Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 12

Kahyang mengobati laki-laki itu dengan peralatan seadanya yang dia bawa ke gunung Kawi hari itu dan berbagai tanaman yang tumbuh di sekitarnya yang dapat dijadikan obat.

Kahyang menduga sepertinya laki-laki itu habis disiksa. Dia melihat luka yang di derita laki-laki itu seperti bekas cambukan dan sudah diderita selama beberapa hari.

Melihat laki-laki itu sekarat Kahyang lantas memberinya setetes ekstrak bunga edelweis ajaibnya yang kebetulan hari itu tak lupa ia bawa untuk mengembalikan kesadarannya. Kahyang memasukkan setetes ekstrak bunga edelweis itu ke dalam mulut laki-laki itu. Tak lama kemudian, laki-laki itupun sadar meskipun kondisinya masih sakit. Sementara itu Kahyang melanjutkan pekerjaannya membuat obat dari tanaman yang ia temukan di tempat itu, untuk kemudian ia berikan pada laki-laki yang meminta pertolongannya itu.

Setelah luka di sekujur tubuh laki-laki itu dibalur dengan ramuan obat yang dibuat oleh Kahyang tadi, kemudian Kahyang memberinya ekstrak bunga edelweis ciptaannya setetes demi setetes di setiap luka yang di derita laki-laki tersebut agar lukanya lekas membaik.

Dalam beberapa menit luka yang diderita laki-laki itu mengering. Setelah itu, laki-laki yang tak Kahyang kenal tersebut tampak lebih baik. Lantas ia mengucapkan terimakasih pada Kahyang karena telah menolongnya.

“Terimakasih sudah menolong saya Nona !” Ucap laki-laki itu

“Iyah sama-sama, tapi anda ini siapa ? Kenapa anda bisa terluka parah seperti ini ?” Balas Kahyang

“Aku Pangeran Jananiya dari Paradeh . . . ”

Kahyang terkejut mengetahui kenyataan bahwa laki-laki yang ia tolong barusan adalah Pangeran Jananiya yang dikabarkan menghilang itu.

“Bagaimana anda bisa di tempat ini dengan keadaan terluka seperti ini ? Seisi istana Kanjuruhan sibuk mencari anda sekarang !” Tukas Kahyang memotong kata-kata orang yang mengaku sebagai Pangeran Jananiya itu

“Saya diculik oleh segerombolan orang saat saya dan rombongan saya dalam perjalanan kembali dari Kanjuruhan ke Paradeh. Saya tidak tahu bagaimana nasib rombongan saya setelah saya diculik itu, yang pasti setelah itu saya dibawah ke sebuah ruangan seperti penjara, entah dimana seingat saya orang-orang yang menculik saya itu menyebut sebuah daerah bernama Tamwlang . Kemudian saya disiksa, mulai dipukul sampai dicambuk oleh seseorang yang oleh pasukannya di panggil Patih Garu. Kata orang-orang disana saya tidak akan berhenti disiksa jika saya belum mati. Mengetahui itu, saya lantas berpura-pura mati. Orang-orang yang menculik saya itupun lantas percaya bahwa saya sudah mati setelah memastikan bahwa saya sudah tidak lagi bernafas. Setelah itu, mereka membuang saya ke bukit ini !” Terang laki-laki itu

“Ya Tuhan !” Ujar Kahyang sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.

“Tapi tunggu, setelah anda diculik, anda dibawah ke daerah bernama Tamwlang ?” Tanya Kahyang menyelidik

“Benar Nona,”

“Kalau tidak salah, itu adalah sebuah daerah di wilayah barat perbatasan Kerajaan Medang, asal daerah Pangeran Daksottama yang melamar Putri Uttejana dulu sebelum anda. Tapi lamarannya ditolak oleh Putri Uttejana. Mungkinkah mereka masih tidak terima dengan keputusan Putri Uttejana yang menolak lamaran mereka lantas sekarang mencoba mengacaukan hubungan antara Paradeh dan Kanjuruhan, lebih tepatnya lagi hubungan antara anda dan Putri Uttejana ?” Duga Kahyang

” Apa maksudnya ?”

“Menurut kabar yang beredar, setelah anda menghilang, ada seseorang yang mengirimkan surat kepada Raja Paradeh yang mengatasnamakan Kanjuruhan. Isi surat tersebut Kanjuruhan meminta Mataram memberikan wilayah kekuasaannya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan menjadikan anda sebagai tawanannya agar Paradeh memenuhi permintaan Kanjuruhan itu. Paradeh lantas mengirim seorang utusan untuk menjemput anda. Mengetahui anda tak ada disana, utusan itu menyampaikan ultimatum jika anda tak berhasil ditemukan dalam dua hari maka Mataram akan menyerang Kanjuruhan !” Terang Kahyang

“Dua hari ?” Tegas Pangeran Jananiya

“Iya dua hari, ….” Balas Kahyang sedikit ragu

“Oh Ya Tuhan ! Batas waktunya sudah lewat!” Ujar Kahyang kemudian

“Kita harus segera tiba di Kanjuruhan Pangeran ! Kita harus menghentikan kesalah pahaman ini Pangeran !” Kata Kahyang lagi sambil bangkit dari duduknya

“Auhhh!” Erang Pangeran Jananiya ketika mencoba bangkit, kakinya terasa sangat sakit ketika digerakkan

“Pangeran ? Apa anda baik-baik saja ?” Tanya Kahyang

“Aku tidak bisa berdiri, kakiku terasa sangat sakit ketika dibuat untuk berdiri !” Keluh Prabu Jananiya

“Mari saya bantu berdiri Pangeran !” Ujar Kahyang sambil memapah Pangeran Jananiya berdiri

Kahyang memapah Pangeran Jananiya menuju tempat kudanya berada.

Setelah sampai, Kahyang membantu Pangeran Jananiya naik ke atas kudanya. Dengan susah payah sambil menahan sakit, Pangeran Jananiya berusaha naik ke atas kuda kepunyaan Kahyang itu.

Setelah Pangeran Jananiya berada di atas kuda, giliran Kahyang yang naik ke atas kudanya.

Setelah siap, Kahyang langsung memacu kudanya pergi meninggalkan gunung Kawi.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s