Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

    BAGIAN 9

    Sepulang dari rumah Kahyang, Senopati Bara mampir ke kediaman pamannya. Dia dilanda gundah gulana setelah bertemu dengan Kahyang. Dia ingin berbagi cerita dengan Sang Paman yang telah menjadi orang tuanya juga itu.

    “Kau dari mana ? Kenapa wajahmu muram seperti itu ?” Tanya Tumenggung Sukma

    “Aku habis dari rumah Kahyang, untuk memastikan kabarnya, karena aku sudah menyulitkannya akhir–akhir ini !”

    “Oh, gadis yang kau ceritakan dulu kepadaku itu ? Sepertinya keputusanmu untuk menghindarinya itu keliru, bukankah di sisi lain kau menyukainya ?”

    “Iya, sekarang dia marah padaku. Entah apa yang bisa aku lakukan agar dia tidak marah lagi !”

    “Katakan alasanmu menghindarinya kemarin, tunjukkan juga jika kau memiliki kelebihan yang sulit kau kendalikan ketika kau marah !”

    “Aku takut membahayakan nyawanya jika dia dekat denganku. Mengingat karena kekuatan itu, aku menghilangkan nyawa kedua orangtuaku !”

    “Katakan sejujurnya pada dia siapa dirimu sebenarnya dan nyatakan perasaanmu padanya. Bukankah dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu ?”

    “Tapi, …”

    “Segera temui dia, sebelum semuanya sirna !”

    Senopati Bara diam terpaku, dia memikirkan nasehat dari pamannya itu.

    ***

    Keesokan harinya.

    Sehabis membersihkan rumah dan memasak untuk dirinya sendiri, Kahyang melanjutkan kegiatannya pagi itu dengan berkebun.

    Saat Kahyang tengah menyiram tanaman edelweis yang baru ia pindah ke pot-pot dari tanah liat itu, tiba-tiba Senopati Bara muncul dihadapannya. 

    “Bara ? Bagaimana …” Kata Kahyang terputus

    “Mau kah kau menemaniku pergi ke Gunung Kawi hari ini ?” Ajak Senopati Bara

    “Untuk apa ?” Tanya Kahyang

    “Untuk mengunjungi makam Orang tuaku !” Balas Senopati Bara

    “Makam orang tuamu ?”

    Senopati Bara membalas ucapan Kahyang itu dengan senyum mengiyakan.

    Setelah bersiap-siap Kahyang menghampiri Senopati Bara yang menunggunya di depan rumahnya.

    Keduanya lalu menunggangi kudanya masing-masing menuju gunung Kawi.

    Sekitar satu jam menunggang kuda, akhirnya Senopati Bara dan Kahyang tiba di gunung Kawi. Mereka menghentikan perjalanan di sebuah bukit sunyi, dimana di tempat itu ada 2 kuburan yang terletak berdampingan.

    Ya, kuburan tersebut tidak lain adalah makam kedua orang tua Senopati Bara.

    Setelah mengikat kuda kepunyaannya dan kepunyaan Kahyang di sebuah pohon di bukit itu, Senopati Bara berjalan ke arah kedua makam tersebut. Kahyang berjalan mengikutinya dari belakang.

    Setelah sampai di dekat makam tersebut, Senopati mulai msmbersihkan rerumputan liar yang tumbuh di permukaannya. Kahyang pun turut membantunya.

    Setelah itu, Senopati Bara memanjatkan do’a diantara pusara kedua orang tuanya itu. Begitu pula Kahyang, dia turut memanjatkan do’a pada Sang Maha Kuasa.

    Setelah itu, Senopati Bara mengajak Kahyang duduk di tepi bukit itu menghadap ke hamparan pemukiman penduduk yang terletak di bawahnya.

    “Apakah orang tuamu sudah lama meninggal ?” Tanya Kahyang

    “Iya, sekitar sepuluh tahun lalu kedua orang tuaku meninggal !” Jawab Senopat Bara

    “Apa mereka meninggal dalam waktu yang bersamaan ?” Tanya Kahyang lagi

    “Iya,”

    “Apa mereka sakit ?”

    “Tidak !”

    Kahyang menutup mulutnya. Dia berhenti melontarkan pertanyaan pada Senopati Bara karena suasana menjadi cukup tegang. Dia takut menyinggung perasaan Senopati Bara.

    “Mereka mati ditanganku !” Kata Senopati Bara

    Kahyang terhenyak kaget mendengar pernyataan Senopati Bara barusan.

    “Apa maksudmu ?” Tanya Kahyang tak mengerti

    “Akulah yang mengakhiri hidup mereka sepuluh tahun lalu !”

    Kahyang menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya

    “Kau tidak sedang bercanda kan ?” Tanya Kahyang lalu

    “Tidak. Aku serius !”

    “Bagaimana mungkin kau membunuh kedua orang tuamu ?”

    “Sepuluh tahun lalu … ”

    Senopati Bara mulai menceritakan kisahnya membunuh kedua orang tuanya yang sama sekali tak ia sengaja. Dia menceritakan masa kecilnya yang yang hingga menjelang dewasa yang dilarang bepergian keluar rumah tanpa sebab yang belum ia ketahui saat itu. Sampai akhirnya dia berontak dan tanpa sengaja kemarahannya membangkitkan kekuatan di dalam dirinya yang menjadi alasan mengapa kedua orang tuanya melarang dia bepergian keluar rumah.

    Sebuah kekuatan besar dan dahsyat keluar dari tangan Senopati Bara dengan satu hentakan. Lalu kekuatan itu meluluh lantakan apapun yang ada dihadapannya saat itu tak terkecuali kedua orang tuanya. Tewaslah kedua orang tua Senopati Bara hari itu. Yang lantas jasadnya yang tak berwujud itu dimakamkan di bukit yang kini Senopati Bara dan Kahyang singgahi.

    “Itulah alasanku menghindarimu kemarin. Aku takut kau bernasib sama seperti kedua orang tuaku ! Setiap hari aku berusaha meredam bahkan menghapus kekuatan itu dari dalam diriku, bahkan aku mengembara berhari-hari seperti mendaki gunung yang lantas aku bertemu denganmu itu, hanya untuk mengsndalikan diriku dari kekuatan itu !” Terang Senopati Bara

    Sementara itu, Kahyang diam seribu bahasa sambil memasang ekspresi tak menyangka mendengar cerita Senopati Bara tersebut

    “Aku menyesali perbuatanku sepuluh tahun lalu itu meskipun aku tak sengaja melakukannya. Karena saat itu aku benar-benar tak sadar melakukannya. Aku berada di bawah kendali kekuatan tersebut !” Ujar Senopati Bara, kali ini ia bercerita sambil menangis penuh penyesalan

    “Lalu kenapa kau menghindariku ? Kenapa tak kau biarkan saja aku dekat denganmu, sekalipun suatu saat aku mengalami hal yang sama dengan orang tuamu, itu tak ada ruginya bagimu”

    “Aku mencintaimu !”

    Dua kata yang keluar dari mulut Senopati Bara itu membuat jantung Kahyang berdetak lebih kencang. Bersamaan dengan itu, semilir angin membuai wajahnya.

    “Aku takut kehilangan orang yang kusayang untuk kedua kalinya !” Sambung Bara

    Mulut Kahyang seolah terkunci, lidahnya terasa keluh. Dia tidak bisa berkata-kata apa-apa Dia sama sekali tidak menyangka jika ternyata Senopati Bara juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

    Lalu Senopati Bara menggenggam tangan Kahyang

    “Aku menyukaimu sejak pertama kalk kita bertemu. Dan aku jatuh cinta padamu” Kata Senopati Bara sekali lagi

    Kahyang masih diam, dia berusaha menenangkan perasaannya yang bahagia bukan main karena cintanya terbalas. Dia menarik nafas yang dalam, lalu membuangnya secara perlahan

    “Terimakasih, kau sudah membalas perasaanku, Bara!” Ucap Kahyang 

    “Jadi ? Kau juga memiliki perasaan yang sama denganku ?” Tanya Senopati Bara

    “Iya, kita memiliki perasaan yang sama !”

    Tak terasa butiran lembut nan kecil gerimis jatuh menerpa bukit yang disinggahi dua anak manusia yang sedang jatuh cinta itu.

    Gerimis lembut itu seolah menjadi saksi jalinan kasih antara Kahyang dan Senopati Bara.

    ***

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google

    You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s