Karya Tulis

Ratna Manggali

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 7

Setelah satu minggu cuti, Bahula kembali dengan rutinitas pekerjaannya sebagai patih kerajaan Daha. Hari pertama kembali ke Ibukota Bahula tidak langsung mengerjakan pekerjaannya. Setelah menghadap Prabu Airlangga, Bahula langsung ke tempat Mpu Barada.
Bahula menunggangi kudanya menuju sebuah rumah di dekat tempat ibadah di ibu kota. Begitu sampai, Bahula mengikat kudanya di pohon mangga di halaman rumah itu. Kemudian ia menghampiri rumah itu.
“Tok . . . Tok . . . Tok . . .” Bahula mengetuk pintu rumah berkonstruksi kayu itu.
Beberapa kali Bahula mengetuk pintu rumah itu. Namun belum ada yang menyahut dari empunya rumah.
Lantas Bahula pergi ke tempat ibadah yang terletak beberapa meter dari rumah tadi.
Ketika sampai disana dia bertemu seorang laki-laki berpakaian khas tokoh agama sedang berjalan keluar hendak meninggalkan tempat ibadah itu.
“Mpu Barada !” Sapa Bahula
Laki-laki berpakaian serba putih itupun langsung menghampiri Bahula yang berada beberapa meter dihadapanya.
“Bahula, apa kabar ? Sudah lama kita tidak bertemu” ujar laki-laki bernama Mpu Barada itu begitu sampai dihadapan Bahula
“Baik Mpu, bagaimana dengan Mpu sendiri ? Aku tadi mencari Mpu Barada di rumah, ternyata anda disini !”
“Akupun baik, ada apa kau datang mencariku Bahula ?”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, bisakah kita bicara di rumah Mpu saja ?”
“Oh, mari kita bicara di rumah !”
Kedua laki-laki itupun lalu berjalan beriringan menuju rumah yang dikunjungi Bahula tadi.
Sampai di sana, Bahula dipersilahkan duduk di sebuah pondok panggung di halaman belakang rumah Mpu Barada.
Keduanya duduk bersila saling berhadapan.
“Begini Mpu Barada, anda sudah tau kan jika istri saya, Ratna Manggali menjadi pemurung dan tidak acuh pada saya sejak ibundannya tewas ketika bertempur melawan saya tahun lalu. Mungkin saja dia mengganggap sayalah yang menewaskan ibunya. 2 bulan lalu saya pergi bertugas ke pulau Bali, setelah saya kembali ke Daha, saya terus diteror mimpi dibunuh oleh seorang wanita tidak dikenal
dengan aura gelap. Kemudian pembantu rumah tangga saya mengatakan jika Ratna Manggali semakin aneh sejak saya tinggal pergi ke Pulau Bali beberapa waktu lalu. Tepatnya sejak dia sering mandi ke sungai.
Dan sekarang beredar isu penculikan bayi laki-laki yang baru lahir di Desa Girah seperti semasa Calon Arang hidup !” Terang Bahula
“Aku bisa mengerti sikap Ratna Manggali yang demikian ini Bahula. Wanita manapun juga akan sama seperti dia jika mengalami peristiwa itu. Merasa kecewa dan dikhianati. Tapi aku yakin, Ratna Manggali adalah gadis yang baik sekalipun ibunya memiliki sifat yang kejam. Kau tidak berprasangka jika Ratna Manggali terlibat di dalam peristiwa-peristiwa yang kau temui ini kan ?” Tanya Mpu Barada
Bahula terdiam, lantas menundukkan kepalanya
“Mendengar ceritamu tadi aku berharap prasangkamu terhadap Ratna Manggali tidaklah benar, ” tambah Mpu Barada
“Aku pun berharap begitu Mpu, aku begitu mencintai dia dan berharap dia kembali seperti dulu ceria dan penuh kehangatan !”
“sepertinya kita perlu melakukan penyelidikan tentang kasus menghilangnya bayi di Desa Girah untuk membuktikan prasangka kita !”
“Aku setuju Mpu, aku akan memulainya terlebih dahulu malam ini !”
“Kutunggu kabar selanjutnya darimu,”
***
Bersambung
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s