Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 11

​Keesokan harinya, pencarian pun dimulai. Patih Anom menyisir bagian barat kerajaan Kanjuruhan yang berbatasan dengan kerajaan Medang Dimana diwilayah tersebut adalah salah satu jalur yang sudah pasti dilalui oleh Pangeran Jananiya dan rombongannya saat kembali ke Paradeh.

Sementara itu Senopati Bara masuk ke wilayah perbatasan kerajaan Medang dengan menyamar sebagai seorang petani yang sedang mencari rumput.

Senopati Bara menyisir seluruh wilayah tersebut. Namun, sampai petang ia tak menemukan apapun di tempat itu bahkan meskipun hanya petunjuk yang bisa dijadikan alat untuk membantunya menemukan Pangeran Jananiya.

Keesokan harinya, Senopati Bara menyisir seluruh daerah perbatasan kerajaan Medang dibagian barat. Ketika menyusuri sungai di perbatasan tersebut, Senopati Bara menemukan benda-benda seperti peti, pedang, dan pakaian yang hanyut bersama derasnya air sungai. Senopati Bara pun berusaha mengambil salah satu benda-benda tersebut.

Sebuah pedang yang patah ia dapat, dia teliti benda tersebut sampai akhirnya dia menemukan identitas kerajaan Paradeh di gagang pedang patah yang terbuat dari besi itu. Senopati Bara menduga jika pedang tersebut mungkin benda yang dipakai prajurit rombongan Pangeran Jananiya. Senopati Bara pun lalu menyisir aliran sungai tersebut ke arus yang berlawanan. Satu kilometer kemudian, dia menemukan pos penjaga dari kerajaan Medang. Di tempat itu tengah ramai karena seorang pejabat kerajaan rupanya sedang singgah disana. Senopati Bara yang bersembunyi di semak belukar itu lalu melihat sekelompok prajurit membawa benda-benda seperti yang ia temukan di aliran sungai tadi. Kemudian Senopati Bara mengikuti kemana para prajurit itu membawa pergi benda-benda tersebut. Sesuai dugaannya, para prajurit itu membuang benda-benda itu dengàn menghanyutkannya ke aliran sungai.

Senopati Bara kembali ke tempat persembunyiannya di semak belukar di dekat pos penjaga di perbatasan itu. Setelah beberapa lama memperhatikan tempat tersebut dan gerak-gerik orang-orang yang ada di sana, kemudian muncullah seorang laki-laki yang sangat tidak asing di mata Senopati Bara. Yah, orang yang keluar dari pos penjaga itu adalah Patih Gaharu, dari kerajaan Medang yang mewakili Pangeran Daksottama untuk melamar Putri Uttejana. Ya, sudah ditemukan dalang dari menghilangnya Pangeran Jananiya. Yaitu orang-orang dari Kerajaan Medang. Tapi permasalahan yang belum terpecahkan sekarang adalah dimana keberadaan Pangeran Jananiya sekarang dan apakah dia masih hidup atau sudah mati.

Setelah Patih Gaharu itu meninggalkan pos penjaga di perbatasan itu, Senopati Bara bermaksud meninggalkan tempat persembunyiannya juga untuk mengikuti Patih tersebut. Tapi dia mengurungkannya begitu melihat orang-orang berpakaian khas prajurit kerajaan Paradeh mendirikan perkemahan di hutan di wilayah perbatasan kerajaan Medang di seberang aliran sungai di dekat pos penjaga perbatasan kerajaan Medang.

Yah pasukan kerajaan Paradeh itu akan menyerang Kanjuruhan besok. Karena Prabu Gajayana tidak dapat menemukan Pangeran Jananiya sampai batas waktu yang disebutkan utusan itu. Yaitu dua hari setelah kedatangannya ke kanjuruhan. Tepatnya hari ini.

Senopati Bara pun segera kembali ke istana untuk melaporkan hasil pencariannya hari ini dan pasukan kerajaan Paradeh yang telah tiba di wilayah perbatasan kerajaan Medang.

***

Kahyang duduk berjongkok sambil meneliti tanaman liar yang dapat digunakan obat di semak belukar di hadapannya itu.

Saat tengah asyik, Kahyang dikejutkan dengan sesosok tangan yang tiba-tiba mencengkram kakinya dari belakang.

“Aaaaaaaaaaa!” Teriak Kahyang sekencang-kencangnya karena terkejut

Ketika dia tengok ke belakang ternyata seorang laki-laki yang sedang terluka parah tengah telungkup sambil meminta tolong padanya.

“Tolong aku !” Kata laki-laki itu kemudian pingsan

Kahyang yang belum lepas dari rasa terkejutnya itupun cepat-cepat menolong laki-laki tak dikenal itu.

Karena tak kuat menggendong laki-laki itu, akhirnya Kahyang pun menyeret laki-laki itu ke bawah sebuah pohon yang rimbun di lereng Gunung Kawi itu.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s