Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 13

Pasukan Kerajaan Paradeh telah tiba di medan perang. Begitupun Pasukan Kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin oleh Patih Anom dan Senopati Bara.

Kedua kubu peperangan itu saling menatap tajam satu sama lain. Beberapa detik kemudian, Patih Yasya membuka suara

“Hai, Kanjuruhan ! Hari ini adalah hari yang kami minta agar kalian melepaskan Pangeran Jananiya kami. Rupanya kalian tidak bisa memenuhi permintaan kami, karena kalian tidak bisa memenuhi permintaan kami, terpaksa hari ini kami akan memintanya dengan paksa !” Ujar Patih Yasya

“Kami tegaskan sekali lagi Patih Yasya, bukan kami yang menculik Pangeran Jananiya !” Tukas Patih Anom

“Apa kalian bisa membuktikan kata-kata kalian itu ?” Tanya Patih Yasya

Patih Anom dan Senopati Bara terdiam mendengar pertanyaan Patih Yasya itu.

“Kalian tidak bisa membuktikannya kan ?” Kata Patih Yasya lagi, kemudian

“Prajurit! . . . . Maju!” Pintah Patih Yasya

Pasukan Kerajaan Paradeh pun bergerak maju menyerang pasukan Kerajaan Kanjuruhan.

Pasukan Kerajaan Kanjuruhan pun tidak tinggal diam. Mereka berusaha melawan serangan pasukan Kerajaan Paradeh di bawah pimpinan Patih Anom dan Senopati Bara.

***

Kahyang menggerakkan kudanya menuju perbatasan Kanjuruhan, lokasi dimana pertempuran antara Kanjuruhan dan Paradeh terjadi.

Beberapa kilometer dari lokasi yang Kahyang dan Pangeran Jananiya tujuh telah terdengar sayup-sayup suara dentingan pedang yang tengah beradu dan pekikan para prajurit yang bertarung

Kahyang memacu kudanya semakin kencang.

***

Patih Anom beradu kekuatan dengan Patih Yasya.

Sementara Senopati Bara membantu para prajuritnya menangkis serangan dari para prajurit Paradeh.

Patih Anom kuwalahan menangkis serangan dari Patih Yasya.

Melihat itu, Senopati Bara lantas membantu Patih Anom. Kemudian dia meminta Patih Anom untuk menyerahkan Patih Yasya padanya.

Patih Anom pun lalu menyingkir dan membantu para prajuritnya menyerang pasukan dari Paradeh.

***

Kahyang dan Pangeran Jananiya tiba di medan perang.

Kahyang lalu menghentikan kudanya di tepi tanah lapang yang menjadi medan pertempuran itu. Kemudian, dia dan Pangeran Jananiya turun dari atas kuda yang mereka tumpangi. Kahyang membantu Pangeran Jananiya berjalan ke tengah medan pertempuran untuk menemukan pemimpin dari masing-masing kubu untuk menghentikan pertempuran tersebut

“Hentikan ! Hentikan ! Aku sudah kembali !” Teriak Pangeran Jananiya sambil dipapah oleh Kahyang

Tidak ada satu orangpun yang menghiraukan teriakan Pangeran Jananiya di tempat itu. Pangeran Jananiya dan Kahyang berjalan kesana kemari ditengah medan perang itu.

Sampai akhirnya ada salah satu prajurit yang menyadari keberadaan mereka. Lantas ia membantu Pangeran Jananiya dan Kahyang menghentikan perang.

Satu per satu orang yang menyadari keberadaan Pangeran Jananiya pun mulai menurunkan senjata mereka tidak terkecuali Senopati Bara dan Patih Yasya.

Mengetahui Pangeran Jananiya sudah kembali, mereka lantas segera menemui dan memberi hormat padanya.

“Hormat kami Gusti Pangeran Jananiya !” Ujar Patih Yasya

“Hentikan peperangan ini! ini adalah kesalah pahaman! Bukan Kanjuruhan yang menculikku tapi orang-orang dari Medang !”

Semua orang terkejut mendengar pernyataan Pangeran Jananiya tersebut, Senopati Bara dan Patih Anom membenarkan dalam hati pernyataan Pangeran Jananiya itu.

“Lalu bagaimana ini Gusti Pangeran, apakah kita akan menuntut balas pada Medang ?” Tanya Patih Yasya

“Tidak perlu, yang paling penting kesalah pahaman antara Paradeh dan Kanjuruhan harus diluruskan  terlebih dahulu!” Balas Pangeran Jananiya

Patih Yasya lalu memerintahkan pasukannya mundur dari medan perang. Begitu pula Patih Anom.

Pangeran Jananiya melepaskan tangannya dari pundak Kahyang yang sejak tadi memapahnya.

Begitu Pangeran Jananiya menurunkan tangannya tiba-tiba sebuah anak panah melesat diantara Pangeran Jananiya dan Kahyang.

Semua orang terkejut melihat peristiwa itu.

“Kahyang , …” ucap Senopati Bara

Kahyang yang berdiri di samping kanan Pangeran Jananiya itu langsung roboh. Sebuah anak panah menancap di punggungnya.

Senopati Bara langsung menangkap tubuh Kahyang.

“Kahyang . . . . . . ! Kahyang . . . . . !” Teriak Senopati Bara mencoba menyadarkan Kahyang yang mulai kehilangan kesadaran

“Temukan orang yang memanah Kahyang tadi !” Titah Patih Anom pada pasukan Kanjuruhan

“Serang Kerajaan Medang!” Titah Pangeran Jananiya pada pasukannya

Semua pasukan dari kedua belah pihak, Kanjuruhan dan Paradeh pun bergerak sesuai perintah pemimpinnya masing-masing.

Sementara Senopati Bara segera bergegas membawa Kahyang ke istana Kanjuruhan untuk diobati. Pangeran Jananiya tidak bisa turut serta menyerang Kerajaan Medang karena kondisinya masih belun baik. Akhirnya bersama beberapa orang prajuritnya, Pangeran Jananiya turut ke istana Kanjuruhan.

***

Senopati Bara sangat cemas mendapati kekasih hatinya itu sekarat. Sepanjang perjalanan di dalam kereta yang membawanya bersama Kahyang menuju istana Kanjuruhan dia menangisi Kahyang. Dia teringat kata-kata Kahyang beberapa hari lalu. Ketika Kahyang mengatakan keinginannya seandainya dia meninggal, dia ingin Senopati Bara menghidupkannya kembali.

Senopati Bara takut tidak bisa mengabulkan permintaan Kahyang yang mustahil itu.

Dia pun terus memeriksa detak jantung Kahyang untuk memastikan Kahyang masih bertahan hidup.

Setelah beberapa lama, rombongan Senopati Bara dan Pangeran Jananiya akhirnyapun tiba di Kanjuruhan.

Prabu Gajayana dan Putri Uttejana menyambut kedatangan Pangeran Jananiya begitu mendapat kabar dari seorang utusan di medan perang bahwa Pangeran Jananiya sudah kembali dan dalam perjalanan ke Kanjuruhan.

Sementara itu, Senopati Bara yang panik segera melarikan Kahyang ke balai pengobatan istana.

Sesampainya disana, Kahyang langsung ditangani sendiri oleh Sang Ayah.

Tak berapa lama, Pangeran Jananiya juga sampai di balai pengobatan istana bersama Putri Uttejana dan Prabu Gajayana. Suasana balai pengobatan istana pun berubah menjadi sibuk.

Pangeran Jananiya meminta Prabu Gajayana untuk memerintahkan Senopati Bara membantu pasukannya menyerang kerajaan Medang.

“Baik, aku akan mengirim senopati Bara dan beberapa regu pasukan untuk membantu pasukanmu menyerang Medang!” Ujar Prabu Gajayana menyanggupi permintaan calon menantunya itu.

“Terimakasih Ayahanda Prabu Gajayana !” Ujar Pangeran Jananiya

“Sama-sama !” Balas Prabu Gajayana

Kemudian Prabu Gajayana memerintahkan Senopati Bara untuk memimpin beberapa regu pasukan untuk membantu pasukan Paradeh menyerang kerajaan Medang.

Dengan berat hati pun Senopati Bara meninggalkan kekasih hatinya yang sedang sekarat itu untuk melakukan tugas negara.

Akhirnya berangkatlah Senopati Bara menuju Medang bersama pasukannya.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s