Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 10

Setelah beberapa hari bersedih meratapi perasaannya yang tak terbalas pada Senopati Bara, akhirnya Putri Uttejana bisa menerima kenyataan tersebut. Dia kembali beraktivitas seperti biasanya. Dia jadi lebih dekat dengan ayahnya, Prabu Gajayana. Dia juga sering berperan aktif membantu kegiatan pemerintahan yang dipimpin Sang Ayah sekaligus belajar lebih banyak menjadi pewaris takhta kerajaan Kanjuruhan.

Sampai suatu hari, Putri Uttejana makan siang bersama Prabu Gajayana di taman istana. Keduanya berbincang hangat, sambil mengenang kebersamaan mereka dengan Permaisuri Dewi Setrawati yang tak lain ibunda Putri Uttejana ketika masih hidup.

“Putriku, beberapa hari yang lalu, Ayah menerima surat dari Prabu Janadi, beliau ingin menjodohkanmu dengan putranya Pangeran Jananiya. Bagaimana ? Apa kau bersedia dijodohkan dengan Pangeran Jananiya ?” Tanya Prabu Gajayana

“Bagaimana kalau aku berkenalan dulu dengan dia ?” Ujar Putri Uttejana

“Kau mau berkenalan dulu dengannya ?” Kata Prabu Gajayana sambil tersenyum sumringah

“Kenapa tidak ?”

Prabu Gajayana tertawa bahagia mendengar ucapan putrinya itu

“Baiklah, akan kubalas surat dari Prabu Janadi itu dengan undangan untuk Pangeran Jananiya agar dia datang kemari untuk berkenalan dengan putriku ” kata Prabu Gajayana lagi lantas tertawa

Putri Uttejana tersenyum kecil melihat ayahnya tertawa bahagia seperti itu. Lalu, keduanya pun melanjutkan acara makan siang mereka.

***

Prabu Gajayana pun membalas surat Prabu Janadi dari Kerajaan Paradeh itu, dengan mengundang Pangeran Jananiya agar datang ke Kerajaan Kanjuruhan dan menginap selama tiga hari untuk berkenalan dengan Putri Uttejana.

Setelah surat itu dikirim lewat seorang utusan, tiga hari kemudian serombongan orang dari Kerajaan Paradeh yang tidak lain adalah Pangeran Jananiya tiba di istana Kerajaan Kanjuruhan.

Pangeran Jananiya dan rombongannya pun disambut hangat oleh seluruh anggota kerajaan. Bahkan Putri Uttejana melayani sendiri Pangeran Jananiya selama berada di Kanjuruhan.

Dalam tiga hari pun, Putri Uttejana dan Pangeran Jananiya sudah sangat dekat. Hal itu membuat Prabu Gajayana bahagia melihatnya. Karena Sang Putri akhirnya mendapatkan pendamping.

Pada pagi di hari ke empat, Pangeran Jananiya bersiap kembali ke negeri asalnya. Sebelum pergi, dia berpamitan pada Putri Uttejana,

“Dinda Uttejana, aku akan kembali lagi kemari dalam beberapa minggu bersama orang tuaku dan mas kawin yang sangat istimewa untukmu. Begitu aku kembali kemari, kita akan melangsungkan pernikahan!” Ujar Pangeran Jananiya

“Iya Kanda Jananiya, aku akan bersabar menunggumu disini. Segeralah kembali untukku !”

“Kalau begitu aku kembali ke Paradeh dulu Dinda, jaga dirimu !”

Setelah itu, Pangeran Jananiya dan rombongannya pun pergi meninggalkan istana Kerajaan Kanjuruhan. Sementara Prabu Gajayana dan Putri Jana serta pembesar istana yang lain mengantar sampai di halaman istana.

***

Lima hari kemudian, datang seorang utusan dari Kerajaan Paradeh. Se isi istana terkejut ketika mengetahui bahwa kedatangan utusan tersebut untuk menjemput Pangeran Jananiya. Karena Pangeran Jananiya dan rombongannya yang dijadwalkan tiba di kerajaan Paradeh sejak dua hari lalu, tidak kunjung tiba. Jadilah Prabu Janadu mengirim utusan untuk menjemput Sang Pangeran.

“Pangeran Jananiya sudah kembali ke Paradeh sejak seminggu lalu. Bagaimana mungkin, dia belum tiba sampai hari ini ?” Ujar Prabu Gajayana

Pada utusan tersebut

“Tapi nyatanya Pangeran Jananiya tak ada di istana kerajaan Gusti Prabu ” Balas utusan itu

Prabu Gajayana pun cemas mendapati Pangeran Jananiya menghilang. Terlebih lagi Putri Uttejana. Prabu Gajayana pun meminta utusan itu untuk kembali dan mengatakan  bahawa Pangeran Jananiya sudah pergi dari istana Kanjuruhan. Dan Kerajaan Kanjuruhan tidak tahu menahu tentang menghilangnya Pangeran Jananiya.

Utusan itu lalu melemparkan sebuah surat ke hadapan Prabu Gajayana dan Putri Uttejana, yang membuat mereka dan semua orang yang ada di tempat itu semakin terkejut,

“Lalu apa ini ?” Ujar utusan tersebut

Putri Uttejana memungut surat tersebut lantas membacanya. Didalam surat tersebut menyatakan bahwa Pangeran Jananiya akan dilepaskan jika Kerajaan Paradeh mau membagi kekuasaan di perbatasan Jawa timur dan tengah dengan Kerajaan Kanjuruhan. Lalu terdapat cap stempel Kerajaan Kanjuruhan setelah tulisan di dalam surat itu.

“Ini fitnah !” Teriak Putri Uttejana

“Kami tidak pernah mengirimkan surat seperti ini kepada Kerajaan Paradeh dan kami juga tidak menyembunyikan Kanda Pangeran Jananiya!” Sambung Putri Uttejana

Prabu Gajayana lalu turun dari singgah sananya kemudian dia membaca surat di tangan Putri Uttejana itu

“Kami tidak pernah meminta daerah kekuasaan dari Kerajaan Paradeh, bahkan membicarakannya saja tidak !” Kata Prabu Gajayana kemudian

“Omong kosong ! Sekarang katakan saja dimana kalian menyekap pangeran kami !” Kata utusan itu

“Kami tidak menyekap Pangeran Jananiya. Kami juga tidak tahu dimana Pangeran Jananiya sekarang dimana !” Balas Prabu Gajayana

“Baiklah kalau kalian tidak mau membebaskan Pangeran Jananiya sekarang. Kami beri kalian waktu dua hari untuk membebaskan Pangeran Jananiya. Jika sampai dua hari Pangeran Jananiya tak kalian lepaskan, peperangan besar akan meletus di negeri kalian !” Ancam utusan itu

Utusan itupun lantas pergi begitu saja tanpa permisi.

Sementara itu Prabu Gajayana langsung mengadakan pertemuan dengan jajaran pemerintahannya untuk merundingkan menghilangnya Pangeran Jananiya dan fitnah yang dituduhkan Kerajaan Paradeh pada negeri Kanjuruhan serta Prabu Gajayana dan Putri Uttejana itu.

***

Prabu Gajayana memerintahkan Patih Anom untuk mencari keberadaan Pangeran Jananiya di wilayah perbatasan Kerajaan Kanjuruhan dengan kerajaan Medang, sementara Senopati Bara diperintahkan mencari Pangeran Jananiya ke wilayah kerajaan Medang.

Malam jelang pencarian, Senopati Bara datang mengunjungi Kahyang di rumahnya untuk berpamitan karena besok dia akan pergi ke negeri seberang untuk melakukan tugas negara.

Kahyang dan Senopati Bara duduk di teras rumah Kahyang malam itu. Kahyang menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Senopati Bara. Keduanya duduk berdampingan memandang bintang di langit.

“Bara, seandainya kau bisa mengambil bintang di langit, mau kah kau mengambilkannya untukku ?” Tanya Kahyang memecah kesunyian

“Tentu saja, selagi aku bisa aku akan melakukan apapun yang kau minta !” Balas Senopati Bara

“Kalau aku mati besok, mau kah kau menghidupkan aku lagi ?”

“Kau ini bicara apa ? Jangan bicara yang tidak-tidak !”

“Hmmmmm mustahil juga permintaanku ya !”

“Sudahlah, aku pergi saja jika kau masih berbicara yang tidak-tidak !” Kata Senopati Bara sambil bangkit dari duduknya

“Eh tunggu !” Kata Kahyang

Kahyang lalu memetik setangkai kecil bunga edelweis di pot bunga yang terletak di halaman rumahnya itu. Lalu meletakkannya di telapak tangan Senopati Bara.

“Simpan ini di sakumu. Bawa saat kau melakukan tugas. Semoga lewat bunga edelweis ini Tuhan senantiasa melindungimu ” Kata Kahyang

Senopati Bara memperhatikan setangkai bunga edelweis di telapak tangannya itu

“Lusa aku akan pergi ke gunung Kawi untuk mencari tanaman obat !” Kata Kahyang lagi

“Jangan pulang terlalu sore dan jangan nekat mengambil sesuatu yang kau inginkan !” Kata Senopati Bara menasehati Kahyang

“Siap !” Balas Kahyang sambil tersenyum manis membuat Senopati Bara gemas melihatnya.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s