Karya Tulis

Ratna Manggali

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 9

Tepat tengah hari, Bahula tiba di rumah. Ketika ia menengok ke kamarnya, seperti biasa Ratna Manggali tengah duduk termenung di atas ranjang sambil memandang ke luar jendela.
Setelah itu Bahula pergi ke dapur untuk melakukan santap siang.
Kemudian Bahula masuk kembali kamar untuk mengambil pakaiannya sebelum ia pergi untuk mandi.
Ketika tengah memilih pakaian ia tak sengaja menjatuhkan kotak berisi kepeng emas kepunyaannya dan Ratna Manggali. Sontak kepeng emas itupun berserakan di lantai kamar. Beberapa diantaranya ada yang masuk ke kolong tempat tidur. Saat memungut kepeng emas di bawah kolong tempat tidur itulah, Bahula tanpa sengaja melihat caping dan sebuah kain lusuh.
Bahula terkejut saat itu juga, tapi dia berusaha menyembunyikannya karena saat itu Ratna Manggali tengah berada di ruangan itu.
“Caping ?” Gumam Bahula dalam hati
Bahula teringat cerita Bi’ Darmi semalam yang mengatakan jika dia melihat bayangan seorang perempuan yang mengenakan caping masuk ke dalam rumah. Bahula kemudian buru-buru membereskan kepeng emas di kolong tempat tidur itu.
Setelah selesai, ia pun bergegas meninggalkan kamar itu.
***
Setelah melihat caping dan kain lusuh di kolong tempat tidurnya, Bahula menjadi kian gelisah. Dia duduk di ruang tamu sambil memikirkan masalah tersebut. Dalam diam dia tidak habis fikir, kenapa Ratna Manggali sampai melakukan tindakan sesat seperti itu. Bahula menduga ada unsur sakit hati dan balas dendam dalam tindakan Ratna Manggali ini.
Renungan Bahula buyar begitu melihat Ratna Manggali keluar dari kamarnya dan pergi entah kemana.
Saat itu juga, Bahula berinisiatif untuk mengambil dua benda misterius di kamarnya itu.
Cepat-cepat ia masuk ke dalam kamarnya. Tapi, ketika dia hendak menundukkan badannya tiba-tiba ada seseorang yang menjerat lehernya.
” Arrrghh!”
seseorang entah siapa membelit leher Bahula dengan sehelai rotan dan menyeret tubuhnya di ruangan itu.
Bahula berusaha melepaskan diri dari jeratan rotan yang mencekik lehernya itu.
Dari dengusan nafas orang yang membelit lehernya dengan rotan itu, Bahula menduga dia adalah seorang wanita. Tapi tenaganya begitu kuat seperti laki-laki.
“Siapa kau ?” Tanya Bahula di tengah kepayahannya menahan jeratan rotan itu
Tak ada jawaban, yang ada hanya dengusan nafas yang beraroma dendam dan kebencian.
Bahula diseret keluar dari ruangan tersebut. Ketika sampai di depan pintu, tiba-tiba muncul Mpu Barada yang langsung menyerang orang yang menjerat Bahula itu. Seketika rotan yang menjerat leher Bahula itu terlepas.
“Arrrgh !” Erang Bahula yang kepayahan begitu tubuhnya terhempas
Saat itulah Bahula mengetahui siapa yang menjeratnya dengan rotan tadi. Seorang wanita beraura wajah gelap dengan rambut terurai yang tak asing di mata Bahula selama ini. Yah, wanita itu adalah wanita yang menerornya di dalam mimpi. Lebih tepatnya lagi dia adalah Ratna Manggali.
Mpu Barada pun bertarung melawan Ratna Manggali.
Mpu Barada tidak menyangka jika seorang Ratna Manggali memiliki kemampuan bela diri semahir itu. Apalagi jurus-jurus yang dia gunakan juga sangat baik. Sambil terus menangkis serangan dari Ratna Manggali, Mpu Barada memperhatikan jurus-jurus bela diri yang digunakannya.
Setelah merasa dirinya lebih baik, Bahula segera membantu Mpu Barada untuk mengalahkan Ratna Manggali.
Bertubi-tubi serangan Bahula dan Mpu Barada dilancarkan pada Ratna Manggali, membuatnya kewalahan. Menyadari dirinya mulai terjepit, Ratna Manggali pun berinisiatif untuk segera melarikan diri.
Ratna Manggalih mengeluarkan ajian brajamusti untuk dapat mengalihkan serangan Mpu Barada dan Bahula.
Mengetahui Ratna Manggali mengeluarkan ajian tersebut, kedua laki-laki itu segera menghindar. Mereka tahu benar ajian yang digunakan Ratna Manggali itu bukan ajian biasa.
“Darrr !”
Ajian braja musti itu menyambar lantai rumah yang terbuat dari kayu. Membuat lantai kayu dan tanah di bawahnya luluh lanta.
Bersamaan dengan itu, Ratna Manggali pun bergegas melarikan diri.
Sementara itu Mpu Barada dan Bahula berusaha mengejar Ratna Manggali keluar rumah tapi tak sampai.
“Luar biasa sekali Ratna Manggali memiliki kemampuan bela diri seperti itu !” Ungkap Bahula
“Ratna Manggali telah menguasai ilmu-ilmu dalam kitab sihir milik mendiang ibunya !” Tukas Mpu Barada
“ilmu dari kitab sihir Calon Arang ?” Tanya Bahula
“Benar, ajian braja musti adalah salah satu ajian yang ada di kitab itu !” Terang Mpu Barada
“Tapi bagaimana Ratna Manggali bisa menguasai kitab sihir itu jika kitab tersebut masih ada padamu Mpu ?” Tanya Bahula
“Itulah yang aku juga tidak tahu. Kitab tersebut masih ku simpan dengan rahasia di perpustakaan istana. Kalau tidak ada salinannya Ratna Manggali tidak akan mungkin dapat mempelajarinya !”
“Mungkinkah kitab tersebut memiliki salinan ? Jika iya, berarti Calon Arang tidak cukup cerdik dalam menjaga kerahasiaan ilmunya !”
“Bisa jadi, itu tidak menjadi masalah penting sekarang ! Sekarang kita harus menemukan Ratna Manggali sebelum dia bertindak lebih jauh lagi !”
“Iya Mpu !”
***
Bahula segera melaporkan ke istana Kerajaan Daha jika telah terjadi teror keamanan yang dilakukan Ratna Manggali, dimana dia menculik bayi-bayi laki-laki yang baru lahir. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk lagi yang bisa dilakukan Ratna Manggali, mengingat keadaan ini sama dengan saat Calon Arang masih hidup, Bahula meminta Raja Airlangga untuk memerintahkan semua prajurit memperketat keamanan di seluruh wilayah kerajaannya. Sementara Bahula sendiri bersama Mpu Barada mencari keberadaan Ratna Manggali untuk mencegah Ratna Manggalih berbuat sesuatu yang lebih buruk lagi.
Tapi di luar kendali, tiba-tiba muncul wabah penyakit yang menyerang seluruh penduduk di seantero Daha. Bahkan punggawa istana Daha juga tidak luput dari serangan penyakit yang mirip dengan malaria ini.
Bahula dan Mpu Barada pun kalang kabut mencari keberadaan Ratna Manggali yang nyaris tak meninggalkan jejak itu.
Pasalnya, sudah dapat dipastikan jika dalang dibalik semua ini adalah Ratna Manggali yang bermetamorfosa menjadi Calon Arang.
“Apakah ada keterlibatan pihak lain yang menjadikan Ratna Manggali seperti itu Mpu ?” tanya Bahula ketika ia berjalan beriringan dengan Mpu Barada meninggalkan istana setelah menghadap Raja Airlangga
“Tentu, Ratna Manggali adalah perempuan behati putih. Ia tidak akan memiliki kekuatan ilmu hitam seperti itu jika tidak ada yang melepaskan hatinya yang putih !” terang Mpu Barada
“Tapi siapa orang yang mempengaruhi Ratna Manggali Mpu ?”
“Semoga aku tak menemukan Dewi Durga terlibat dalam masalah ini “
“Dewi Durga ?”
“Iya, aku merasa Dewi Durga terlibat dalam masalah ini !”
“Dimana kita bisa menemukan Dewi Durga ?”
“Dimana kita bisa menemukan Ratna Manggali !”
Saat sampai di perkampungan penduduk, tiba-tiba para penduduk yang tadinya sibuk dengan kegiatannya di sepanjang jalan itu berlarian ke arah Bahula dan Mpu Barada berjalan. Dari kejauhan Bahula dan Mpu Barada melihat segerombolan penduduk mengerubung sesuatu sambil berjalan ke arah yang berlawanan dengan langkah Bahula dan Mpu Barada.
“Maaf, ada apa disana ? Kenapa orang-orang berbondong-bondo g ke sana ? ” tanya Bahula menghentikan langkah seorang perempuan yang hendak menghampiri gerombolan orang itu
“Ada seorang perempuan misterius Tuan, berjalan membawa sebuah buku. Bapak Kepala Desa mencoba mencari tau siapa dia tapi perempuan itu terus saja berjalan. Saya dan penduduk lainnya penasaran dengan perempuan itu . . . ” terang perempuan paruh baya itu
Tiba-tiba muncul ribuan serangga kecil yang buas menyerang gerombolan penduduk itu. Sontak penduduk yang lain pun segera pergi menyelamatkan diri dari serangan serangga kecil mematikan yang belum jelas dari mana asalnya itu.
Perlahan gerombolan orang tadi membubarkan diri dimana kebanyakan dari mereka tewas bergelimpangan digigit oleh serangga-serangga itu.
Sosok perempuan yang dikerubungi penduduk tadi pun terlihat dari kejauhan. Bahula dan Mpu Barada yang tidak enyah dari tempat itu masih berdiri di tempatnya semula. Mereka memperhatikan sosok wanita yang mengeluarkan serangga-serangga mematikan itu dari mulutnya sambil menengadahkan kedua tanggannya yang masih menggenggam sebuah buku di tangan kanannya itu.
Wajah perempuan itu masih belum terlihat jelas karena tertutup serangga-serangga yang keluar dari mulutnya. Baru setelah tak ada lagi penduduk di sekitarnya, perempuan itu berhenti mengeluarkan serangga mematikan tersebut. Dan barulah Mpu Barada dan Bahula dapat melihat dengan jelas perempuan itu
“Ratna Manggali . . .” ucap Mpu Barada dan Bahula hampir bersamaan
Keduanya pun lantas mendekati perempuan yang tidak lain Ratna Manggali itu.
“Hentikan tindakanmu Ratna Manggali !” teriak Bahula
Ratna Manggali yang berada beberapa meter dihadapan Bahula dan Mpu Barada berdiri itupun hanya membalas teriakan Bahula tadi dengan tatapan tajam yang menyiratkan dendam membara.
Ratna Manggali lalu membuka mulutnya lebar-lebar dan kembali mengeluarkan serangga buas mematikan itu untuk menyerang Bahula dan Mpu Barada.
Dua laki-laki itupun segera menghalau serangan serangga-serangga itu.
Mpu Barada mencoba memanfaatkan keadaan itu untuk menyerang Ratna Manggali secara mendadak. Dengan gerakan cepat, Mpu Barada menendang tubuh Ratna Manggali.
Kemudian Ratna Manggali pun terhempas dan serangga-serangga mematikan itu berhenti keluar dari mulutnya.
Mengetahui dirinya diserang, Ratna Manggali pun cepat-cepat bangkit dan segera membalas serangan Mpu Barada.
Dengan membabi buta Ratna Manggali menyerang Mpu Barada. Sampai ia lupa jika ada Bahula di tempat itu.
Bahula pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia langsung menangkap Ratna Manggali dengan mengikatnya pada seutas tali yang tak sengaja ia temukan di dekatnya.
Kemudian Mpu Barada menotok punggung Ratna Manggali, sehingga perempuan itu pingsan.
***
Bersambung
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s