Karya Tulis

Ratna Manggali

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 2

Sore itu, Bahula pulang lebih awal dari Istana. Kali ini, dia pulang bersama seorang wanita setengah baya yang akan dia pekerjakan di rumahnya sebagai pembantu rumah tangga.

Ketika Bahula tiba, seperti biasa rumah sepi tanpa sambutan dari sang Istri yang dulu biasa ia dapat sebelum Calon Arang meninggal. Seperti biasa pula, Ratna Manggali duduk di atas tempat tidur di dekat jendela kamarnya sambil merenungkan sesuatu yang tak Bahula ketahui.

Bahula menghampiri istrinya itu bersama wanita paruh baya itu,

“Dinda Ratna, aku membawakan teman untukmu. Namanya Bi’ Darmi. Dia akan menemanimu dan membantumu mengurus rumah ini. Semoga kau tidak kesepian lagi ketika aku pergi bekerja ke ibukota !” Ujar Bahula yang berdiri mengenalkan perempuan bertubuh dempal bernama Darmi itu.

Sementara itu, Ratna tetap pada posisinya. Menyandarkan kepalanya pada tembok kamarnya yang terbuat dari kayu itu sambil melamun ke luar jendela kamarnya itu. Tanpa memperdulikan kehadiran suami dan penghuni baru di rumahnya itu.

“Baiklah, aku dan Bi’ Darmi akan keluar. Dia akan kuminta memasakkan makanan kesukaanmu, nanti dia yang akan mengantarkannya kemari juga padamu !” Kata Bahula lagi

Kemudian dia berjalan beriringan dengan Bi’ Darmi meninggalkan ruang kamar Ratna Manggali itu.

Setelah itu, Bi’ Darmi langsung pergi ke dapur untuk memasak makanan kesukaan Ratna Manggali seperti yang diinstruksikan oleh tuannya tadi.

Sementara Bahula sendiri

keluar ke halaman rumahnya untuk sekedar menghirup udara ketenangan yang tak bisa ia peroleh di ibu kota pada saat jam-jam seperti ini, dimana biasanya dia masih berkutat dengan sejumlah pekerjaannya di istana.

Tak berapa lama, Bahula mendengar suara derap kuda mendekat ke halaman rumahnya yang luas itu. Dari kejauhan tampak seorang laki-laki berpakaian khas punggawa keamanan istana Daha menunggangi seekor kuda berwarna coklat. Semakin dekat, laki-laki itu semakin jelas rupanya. Yah, dia adalah Danur, Senopati Kerajaan Daha.

Rupanya dia datang kemari tidak dengan tangan kosong.

Begitu sampai di hadapan Bahula, senopati muda itu langsung turun dari kudanya dan memberikan hormat pada atasannya tersebut.

“Ada apa kau menyusulku kemari Senopati Danur ? Bukankah aku sudah meminta izin pulang lebih awal kepada Yang Mulia Raja ?” Ujar Bahula

“Begini Tuan Patih Bahula, saya ditugaskam kemari oleh Yang Mulia Raja Airlangga untuk menyampaikan titahnya yang beliau tuliskan di dalam surat ini !” Balas Senopati Dewa sambil menyerahkan sebuah gulungan pada Bahula

Setelah menerima gulungan tersebut, Bahula pun langsung membuka dan membacanya. Bahula membaca rangkaian kata berbahasa sansekerta itu dalam hati. Beberapa detik kemudian, dia menggulung kembali lembaran surat berisi perintah dari Raja Airlangga itu.

“Kita akan kembali bersama-sama ke ibukota, aku akan pamit terlebih dahulu kepada istriku. Tunggulah di dalam !” Ujar Bahula mempersilahkan bawahannya itu masuk ke dalam kediamannya untuk menunggunya berpamitan pada Ratna Manggali.

Bahula kembali masuk ke dalam kamarnya tempat dimana dulu biasanya dia dan Ratna Manggali memadu kasih.

Saat ia masuk, Ratna Manggali tengah duduk di depan meja riasnya sambil menyisir rambut. Bahula pun mendekati perempuan itu. Kemudian dia mendekap perempuan yang paling ia cintai di dunia ini itu, 

“Dinda, hari ini Yang Mulia Raja  menugaskanku memimpin pasukan untuk menumpas pemberontak di Pulau Bali. Aku akan pergi cukup lama. Jaga dirimu baik-baik ya ?” Kata Bahula

Ratna Manggali tak membalas perkataan Bahula tadi. Dia diam seolah tak ada yang mengajaknya bicara.

Jauh di dalam lubuk hati Bahula, di ingin sekali Ratna Manggali memberinya dukungan sebelum ia pergi melakukan tugas negara seperti dulu sebelum Calon Arang meninggal.

Tapi Bahula sadar, keadaan sekarang sudah lain dengan dulu. Ia sadar betul perempuan yang duduk membelakangainya itu tengah dilanda kemuraman yang begitu dalam sepeninggal ibunya.

“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu Dinda, aku mencintaimu dengan setulus hatiku, sejak pertama kali aku melihatmu dulu !” Ujar Bahula lirih

kemudian dia berbalik badan bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.

Sesampainya di ruang tamu, Bahula mengajak senopati Danur berangkat ke ibukota menghadap Raja Airlangga sebelum melaksanakan tugas.

***

Keesokan harinya, Bi’ Darmi bangun sebelum matahari bersinar untuk mulai melakukan tugas-tugasnya sebagai pembantu rumah tangga. Mulai dari memasak, hingga membersihkan rumah.

Keadaan rumah yang di tempati Patih di negeri ini bersama istrinya itu sangat kotor dan berantakan sebelum dibersihkan oleh Bi’ Darmi.

Maklum, setelah upacara pemakaman ibunya 6 bulan yang lalu, Ratna Manggali tidak pernah  melakukan apapun selain mandi, makan, dan berdiam diri di kamarnya.

Menginjak siang, Bi’ Darmi sudah selesai membersihkan seluruh ruang dan halaman rumah itu. Tapi ada satu ruangan yang terlewat karena pintunya terkunci, sehingga dia tidak dapat masuk untuk membersihkannya.

Lantas ia pun menanyakannya pada Ratna Manggalih, perihal ruangan tersebut.

“Nyonya, ruang kamar paling belakang itu dibersihkan atau tidak ? Jika dibersihkan, saya minta kunci untuk membukanya !” Kata Bi’ Darmi

Ratna Manggalih tidak menjawab, dia tidak melihat sedikitpun ke arah pembantu barunya itu.

“Baiklah Nyonya, saya akan membersihkannya lain kali. Saya permisi dulu ” tukas Bi’ Darmi

Bi’ Darmi pun lantas berbalik badan dan bergegas keluar dari kamar Ratna Manggali.

Tapi tiba-tiba

“Tunggu, ” Ujar Ratna Manggali menahan kepergian Bi Darmi dari kamarnya

Bi’ Darmi pun menghentikan langka nya. Kemudian berbalik arah mendekati tuannya itu.

“Ada apa Nyonya ?” Tanya Bi’ Darmi

Ratna Manggali melamun sebentar, sepertinya dia memikirkan sesuatu.

Yah, ruang kamar paling belakang yang dimaksut Bi’ Darmi itu adalah ruangan khusus kepunyaan mendiang ibunya. Dimana di ruangan itu tersimpan segala benda yang berhubungan dengan ilmu hitam yang dianut oleh mendiang ibunya.

“Besok kita bersihkan bersama ruangan itu, sekarang pergilah kerjakan pekerjaan lain saja !” Pintah Ratna Manggali

“Baik Nyonya ,”

Setelah itu, Bi’ Darmi pun keluar dari kamar Ratna Manggali.

***

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s