Karya Tulis

Ratna Manggali

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 3

Keesokan harinya, untuk pertama kali sejak kematian Calon Arang, Ratna Manggali beranjak dari kamarnya dan melakukan aktivitas.

Pagi itu, setelah menyantap makan pagi, Ratna Manggali dan Bi’ Darmi bergegas ke kamar terakhir di rumah itu untuk membersihkannya.

Ketika sampai di depan ruangan itu, Ratna Manggali menghela nafas panjang. Setelah itu, ia mendorong pintu ruangan tersebut untuk membukanya. Begitu pintu tersebut terbuka, tampak ruangan gelap gulita di dalamnya. Tak ada setitikpun cahaya yang menerangi ruangan itu. 

Seolah sudah hafal dengan seluruh bagian dari ruangan itu, Ratna Manggali berjalan lurus menembus kegelapan di dalam ruangan tersebut. Bi’ Darmi agak merinding melihat ruangan gelap itu apalagi melihat Ratna Manggali memasukinya.

“Brakkk !”

Ratna Manggali membuka daun jendela di ruangan itu. Seketika cahaya matahari di luar langsung menerangi se isi ruangan itu. Begitu jendelanya dibuka, tampak semua isi perabotannya yang tertata rapi.

Ratna masih berdiri mematung di depan jendela yang ia buka tadi. Sementara Bi’ Darmi yang masih berada di depan pintu berjalan memasuki ruangan tersebut.

“Cukup bersihkan saja Bi’, tidak perlu dirapikan atau ditata ulang !” Pintah Ratna Manggali masih dengan posisinya

“Baik Nyonya !”

Bi’ Darmi pun bergegas membersihkan ruangan yang hanya berisi perabot lemari berukuran besar itu.

Sedangkan Ratna Manggali bergegas mendekati sebuah lemari di sudut ruangan itu. Ketika lemari itu ia buka yang tampak adalah jajaran kitab tebal bersampul hitam yang entah apa isinya.

Iseng-iseng Ratna Manggali menggerakkan telapak tangannya menyisir jajaran kitab tersebut. Lantas ia tergerak untuk mengambil salah satu kitab tersebut.

Entah kebetulan atau tidak ketika ia lihat kitab yang ia ambil adalah salinan kitab mantra ilmu sihir yang dicuri oleh Bahula dulu.

“Bagaimana mungkin kitab itu memiliki salinan ? Bukankah ibu begitu menjaga kerahasiaan ilmu-ilmu sihir yang ia miliki ?” Gumam Ratna Manggali dalam hati

Ratna Manggali lalu mengembalikan kitab terebut ke tempatnya semula. Lantas ia pergi meninggalkan ruangan tersebut dan Bi’ Darmi yang tengah bersih-bersih.

Ratna Manggali masuk ke dalam kamarnya Entah mengapa kitab tersebut mengingatkannya pada peristiwa tragis yang menewaskan ibunya setengah tahun lalu. Terutama pada Bahula. Ketika dia dan Ibunya Calon Arang saling beradu kekuatan yang akhirnya menumbangkan Sang Ibu. Dia ingat bagaimana ibunya menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya saat itu.

Ratna Manggali juga teringat jika pernikahannya dengan Bahula hanyalah taktik politik yang dilancarkan oleh Raja Airlangga untuk menyingkirkan ibunya yang memang ia akui adalah penyebar petaka bagi rakyat dinegerinya.

“Aaaaaaaaaa !” Teriak Ratna Manggalih histeris tatkala teringat masa lalu yang membuat hatinya gundah gulana itu.

Bi Darmi yang mendengar teriakan itu dari ruangan ia bekerja pun segera bergegas menghampiri Ratna Manggalih yang berada di kamarnya.

“Tok . . . Tok . . . Tok . .  ”

Bi Darmi mengetuk pintu kamar Ratna Manggali begitu mendengar suara teriakan tadi.

“Nyonya ? Apa anda baik-baik saja ?” Tanya Bi Darmi dari luar pintu kamar Ratna Manggali

Tidak ada jawaban. Hening. 

“Nyonya ? Apa anda baik -baik saja ?” Tanya Bi’ Darmi sekali lagi

Masih tak ada jawaban. Hanya kesunyian yang Bi’ Darmi dengar.

“Nyonya, jika anda memerlukan sesuatu panggil saja saya ! Saya ada di ruangan tadi, ” tambah Bi’ Darmi sebelum ia kembali meneruskan pekerjaannya.

***

Ratna Manggali telah terjaga di kamarnya setelah menemukan kitab salinan ilmu sihir milik ibunya tadi siang.

Tepat tengah malam dia terbangun. Dia kembali teringat Bahula. Dia mencintai laki-laki itu dengan setulus hatinya. Tapi jika mengingat apa yang telah Bahula lakukan. Dimana Bahula menikahi dirinya hanya untuk mendapatkan kitab berisi mantra  ilmu sihir milik ibunya yang kemudian dia pergunakan untuk menumbangkan sang Ibu, membuat Ratna Manggali bimbang. Dia harus membenci suaminya itu atau tidak ?.

Tak berapa lama, Ratna Manggali kembali terjaga. Kali ini dia bermimpi bertemu ibunya di tepi sungai. Penampilan ibunya sama persis dengan saat terakhir Ratna Manggali bertemu di dunia ini.

Tiba-tiba datang sekelompok orang menyeret ibunya pergi,

“Tidak ! Jangan ! Jangan bawa ibuku pergi !” Teriak Ratna Manggali dalam mimpinya

“Ratna Manggali, tolong ibumu Nak!” Rintih Calon Arang

Ratna Manggalih pun mengejar sekelompok orang yang membawa ibunya itu. Tiba-tiba Bahula muncul di hadapannya dan m9enghalanginya untuk menyelamatkan sang Ibu.

“Pengkhianat !” Umpat Ratna Manggali pada laki-laki itu

“Tok . . . Tok . . . Tok . . .” 

Ratna Manggali mendengar suara ketukan pintu. Kemudian dia membuka matanya dan bangun.

“Nyonya apa yang terjadi ? Anda baik-baik saja ? Ijinkan saya masuk !” Teriak Bi’ Darmi dari luar pintu

“Rupanya hanya mimpi !” Gumam Ratna Manggali dalam hati

“Tidak Bi’ aku baik-baik saja !” Jawab ia kemudian

“Anda yakin ?” Tanya Bi’ Darmi memastikan

“Iya Bi’ ”

“Baiklah kalau begitu, kalau anda memerlukan sesuatu panggil saja saya !”

“Iya Bi’ ”

Setelah itu tak ada lagi suara. Mungkin saja Bi’ Darmi sudah kembali ke kamarnya.

Kembali pada mimpi Ratna Manggali tadi, ia merasa sangat risau. Dia berfikir, mungkin ada benarnya ia menyalahkan perbuatan Bahula. Bahula mengkhianatinya. Bahula mengorbankan perasaannya. Yah, Bahula adalah penjahat dalam kasus ini, dan dirinya, Ratna Manggali adalah korban. Dia dijadikan alat oleh Bahula untuk menumbangkan Calon Arang. Ratna Manggalih tidak memungkiri jika ibunya memang durjana dan pantas untuk dibinasakan. Tapi dirinya ? Apa keterkaitannya dengan urusan politik semacam itu ? Ia diperalat oleh Bahula. Tidakkah Bahula memikirkan perasaannya ? Cintanya yang tulus ?

Perasaan bimbang yang menderanya selama ini pun perlahan berubah menjadi rasa sakit hati.

***

Keesokan harinya, Ratna Manggali pagi-pagi sekali pamit pada Bi’ Darmi, dia hendak pergi mandi ke sungai hari itu.

“Jaga rumah baik-baik ya Bi’, aku akan pulang sebelum siang !” Ujar Ratna Manggali

“Baik Nyonya, ”

Kemudian, berangkatlah Ratna Manggali ke sungai di pinggir Desa Girah itu.

Saat Ratna Manggali tiba di sungai, suasana masih ramai dengan lalu lalang aktivitas penduduk yang hendak memanfaatkan fasilitas dari alam itu untuk keperluan rumah tangga.

Ketika matahari sudah menyingsing agak tinggi suasana di sungai pun mulai sepi. Hingga tinggal Ratna Manggali sendiri di sungai itu.

Setelah dia selesai mandi dan hendak kembali pulang, tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang kira-kira seusia dengan mendiang ibunya menghentikan langkahnya

“Apa kabar Ratna Manggali, ?” Sapa wanita yang muncul secara mendadak di hadapan Ratna Manggali itu

“Kabarku baik, anda siapa?” Balas Ratna Manggali dengan seperangkat peralatan mandi yang dia taruh dalam sebuah wadah di tangannya

“Aku adalah Dewi Durga, dewi yang dipuja mendiang ibumu !” Ujar wanita yang mengenakan pakaian berwarna merah itu.

Mendengar keterangan terakhir wanita yang mengaku sebagai Dewi Durga itu, Ratna Manggali menjadi takut.

“Jangan takut, aku tahu keresahan yang sedang kau rasakan, aku hanya ingin bertemu denganmu tidak ada maksut lain, ” kata Dewi Durga seolah bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Ratna Manggali

Ratna Manggali tidak membalas perkataan Dewi Durga, ia diam saja

“Baiklah jika aku membuatmu takut aku akan pergi, ” kata Dewi Durga yang kemudian bergegas menghilang dari hadapan Ratna Manggali

Setelah itu, Ratna Manggali pun segera bergegas agar lekas sampai di rumah.

***

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s