Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 7

Tiga hari kemudian.

Menjelang siang, rombongan dari kerajaan Medang telah tiba di istana kerajaan Kanjuruhan.

Kali ini, Patih Gaharu tidak hanya datang seorang diri dengan para pengawalnya. Pangeran Daksottama turut serta kali ini. Dia ingin mendengar langsung jawaban atas lamarannya dari Putri Uttejana.

Raja, Putri Uttejana, dan seluruh pembesar istana tak terkecuali Senopati Bara telah berkumpul di balairung istana untuk melanjutkan proses lamaran yang tertunda kemarin.

Begitu tamu dari Medang tiba di balairung, proses lamaran yang tertunda itu dilanjutkan dengan pemberian jawaban langsung oleh Putri Uttejana.

“Menindak lanjut lamaran yang Pangeran Daksottama wakilkan pada Patih Gaharu tiga hari lalu, hari ini kami akan memberikan jawaban atas lamaran tersebut. Putriku, Putri Uttejana akan memberikan jawaban langsung sesuai permintaan dari saudara !” Kata Prabu Gajayana untuk membuka pertemuan itu

Putri Uttejana yang duduk di samping kanan Prabu Gajayana lalu bangkit berdiri, lalu

“baik hari ini saya akan memberikan jawaban atas lamaran dari Pangeran Daksottama” kata Putri Uttejana mengawali pembicaraannya

Putri Uttejana menghentikan kata-katanya sejenak. Hal itu membuat semua yang hadir di ruangan itu tegang. Lebih – lebih Pangeran Daksottama.

“Saya memutuskan untuk menolak lamaran Pangeran Daksottama” sambung Putri Uttejana

Semua orang terhenyak kaget mendengar jawaban Putri Uttejana yang menyatakan menolak lamaran dari Pangeran Daksottama itu. Kecuali Prabu Gajayana.

Pangeran Daksottama bangkit dari tempat duduknya, rupanya dia tidak terima dengan jawaban Putri Uttejana itu

“Apa alasanmu menolak lamaranku Putri Uttejana ?” Tanya Pangeran Daksottama

“Aku mencintai pria lain !” Jawab Putri Uttejana

“Siapa laki-laki yang beruntung mendapatkan cintamu itu ? Apa lebihnya dia dibanding diriku ?”

“Laki-laki itu, Senopati Bara !”

Semua orang kecuali Prabu Gajayana di buat terkejut untuk yang kedua kalinya oleh pernyataan Putri Uttejana. Mereka pun langsung memandang tajam ke arah Senopati Bara yang dudukdi dekat Pangeran Daksottama itu.

“Jadi kau jatuh hati pada senopati rendahan seperti dia ? Benar-benar putri kelas rendah, cuih !” Ujar Pangeran Daksottama

“Jaga ucapanmu !” Teriak Putri Jana yang tersinggung karena ucapan Pangeran Daksottama tadi

Sementara Senopati Bara hanya diam sambil menahan amarahnya pada Pangeran Daksottama. Dia juga merasa tersinggung dengan ucapan Pangeran Daksottama yang merendakannya tadi itu.

Prabu Gajayana pun segera menengahi perdebatan panas itu.

“Sudah, begini Pangeran Daksottama kami sudah memberi jawaban atas lamaran anda. Saya harap Pangeran bisa berbesar hati menerima apapun jawaban yang kami berikan. Kami juga meminta maaf jika jawaban yang kami berikan tidak sesuai dengan harapan Pangeran !” Ujar Prabu Gajayana

“Baik, kami terima keputusan yang telah diberikan oleh Putri Uttejana ini. Terimakasih banyak atas penolakannya. Kalau begitu kami permisi dulu !” Ujar Pangeran Daksottama

Kemudian Pangeran Daksottama dan rombongannya itu pergi dari istana kerajaan Kanjuruhan itu.

Meskipun begitu, ketegangan di dalam balairung istana itu belum juga meredah. Semua orang masih tidak percaya dengan alasan dari penolakan Putri Uttejalana atas lamaran dari Pangeran Daksottama itu.

Prabu Gajayana pun lalu membubarkan pertemuan itu. Kemudian semua pembesar istana itu satu per satu beranjak pergi dari balairung istana. Tak terkecuali Senopati Bara.

Kini tinggal Prabu Gajayana dan Putri Uttejana di tempat itu.

“Ayah aku sudah melakukan apa yang Ayah perintahkan. Sekarang aku ingin Ayah mengabulkan permintaanku. Nikahkan aku dengan Senopati Bara !” Ujar Putri Uttejana

Prabu Gajayana tidak bergeming. Dia diam seribu bahasa. Dia seperti enggan menanggapi pemintaan putrinya itu.

Sementara Putri Uttejana terus saja merengek meminta dinikahkan dengan Senopati Bara.

***

Belum lewat sehari gosip tentang Putri Uttejana yang menolak lamaran Pangeran Daksottama dari kerajaan Medang itu telah beredar di istana. Bukan lamaran yang ditolak itu yang membuat heboh seisi istana. Tapi alasan Putri Uttejana menolak lamaran itu karena dia mencintai pria lain yang tak lain Senopati Bara.

Senopati Bara yang enggan menjadi bahan pembicaraan itupun lantas meninggalkan istana dan pergi entah kemana.

Sementara itu, Kahyang yang hari itu bersiap pulang ke kampung halamannya karena tugasnya di istana sudah selesai juga telah mendengar gosip tersebut.

Dia jadi berspekulasi bahwa Senopati Bara menjauhinya mungkin karena Putri Jana menyukainya.

Jujur, Kahyang cemburu pada Senopati Bara. Tapi apa mau dikata, dia bukan siapa-siapa Senopati Bara. Dia hanya seorang wanita yang dikenal oleh Senopati Bara karena pernah menolongnya.

Selama ini mungkin Kahyang sudah salah mengartikan perhatian Senopati Bara itu. Dan terlalu berharap Senopati Bara menyukainya.

***

Beberapa hari kemudian, Prabu Gajayana memanggil Senopati Bara agar datang menemuinya di kediaman pribadinya secara rahasia.

Mendapat perintah itu pun Senopati Bara datang ke kediaman pribadi Prabu Gajayana sesuai perintah.

Sampai Disana, Sang Prabu telah menunggunya di beranda kediamannya.

Di beranda tersebut telah tersedia dua buah kursi yang menghadap ke taman dan sebuah meja yang diletakkan diantara kedua kursi itu.

Begitu Senopati  Bara telah sampai dihadapannya Prabu Gajayana mempersilahkan ia duduk di kursi yang telah tersedia itu.

“Ada apa Gusti Prabu memanggil hamba secara rahasia seperti ini di kediaman pribadi Gusti Prabu ?” Ujar Senopati Bara membuka percakapan

“Ada yang ingin kutanyakan padamu Senopati Bara. Ini mengenai putriku. Menindak pernyataannya yang menjadikanmu alasan untuk menolak pinangan dari Pangeran Daksottama kemarin, apakah Senopati Bara memiliki kedekatan khusus dengan Putri Uttejana ?” Tanya Prabu Gajayana

“Kami tidak memiliki kedekatan khusus Gusti Prabu. Hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan. Saya hanya mengajar Gusti Putri Uttejana berlatih memanah dan menunggang kuda. Itupun atas permintaan beliau sendiri !” Terang Senopati Bara

“Jadi begini Senopati Bara, Putri Uttejana putriku, dia menyukaimu. Dia ingin menjadi istrimu. Dia memintaku untuk melamarmu dan menikahkannya denganmu. Apakah kau juga memiliki perasaan yang sama dengan putriku itu ?”

Senopati Bara diam, lalu

“Saya tidak pernah menganggap Gusti Putri Uttejana lebih dari sekedar atasan saya Gusti Prabu. Selama ini saya juga tidak tahu jika beliau memiliki perasaan istimewa terhadap saya. Jadi saya hanya menganggap beliau atasan saya !”

“Tapi dia begitu menginginkanmu Senopati Bara, apa kau tidak bisa menerimanya sebagai pendampingmu ?”

“Ampun beribu ampun Gusti Prabu, bukannya saya lancang, Tapi saya tidak bisa membalas perasaan Gusti Putri Uttejana!”

“Kalau seandainya aku memerintahkanmu untuk menikahi putriku apa kau akan melakukan titahku itu ?”

“Maaf jika saya lancang Gusti Prabu. Tapi saya tidak bisa melakukan titah tersebut. Saya lebih baik dihukum !”

Prabu Gajayana terdiam mendengar perkataan Senopati Bara yang teguh menolak untuk membalas perasaan putrinya. Lalu

“Ya aku tahu perasaanmu. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Lalu apa alasan dasarmu menolak putriku ? Apa kau sudah memiliki wanita pilihan ?”

Kini giliran Senopati Bara yang terdiam. Dia tiba-tiba teringat pada Kahyang, wanita yang dia sukai tapi mendadak dia jauhi karena takut mencelakainya suatu saat nanti.

“Tidak Gusti Prabu, saya hanya ingin mengabdikan diri pada Gusti Prabu dan negeri ini sebagai seorang senopati !”

“Ya, ya sejujurnya aku juga tidak mengharapkan kau membalas perasaan putriku. Karena aku lebih membutuhkanmu untuk membantuku menegakkan negeri ini!”

Senopati Bara menatap lurus ke arah Prabu Gajayana. Begitu pula sebaliknya.

“Baiklah, aku sudah memperoleh jawaban dari lamaranku padamu untuk putriku. Bahwa kau tidak bersedia mendampinginya naik takhta, akan aku sampaikan hal ini padanya. Terimakasih Senopati Bara, karena telah meletakkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadimu. Sekarang kau boleh pergi !”

“Baik Gusti Prabu !”

Setelah itu, Senopati Bara pergi meninggalkan Prabu Gajayana di beranda rumah pribadinya.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s