Karya Tulis

Ratna Manggali

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 6

Selama seminggu ke depan, Bahula tidak bertugas di istana. Dia sudah meminta izin pada Raja Airlangga untuk cuti. Bahula ingin melepas rindunya pada Ratna Manggali, meskipun perempuan itu tidak mengacuhkannya.Malam pun tiba. Musim kemarau yang sudah berlangsung sejak sebulan lalu membuat langit malam semakin cerah dengan kerlap-kerlip bintang yang menghiasinya.

Setelah makan malam, Ratna Manggali langsung pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian, Bahula menyusulnya. Saat ia sampai di kamar, Ratna Manggali telah tertidur.

Bahula lantas turut meletakkan dirinya di samping Ratna Manggali yang tidur membelakanginya. Entah kenapa malam itu ketika Bahula mencoba memejamkan matanya, ia tak bisa. Padahal, biasanya ketika dia telah meletakkan diri diperaduan matanya langsung terpejam.

Bahula terus bergolek di atas tempat tidurnya hingga tengah malam.

Usai lewat tengah malam, rasa kantuk mulai merayapi kedua mata Bahula. Ketika dia baru  terlelap, mimpinya semalam kembali menghampiri.

Sesosok perempuan beraura gelap mendekatinya kemudian menghunuskan sebilah pisau ke dadanya. Begitu pisau itu menyentuhnya, Bahula langsung terbangun dengan terengah-engah.

Bahula mencoba mengingat-ingat wajah sosok perempuan yang hendak menikamnya dengan sebilah pisau itu. Di dalam mimpi tersebut, wajah perempuan itu tidak terlihat jelas. Sehingga Bahula tidak dapat mengenalinya.

Bahula kemudian bangkit dan duduk di samping Ratna Manggali yang telah terlelap. Kemudian Bahula memandang ke arah wanita yang menyinggungkan tubuhnya itu.

“Kenapa perasaanku kian gelisah berada di dekatmu Dinda, ?” Gumam Bahula dalam hati, kemudian dia kembali memposisikan dirinya seperti semula. Merebahkan diri lalu mulai memejamkan mata.

***

Keesokan harinya, kehidupan di rumah tangga Bahula dan Ratna Manggali berjalan seperti biasa, sunyi dan dingin. Karena terbangun akibat mimpi buruk semalam, keesokannya Bahula jadi bangun kesiangan. Saat itu, Ratna Manggali telah tak ada di dekatnya. Bahula lalu menanyakan keberadaan Ratna Manggali pada Bi’ Darmi.

Bahula melangkahkan kakinya ke arah dapur. Ketika sampai disana dia menemukan Bi’ Darmi tengah memasak.

“Selamat Pagi Tuan Patih, ” sapa Bi’ Darmi begitu mengetahui kehadiran Bahula di dekatnya

“Selamat pagi juga Bi’, dimana Ratna Manggali ?” Balas Bahula

“Nyonya sudah pergi ke sungai untuk mandi Tuan, ” jawab Bi’ Darmi

“Mandi di sungai ? Sejak kapan Ratna Manggali mandi ke sungai ?”

“Sejak Tuan pergi satu bulan yang lalu, ”

Bahula terdiam heran mengetahui istrinya sekarang gemar mandi di sungai. Padahal selama ini, Ratna Manggali sangat enggan bepergian keluar rumah.

“Tuan, ” tegur Bi’ Darmi menyadarkan lamunan Bahula

“I’iya Bi’, ada apa ?” Balas Bahula

“Nyonya menjadi aneh sejak sering mandi ke sungai Tuan, ” ujar Bi’ Darmi ragu-ragu

“Aneh bagaimana Bi’ ?” Tanya Bahula kemudian

“Aura wajah Nyonya menjadi lebih gelap Tuan, tidak seperti saat saya berjumpa pertama kali dengan beliau dulu !”

“Aura wajah gelap ?” Gumam Bahula dalam hati, kemudian dia teringat pada mimpinya semalam dimana dia hendak ditikam pisau oleh sosok wanita dengan aura gelap

“Mungkin wanita di dalam mimpi itu, Ratna Manggali ?” Kata Bahula pada dirinya sendiri

“Maaf Tuan, jika kata-kata saya lancang !” Ujar Bi’ Darmi

“Tidak Bi’ tidak papa !” Balas Bahula

***

Ketika hari telah kelewat siang, Ratna Manggali baru kembali ke rumah. Saat itu, Bahula sudah menunggunya di ruang tamu. Saat Ratna Manggali berlalu begitu saja Bahula segera menahannya.

“Tunggu, ” ucap Bahula menahan Ratna Manggali sambil menarik lembut lengan perempuan itu

Ratna Manggali pun menghentikan langkahnya.

“Kau dari mana ? Kenapa baru kembali ?” Tanya Bahula

“Kau tidak perlu tahu ! Sekarang lepaskan tanganku !” Balas Ratna Manggali tanpa melihat ke arah Bahula sedikitpun

“Tidak ! Sebelum kau menjawab pertanyaanku !” Kata Bahula sambil mencengkeram tangan Ratna Manggali lebih kuat

Ratna Manggali kemudian menghempaskan tangan Bahula dengan keras seketika cengkeraman tangan Bahula di lengan Ratna Manggali itupun terlepas.

Ratna Manggali kemudian masuk ke dalam kamarnya sambil menutup pintu dengan keras.

“Darrrr !”

Kali ini Bahula benar-benar merasakan ada yang aneh pada diri istrinya itu. Tapi dia belum bisa menyimpulkan keanehan apa itu.

***

Keesokan harinya, beredar kabar di seantero desa Girah, jika ada sepasang suami istri yang kehilangan bayi laki-lakinya yang baru berumur dua hari. Peristiwa yang sangat menggemparkan ini pun mengingatkan semua orang pada semasa hidup Calon Arang. Dimana bayi-bayi yang baru lahir hilang tanpa jejak.

Peristiwa itupun beruntun terjadi pada hari-hari berikutnya. Suasana mencekam pun kembali menyelimuti Desa Girah.

Semua orang menerka-nerka siapa pelaku kejahatan biadap itu. Mungkinkah Ratna Manggali karena di adalah putri Calon Arang ? Tapi semua orang mengenal Ratna Manggali adalah wanita berperangai baik meskipun Sang Ibu sebaliknya.

Sementara itu, mimpi buruk terus meneror Bahula setiap malam. Dia menaruh curiga pada Ratna Manggali yang memiliki aura gelap seperti perempuan di dalam mimpi yang hendak menikamnya dengan pisau itu.

Pernah suatu kali Bahula ingin membuktikan prasangkanya pada Ratna Manggali itu. Tapi tidak terbukti.

Saat Ratna Manggali telah terlelap, Bahula pura-pura tertidur juga. Diam-diam Bahula memperhatikan gerak-gerik wanita itu sepanjang malam. Siapa tahu ada yang mencurigakan. Tapi ternyata tidak terjadi sesuatu apapun yang mencurigakan.

Untuk menjawab rasa penasaran dan curiga atas mimpi buruk yang menerornya akhir-akhir ini, Bahula lantas pergi menemui Mpu Bharada di Ibukota.

***

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s