Bio

Saripati Ilmu

Oleh Nia Nayajomis

Hari ini saya ingin menceritakan sebuah pengalaman pada pembaca sekalian. Yaitu pengalaman saya tentang belajar. Dimana dari pengalaman tersebut saya menemukan sebuah hikmah yang begitu luar biasa dan bodohnya saya baru saja menyadarinya. Selengkapnya, yuk kita simak secara lengkap sepenggal cerita pengalaman hidup saya di bawah ini !

Sejak bersekolah TK hingga SMK, bahkan hingga detik ini ketika saya akan memiliki anak ada satu kebiasaan dalam hal belajar yang tidak berubah dari diri saya. Yaitu daya serap saya akan pelajaran yang lambat. Contohnya begini, sewaktu belajar di bangku SD, saya diajari pelajaran tentang aritmatika, salah satu cabang ilmu matematika. Saat diberi pelajaran itu saya berusaha memahami dan mempelajarinya meskipun sebenarnya saya memang tidak menyukai apapun tentang matematika. Hasilnya, saat ulangan atau diberi tugas mengerjakan soal dari salah satu cabang ilmu matematika itu saya tidak bisa mengerjakannya. Begitupun saat diajarkan kembali di bangku SMP, saya juga masih belum bisa memahami pelajaran tersebut.

Sewaktu masih sekolah saya adalah salah satu juara kelas, saya pandai dalam berbagai pelajaran kecuali matematika. Meskipun saya lemah dalam pelajaran tersebut saya menekankan dalam diri saya sendiri agar tidak melulu berada di zona nyaman. Jadi walaupun saya tidak menyukai pelajaran matematika saya tetap harus mempelajarinya, apapun hasilnya nanti bisa atau tidak bisa. Syukur alhamdulillah jika dari usaha dan tekad saya itu saya memperoleh hasil yang positif. Akhirnya, saat duduk di bangku SMK, saya bisa memahami dan mengerjakan soal matematika tentang aritmatika tersebut.

Selanjutnya, di akhir tahun 2014 menjelang kelulusan saya dari jenjang pendidikan SMK, saya diajak oleh seorang saudara untuk belajar merangkai hantaran pernikahan atau biasa disebut peningset di daerah saya. Orang tua saya pun sangat mendukung mengetahui alasan saudara saya itu mengajak saya memelajari ilmu ketrampilan tersebut agar saya memiliki ketrampilan lain saat saya sudah lulus sekolah nanti.

Sebenarnya saya sendiri tidak begitu berminat mempelajari ketrampilan merangkai hantaran pernikahan itu, tapi karena orang tua begitu mendukung dan setelah saya fikirkan manfaatnya di masa mendatang akhirnya saya pun mempelajarinya meskipun dengan setengah hati. Proses belajar yang membosankan membuat saya makin tidak berminat. Namun, saya tetap memperhatikan dan mempelajari setiap apa yang diajarkan saudara saya itu.

Setelah tiga kali praktik tidak ada perkembangan berarti yang saya peroleh. Saya hanya bisa menghafal cara-cara merangkai hantaran pernikahan itu tanpa bisa mengaplikasikannya sendiri. Alhasil mandek lah proses belajar sampai di situ, karena setelahnya saya lulus dari sekolah dan memperoleh pekerjaan di konveksi gorden.

Kemudian pada bulan Desember 2017, ada seorang saudara sepupu laki-laki saya dari pihak ayah yang hendak menikah. Karena keterbatasan biaya, hantaran pengantin yang akan di berikan pada calon istrinya itupun rencananya tidak dirangkai, mengingat biaya jasa merangkai hantaran pernikahan cukup mahal dan merangkai sendirioun tidak bisa. Ibu saya lalu mengusulkan saya agar merangkaikan hantaran pernikahan tersebut. Mengingat saya pernah belajar keterampilan tersebut walaupun tidak pernah mempraktekkannya langsung.

Saya sendiri, entah mengapa tidak ragu akan kemampuan saya itu. Saya justru sebaliknya. Berbekal keyakinan tersebut, akhirnya bekerjalah saya dengan dibantu oleh saudara perempuan yang tak lain adik dari saudara sepupu laki-laki saya itu merangkai hantaran pernikahan tersebut. Tak diduga saya sangat lancar mengerjakan hantaran lamaran itu tanpa ada kesulitan. Dan hasilnya cukup sempurna untuk ukuran pemula yang tidak pernah praktik seperti saya. Tidak jauh berbeda dengan buatan saudara saya yang mengajari saya dulu itu.

Mendapati hal tersebut, saya pun sangat senang dan bangga akan diri saya. Selain bisa membantu saudara, saya juga bisa memanfaatkan ilmu yang saya miliki itu. Dan yang membuat saya bahagia lagi sekaligus terkagum-kagum adalah saya sendiri tidak tahu jika saya bisa mengaplikasikan ilmu yang sudah jelas saya lupakan itu namun saya bisa mempraktikannya dengan sempurna dan memperoleh hasil yang sempurna pula. Subhanallah.

Dua cerita saya di atas itu bukanlah yang pertama ataupun kedua kali saya alami. Sudah beberapa kali saya mengalaminya. Dan cerita saya tentang belajar merangkai hantaran pernikahan itu adalah yang terbaru sedangkan belajar di sekolah adalah yang dulu sering saya alami. Hikmah yang bisa saya ambil dari pengalaman di atas adalah betapa berharganya ilmu pengetahuan. Apapun bentuknya, besar kecil ukurannya sangatlah berarti dan bermanfaat, jika tidak sekarang mungkin suatu saat.

Memaknai lambatnya daya serap saya akan ilmu pengetahuan adalah menjadikan ilmu tersebut tidak mudah hilang. Bahkan menjadikan ilmu tersebut terasa lebih bermanfaat. Mungkin saja proses menyerap ilmu pengetahuan yang lama itu menghasilkan saripatinya yang dapat bertahan lama di otak saya.

Itulah pengalaman saya tentang belajar, kuncinya agar ilmu tersebut bermanfaat suka tidak suka pelajari, dan hargailah. Karena ilmu adalah bekal masa depan, kita tidak tahu apa yang akan kita alami. Bisa jadi, ilmu yang kita sepelekan itulah yang dapat membantu kita nantinya.

Semoga menginspirasi 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s