Karya Tulis

Ratna Manggali

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 8

Menjelang tengah malam, terdengar suara ayam berkokok. Menurut mitos, kokok ayam itu adalah tanda jika anak-anak tengah tertidur dalam posisi yang sangat pulas.
Mendengar kokok ayam itu Bi’ Darmi lantas terbangun dan langsung ingin buang air kecil. Dia pun menyegerakan diri pergi ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah.
Area belakang rumah itu diterangi cahaya api dari obor yang di taruh berjajar di tepi halamannya yang cukup luas.
Setelah melakukan hajatnya dari kamar mandi, Bi Darmi berjalan meninggalkan kamar mandi. Ketika keluar dari kamar mandi dia melihat siluet seorang perempuan yang mengenakan caping berjalan masuk ke dalam rumah.
Seketika itu pula Bi’ Darmi terkejut sekaligus takut melihat penampakan tadi. Sembari meredam perasaannya yang bercampur aduk itu, Bi Darmi mencoba menerka-nerka sosok dari siluet perempuan tadi. Dia menduga mungkin sosok tadi adalah Ratna Manggali. Tapi kenapa tuannya itu mengenakan caping malam-malam begini. Mungkinkah Ratna Manggali habis dari bepergian ? Aneh sekali memang nyonya muda yang satu ini. Penuh misteri yang membuat penasaran. Tapi maklum saja, dia adalah putri mendiang seorang dukun sekelas, Calon Arang.
Bi’ Darmi yang masih dicekam perasaan takut itupun cepat-cepat masuk ke dalam rumah untuk mengecek siapa sosok dari siluet perempuan yang berjalan masuk ke dalam rumah tadi.
Bi Darmi berjalan mengendap-endap di dalam rumah itu. Ia menuju ruangan depan. Ia periksa dengan seksama di setiap sudut ruangan rumah itu. Meskipun sebenarnya ragu, dia memaksakan dirinya untuk membuka pintu kamar Ratna Manggali. Bukan bermaksud lancang, dia hanya ingin memastikan keberadaan perempuan muda yang dirundung duka sepanjang harinya itu.
Ketika akan membuka pintu kamar Ratna Manggali, Bi’ Darmi dikejutkan tepukan tangan di bahu kanannya.
“Ampun … ! Ampun ….!” Ucap Bi Darmi yang terkejut
“Ini saya Bi’ ” balas seorang laki-laki yang tidak lain adalah Bahula
“Saya kira siapa Tuan, sungguh saya sangat terkejut !”
“Apa yang Bibi’ lakukan ?”
“Saya hanya ingin memeriksa keberadaan Nyonya, Tuan. Tadi waktu dari kamar mandi saya melihat bayangan seorang perempuan mengenakan caping masuk ke dalam rumah. saya kira Nyonya, kalau bayangan yang saya lihat tadi memang Nyonya saya lega Tuan, tapi kalau hantu … aduhhh ngeri !”
“Perempuan mengenakan caping ? Masuk ke dalam rumah ini ?”
“Iya Tuan, saya melihatnya tadi ! sungguh !”
Bahula diam memikirkan sosok yang dibicarakan pembantunya itu
“Oiya, Tuan ini dari mana malam-malam begini ?” Tanya Bi’ Darmi
“saya dari mengikuti ronda keliling kampung tadi Bi’, baiklah mari kita tengok bersama-sama Ratna Manggali !” Ajak Bahula
Duk !
Pintu berbahan kayu itu terbuka begitu Bahula mendorongnya.
Dari ambang pintu, Bahula dan Bi’ Darmi menyaksikan Ratna Manggali tengah tertidur pulas di ranjangnya.
Setelah itu, Bahula kembali menutup pintu kamar tadi.
“Lalu siapa ya Tuan bayangan perempuan bercaping yang berjalan masuk ke dalam rumah ini tadi ? Apa itu hantu ? Hi . . . Ngerih !” Ujar Bi’ Darmi sambil bergidik
“Saya juga tidak tau pasti Bi’ tapi . . .”
“Tong . . . Tong . . . Tong . . .”
Suara kentongan dari balai desa yang tiba-tiba itu langsung memotong pembicaraan Bahula dan Bi’ Darmi
“Sepertinya telah terjadi penculikan bayi lagi, Bi’ jaga rumah baik-baik saya akan pergi ke balai desa !” Ujar Bahula
“Baik Tuan !”
Setelah itu, Bahula pun bergegas keluar dari rumahnya.
***
Sementara itu, di balai desa Girah sudah ramai oleh krumunan warga desa yang hendak menangkap pencuri bayi tadi. Kali ini, Bahula akan turut dalam kegiatan ini.
Mula-mula beberapa warga desa mendatangi rumah bayi yang dicuri itu. Untuk memeriksa jejak sang Pencuri bayi. Kemudian jika sudah ditemukan jejak sang Pencuri bayi pergi, barulah semua warga tadi beramai-ramai mencari sasaran.
Tapi dari sekian kasus pencurian bayi seperti malam ini, usaha warga desa Girah itu tidak ada yang membuahkan hasil. Tak ada yang dapat menemukan sang Pencuri dan bayi yang dicuri bahkan jejaknya sekalipun tidak.
Bahula turut memeriksa jejak sang Pencuri bayi itu di rumah korbannya tadi. Bahula susuri seisi dan sekeliling rumah korban pencurian bayi itu.
Setelah beberapa lama, Bahula menemukan sebuah petunjuk yaitu beberapa helai daun tebu yang mengering. Dimana daun itu tergeletak di belakang rumah korban. Janggalnya di sekitar rumah korban tidak ada kebun tebu. Jadi mana mungkin ada daun tebu di tempat itu jika tidak terbawa oleh seseorang yang kebetulan datang ke sana. Berarti kemungkinan besar daun tebu itu tak sengaja terbawa oleh sang Pencuri bayi saat datang tadi.
Akhirnya malam itu juga, Pencarian langsung di arahkan ke perkebunan tebu yang berada di barat daya desa.
Tapi, lagi-lagi pencarian menemukan jalan buntu. Karena di area perkebunan tebu itu, tak ditemukan lagi petunjuk. Sementara warga mulai putus asa dan meninggalkan lokasi pencarian, Bahula tidak demikian. Ia berketetapan hati pasti ada petunjuk di tempat sunyi yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat itu.
Keesokan harinya, Bahula mengajak Mpu Barada untuk mencari petunjuk tentang keberadaan si Pencuri bayi ulung itu di perkebunan tebu yang ia datangi bersama warga semalam.
Mpu Barada membaca mantra-mantra yang dapat membuka mata batin untuk melihat apa yang tidak bisa ia dan Bahula lihat di tempat itu.
“Bahula, kemarilah !” Pintah Mpu Barada setelah beberapa lama memejamkan mata sambil menyatukan kedua telapak tangannya dan melafalkan mantra-mantra yang entah apa isinya.
Setelah Bahula mendekat, Mpu Barada mengusap wajah Bahula dengan telapak tangannya. Begitu tangan Mpu Barada selesai mengusap wajah Bahula, Bahula langsung mencium bau busuk di tempat itu.
“Dari mana datangnya bau busuk ini Mpu ? Kenapa tiba-tiba muncul bau seperti ini padahal dari tadi kita berada disini aku tidak mencium bau apapun ?” Tanya Bahula
“Di sanalah asal baunya !” Balas Mpu Barada sambil menunjuk ke arah sebuah pohon kemenyan yang tumbuh di tengah hamparan tebu yang berdiri memagar di sekitarnya itu.
Bahula yang berdiri membelakangi pohon kemenyan itu segera membalikkan badannya. Bahula melihat ujung sebuah pohon yang rimbun diantara tebu-tebu yang berdiri menjulang dibawahnya itu. Pohon itu kira-kira berada 50 meter dari tempat Bahula dan Mpu Barada berdiri
“Ayo kita kesana !” Ajak Mpu Barada pada Bahula
Mpu Barada berjalan menuju pohon kemenyan itu menerobos sesaknya perkebunan tebu, diikuti oleh Bahula di belakangnya.
Sampai di sana tampak mayat bayi yang sudah tak karuan bentuknya karena sudah membusuk tergeletak di bawah pohon itu.
“Pohon inilah yang menyerap bau busuk mayat bayi-bayi ini Bahula, sehingga warga desa tidak dapat mengetahui keberadaannya meski mereka berada di tempat ini !”
“Lalu, sekarang dimana kita bisa menemukan si Pencuri bayi-bayi ini Mpu ?”
“Itu yang masih menjadi tugas besar kita. Sepertinya kita perlu memancingnya. Dimana ada bayi laki-laki yang baru lahir di desa ini ? Kita bisa memancingnya dengan itu !” Balas Mpu Barada
“Kalau tidak salah di depan rumah saya Mpu, ada seorang ibu yang baru melahirkan bayi laki-laki tadi pagi. Kita bisa melakukan misi ini malam ini juga !” Tukas Bahula penuh semangat
“Baiklah kalau begitu, ayo kita segera kembali ke desa dan mematangkan rencana ini !” Ajak Mpu Barada
“Ayo !”
Bahula dan Mpu Barada pun bergerak meninggalkan pohon kemenyan itu.
Saat berjalan menerobos batang-batang tebu yang kokoh itu tak sengaja Bahula menemukan robekan jarik yang tersangkut di batang tebu. Bahula menghentikan langkahnya sebentar untuk mengambil robekan jarik tersebut.
Dari motifnya, Bahula seperti mengenal robekan jarik yang lusuh terkena debu dan darah itu.
“Mungkinkah memang dia ?” Gumam Bahula dalam hatinya.
***
Bersambung
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s