Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 14

Patih Yasya kuwalahan menangkis serangan Pangeran Daksottama yang bertubi-tubi itu. Tidak diragukan ilmu kanuragan Pangeran Daksottama memang bagus.

Meskipun kerajaan Medang diserang secara mendadak oleh pasukan Paradeh bukan berarti mereka kalah. Justru sebaliknya. Pasukan Paradeh mulai melemah. Banyak prajurit Paradeh yang gugur.

Tapi tak berapa lama pasukan Kanjuruhan yang ditugaskan untuk membantu pasukan Paradeh pun tiba.

Senopati Bara langsung turun membantu Patih Yasya melawan Pangeran Daksottama. Melihat Patih Yasya yang kuwalahan itu diapun diminta mundur oleh Senopati Bara.

Kini Senopati Bara yang beradu kekuatan melawan Pangeran Daksottama.

Pedang keduanya beradu ketangkasan sampai menimbulkan percikan api.

“Akhirnya kita bisa saling bertatapan dengan pedang Senopati Bara !” Ujar Pangeran Daksottama ditengah riuh dentingan pedangnya yang beradu dengan pedang Senopati Bara

“Apa maksudmu Pangeran ?” Balas Senopati Bara

“Apa kau lupa karena dirimu Putri Uttejana menolakku ?” Kata Pangeran Daksottama lagi

“Jadi kau dendam kepada kami karena itu ?” Tanya Senopati Bara

“Menurutmu apa ? Heh ….  bagaimana kondisi kekasihmu itu ? Apa dia sudah mati ?” Ujar Pangeran Daksottama

“Kurang ajar!” Teriak Senopati Bara

Emosinya mulai naik. Matanya mulai merah.

Udara berubah dingin. Langit mendadak mendung. Desiran angin berkumpul ke arahnya.

Senopati Bara menjauh dari Pangeran Daksottama. Pedangnya terhempas dari tangannya. 

Melihat itu, Pangeran Daksottama pun bertanya-tanya atas apa yang terjadi pada Senopati Bara.

Kemarahan Senopati Bara sudah memuncak. Lalu dia menghempaskan tangannya ke tanah yang ada dihadapannya. Tanah itupun meledak dahsyat secara paralel ke arah Pangeran Daksottama.

Melihat peristiwa tersebut Pangeran Daksottama terkejut. 

Senopati Bara menghempaskan tangannya lagi ke arah yang sama. Kali ini ledakan yang ditimbulkan lebih dahsyat. Dan langsung mengenai Pangeran Daksottama. Tubuh Pangeran Daksottama pun luluh lanta.

Sedetik kemudian suasana hening. Semua orang tak terkecuali yang ada di tempat itu menghentikan nafsu berperang mereka begitu menyaksikan peristiwa itu.

Emosi Senopati Bara pun pelahan meredah.

“Pangeran Daksottama gugur !” Teriak seseorang di ujung sana

Prajurit Medang pun menjatuhkan senjata mereka ke tanah menandakan mereka menyerah dalam peperangan.

Paradeh menang dalam peperangan itu dibantu oleh Kanjuruhan.

***

Pemanah misterius yang kabur setelah melepaskan anak panahnya ke arah Kahyang tadi sudah berhasil ditemukan oleh Patih Anom. Ternyata dia adalah prajurit Medang suruhan Pangeran Daksottama.

Kemudian Patih Anom dan pasukannya kembali ke Kanjuruhan bersama pemanah ulung itu untuk dihukum dengan setimpal.

Senopati Bara dan Patih Yasya beserta rombongan pasukannya masing-masing juga telah tiba di Kanjuruhan.

Begitu sampai, Senopati Bara langsung menuju balai pengobatan istana untuk melihat keadaan Kahyang.

Sayangnya, saat Senopati Bara kembali keadaan Kahyang masih sama seperti saat dia pergi tadi. Masih belum sadar.

“Anak panah yang melukai Kahyang itu telah dimantrai dan dicampur dengan bisa ular kobra. Aku sudah berhasil mengeluarkan semua bisa yang meracuni Kahyang. Tapi tidak dengan mantra yang memisahkan jiwa dan raga Kahyang !” Terang Tabib Ludiro pada Senopati Bara

“Apa tidak ada cara untuk melepas mantra tersebut ?” Balas Senopati Bara

“Ada. Tapi aku ragu bisa menemukannya !” Kata Tabib Ludiro

“Katakan, apa itu ? Aku akan berusaha mendapatkannya untuk Kahyang !”

“Ajian rekah bumi !”

“Ajian rekah bumi ?”

“Iya. Itu adalah ajian langka. Hanya beberapa orang di dunia ini yang memilikinya. Ajian tersebut adalah kekuatan besar yang bisa meluluh lantakan apapun jika sang empunya tidak dapat mengendalikan emosinya !”

Senopati Bara terdiam mendengar keterangan terakhir Tabib Ludiro itu. Dia menduga-duga apakah kekuatan besar di dalam dirinya itu ajian rekah bumi yang dimaksud Tabib Ludiro itu.

“Aku akan mencoba melakukannya Paman !” Kata Senopati Bara lalu

“Apa kau memiliki ajian rekah bumi ?” Balas Tabib Ludiro 

“Aku rasa begitu !”

“Kau yakin ?”

“Saya sangat yakin !”

“Baiklah,”

Tabib Ludiro lantas memposisikan putrinya yang terbaring itu untuk duduk. Lalu dia memegangi Kahyang yang duduk tak berdaya itu. Sementara Senopati Bara duduk dibalik punggung Kahyang.

Kemudian dia mengumpulkan segenap emosinya untuk mengeluarkan kekuatan yang Tabib Ludiro sebut ajian rekah bumi itu.

Begitu emosinya terkumpul dan memuncak, Senopati Bara langsung menghentakkan tangannya pada punggung Kahyang.

Tubuh Kahyang pun tersentak dan darah segar pun ia muntahkan. Matanya pun perlahan terbuka. Kahyang tersadar meskipun tubuhnya terasa lemah.

“Berhasil !” Ucap Tabib Ludiro

Kemudian dia memeluk Kahyang sambil menitikkan air mata.

Senopati Bara pun lega sekaligus senang melihat Kahyang sadar.

Kemudian Tabib Ludiro melepaskan pelukannya dari Kahyang. 

Setelah itu, Kahyang menoleh ke arah Senopati Bara. Meskipun lemah, dia berusaha tersenyum pada Senopati Bara.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s