Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 8

Prabu Gajayana datang mengunjungi Putri Uttejana di kediamannya di keputren istana.

Saat itu hari sudah hampir larut malam, Putri Uttejana mengurungkan niatnya untuk pergi tidur begitu mengetahui ayahnya datang berkunjung.

“Tumben sekali Ayah datang kemari malam-malam. Ada apa Ayah ?” Tanya Putri Uttejana

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” jawab Prabu Gajayana dengan ekspresi datar

Mendengar kata-kata seperti itu, Emban Sriti yang berada di belakang Putri Uttejana pun menyingkir dari sekitar ayah dan anak itu. Setelah Emban Sriti pergi pembicaraan yang nampaknya serius itupun dimulai.

“Apa yang ingin Ayah bicarakan denganku ?” Tanya Putri Uttejana lagi

“Ini perihal permintaanmu yang ingin aku menikahkanmu dengan Senopati Bara. Ayah tidak bisa menikahkanmu dengannya !” Terang Prabu Gajayana

“Kenapa Ayah ?” Tanya Putri Uttejana terkejut

“Dia tidak bisa membalas perasaanmu. Dia lebih memilih mengabdikan dirinya pada negeri ini. Ayah sudah menemuinya, dan itulah jawaban atas lamaranmu untuknya !”

“Tidak ! Dia menolakku bukan karena alasan itu aku yakin dia menolakku karena perempuan itu !”

“Perempuan siapa yang kau maksud anakku ? Senopati Bara sudah jelas menolakmu jadi berbesar hati lah!”

“Tidak ! Dia tidak bisa menolakku Ayah !” Teriak Putri Uttejana yang mulai menitikkan air mata

Kemudian Prabu Gajayana memeluk putri semata wayangnya itu untuk menenangkannya. 

“Anakku, cinta tidak bisa dipaksakan. Kau tidak bisa memaksa Senopati Bara untuk membalas perasaanmu. Sebaiknya kau mencari pria lain yang juga mencintaimu Nak, dan lupakan Senopati Bara !” Ujarnya sambil membelai rambut putrinya yang hitam dan panjang itu

“Tidak bisa Ayah ! Aku terlanjur mencintainya !”

Begitulah semalaman Putri Uttejana menangis meratapi perasaannya yang tak terbalas itu di dalam pelukan Sang Ayah.

***

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Putri Uttejana sudah keluar dari kediamannya di keputren istana. Dia berjalan cepat menuju ke kandang kuda. Sementara Emban Sriti mengikutinya dengan langkah tergopoh-gopoh.

Begitu sampai, di halaman kandang kuda itu tampak Senopati Bara tengah merawat kudanya di kejauhan. Lantas, Putri Uttejana menghampirinya diikuti Emban Sriti.

Mengetahui Putri Uttejana berjalan ke arahnya, Senopati langsung menyambut kedatangannya dengan ramah.

“Selamat pagi Gusti Putri Uttejana !” Sapa Senopati Bara

“Plakkkk!”

Putri Uttejana langsung melayangkan sebuah tamparan pada pipi kanan Senopati Bara

“Gusti Putri, ” Ucap Emban Sriti tatkala menyaksikan Senopati ditampar oleh Putri Uttejana

“Kenapa Gusti Putri menampar saya ?” Tanya Senopati Bara sambil memegang pipinya yang tadi ditampar itu

“Kenapa kau menolakku ? Kau pasti menolakku karena perempuan itu kan ?” Teriak Putri Uttejana penuh amarah disertai deraian air mata

“Sudah Gusti Putri, ” ujar Emban Sritu

“Perempuan ? Perempuan siapa maksut Gusti Putri ?” Tanya Senopati Bara tidak mengerti

“Aku sudah menyingkirkan perempuan itu dari hadapanmu, tapi kenapa kau masig tak memandangku ?” Kata Putri Uttejana lagi

“Apa yang Gusti Putri katakan ? Saya tidak mengerti apa yang Gusti Putri katakan !”

“Sudah Gusti Putri, sudah . . .” Ujar Emban Sriti menenangkan Putri Uttejana

“Maaf Senopati Bara, bukannya saya mau ikut campur urusan antara Gusti Putri Uttejana dengan anda tapi biarkan saya membawa pergi Gusti Putri saja, fikirannya sedang kacau !” Terang Emban Sriti

“Iya Bi,” balas Senopati Bara

Kemudian Emban Sriti mengajak Putri Uttejana pergi dari kandang kuda itu. Putri Uttejana pun menurut pada embannya itu.

Sementara Senopati Bara mencoba mencerna perkataan Putri Uttejana tadi. Dia mengira-ngira siapa perempuan yang dimaksud Putri Uttejana tadi. Lalu dia teringat pada Kahyang.

“Mungkinkah perempuan yang Putri Uttejana maksud tadi adalah Kahyang ?” Tanya Senopati Bara pada dirinya sendiri.

***

Senopati Bara pergi ke balai pengobatan istana. Sampai di sana dia mencari keberadaan Kahyang. Dia menanyakan dimana keberadaan Kahyang pada setiap orang yang ada di tempat itu. Tapi, diantara mereka tidak ada  satu pun yang tahu dimana Kahyang berada.

Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang perawat senior di tempat itu

“Kau mencari Kahyang ?” Tanya perempuan paruh baya itu

“Iya, dimana dia sekarang ?”

“Dia sudah tidak bekerja disini sekarang. Dia kembali ke kampungnya sejak perawat dan tabib baru tiba di sini!” Terang perawat senior itu

“Jadi sudah lama Kahyang meninggalkan istana ?” 

“Benar Tuan Senopati,”

“Baiklah,  kalau begitu aku permisi dulu. Terimakasih untuk informasinya !” Ucap Senopati Bara

“iya, sama-sama !” Balas perawat senior itu

Senopati Bara lalu pergi dari balai pengobatan istana dengan perasaan cemas.

***

“Taruh ini di sudut sana !” Pintah Kahyang pada seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahunan itu untuk menaruh tanaman edelweis yang baru ia pindah ke pot dari tanah liat di tangannya

“Baik Kak !” Kata anak laki-laki itu

Sejak kembali dari istana, Kahyang menyibukkan diri dengan berkebun di halaman belakang rumahnya.

Dia melanjutkan kegiatan menanam bunga edelweis yang terbengkalai beberapa waktu lalu karena sibuk membantu ayahnya di istana.

Semenjak kembali aktif berkebun Kahyang sudah berhasil menanam empat ratus batang tanaman edelweis.

“Siapa laki-laki itu Kak ?” Tanya anak laki-laki yang membantu Kahyang berkebun itu tiba-tiba

“Laki-laki siapa, Buyung ?” Tanya Kahyang

Begitu menengok ke arah anak laki-laki bernama Buyung yang membantunya itu tampak seorang laki-laki yang sangat tidak asing dimatanya itu, berdiri di dekat Buyung.

“Bara ?” Ucap Kahyang tanpa sadar

laki-laki yang tidak lain adalah Senopati Bara itu lantas melemparkan seutas senyum pada Kahyang

Kahyang lalu bergegas mencuci tangannya dengan air di pancuran yang ada di dekat jajaran tanaman edelweisnya itu. Lalu menghampiri Senopati Bara. Sedangkan Buyung menyingkir entah kemana dari tempat itu.

“Bagaimana kau bisa kemari ?” Tanya Kahyang

“Aku mencarimu ke balai pengobatan istana. Kata orang-orang disana kau sudah tidak bekerja lagi di balai pengobatan istana. Dan kau sudah pulang ke kampung. Lalu aku mencarimu kemari !” Terang Senopati Bara

“Oh, jadi begitu. Memangnya ada perlu apa ?”

“Kedatanganku kemari sekedar untuk mengetahui kabarmu. Karena sudah lama kita tidak bertemu !”

“Kabarku baik. Kabarmu sendiri bagaimana ?”

“Aku juga baik, ”

Lalu Kahyang dan Senopati Bara itupun sama-sama diam. Agak lama. Kurang lebih lima menit.

“Kenapa kau diam saja ?” Tanya Senopati Bara

“Aku ? Aku bingung mau bicara apa denganmu” Kata Kahyang lantas tertawa 

“Kenapa kau jadi canggung begini padaku ?” Tanya Senopati Bara lagi

“Aku canggung ? Sepertinya tidak. Hanya perasaanmu saja !”

“Apa karena kita sudah lama tidak bertemu ya, suasananya menjadi canggung begini  ?”

“Mungkin saja”

Senopati Bara diam, dia memperhatikan perempuan di hadapannya itu

“Kenapa kau memperhatikanku begitu ?” Tanya Kahyang

“Aku sepertinya kehilangan tempat di sini !” Ujar Senopati Bara sambil mengarahkan jari telunjuknya ke dahi Kahyang

“Apa maksudmu ? Kau ini bicara apa sih ?” Balas Kahyang sambil menyingkirkan tangan Senopati Bara dari hadapannya 

“Kau marah padaku ?”

“Apa ? Marah ? Marah apa ?”

Senopati Bara lalu menarik tangan Kahyang sehingga Kahyang berada sangat dekat dengannya. Keduanya pun saling menatap. Kira-kira sepuluh detik.

“Aku melihat kemarahan di matamu,” kata Senopati Bara

“Hah ? Kita saja tidak pernah bertemu, malahan kau menghindariku. Lantas aku marah untuk apa padamu ?” Balas Kahyang yang berusaha menutupi perasaan kecewanya pada Senopati Bara yang ia sembunyikan selama ini

“Maafkan aku, aku menyulitkanmu akhir-akhir ini,”

“Ah sudahlah, tidak ada yang perlu di maafkan. Aku tidak merasa kau persulit, kita hanya sebatas kenalan!”

“Kahyang, ”

“Aku mengerti !”

Lalu Kahyang meninggalkan Senopati Bara di kebun edelweis di belakang rumahnya itu.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s