generasi itu segera memeriksa ke dalam istana atas keributan yang mereka dengar dari halaman.
Begitu mereka sampai di dalam istana, tampak para dayang berlarian meninggalkan istana sementara prajurit istana berlarian ke arah sebaliknya.
Bahula dan Mpu Barada yang masih menggenggam hati putih Ratna Manggali itu berjalan mengikuti para prajurit itu untuk mengetahui dimana asal keributan itu.
Di tengah perjalanan, seorang prajurit melaporkan pada Bahula jika Ratna Manggali kabur dari penjara.
“Dimana Ratna Manggali sekarang ?” tanya Bahula
“Dia sekarang menuju balairung istana Tuan Patih !”
Bahula dan Mpu Barada pun sesegera mungkin menuju balairung.
Suasana kian ribut mendekati balairung istana. Bahula membela krumunan prajurit di pintu masuk balairung itu. Tampak Ratna Manggali menyeret leher Senopati Danur ke hadapan Raja Airlangga yang duduk di singgah sananya.
Kemudian dengan mudahnya Ratna Manggali menghempaskan Senopati Danur yang babak belur itu.
“Ratna Manggali !” teriak Bahula geram
Ratna Manggali yang membelakangi Bahula pun menoleh.
“Apa yang kau inginkan hingga kau membuat keributan seperti ini ?” tanya Bahula sembari memghampiri Ratna Manggali
“Semua yang telah membunuh ibuku !” balas Ratna Manggali penuh emosi
Kemudian tangan Ratna Manggali mencengkram erat leher Bahula.
Dengan tatapan penuh kebencian perempuan itu mencekik Bahula. Semua orang yang ada di tempat itu menatap miris melihat tindakan Ratna Manggali. Mereka tidak ada yang berani melawannya. Sementara Raja Airlangga juga tidak bisa memberi titah apapun pada pasukannya untuk melawan putri mendiang Calon Arang itu. Karena tak ada daya yang mampu menandingi kekuatan Ratna Manggali kecuali dengan tipu muslihat.
***
Bersambung
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s