Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 6

Istana Kanjuruhan kedatangan tamu dari kerajaan tetangga, yaitu Kerajaan Medang.

Seluruh pembesar istana tak terkecuali Putri Uttejana dan Senopati Bara berkumpul di balairung istana bersama Raja untuk menyambut utusan dari kerajaan tetangga itu.

Begitu tiba di istana kerajaan Kanjuruhan, para utusan yang terdiri dari patih kerajaan dan beberapa orang pengawal itu langsung dijamu dengan makan siang bersama Raja dan pembesar istana lainnya.

Sambil menikmati santap siang, Raja dan Patih kerajaan Medang itu berbincang tentang kemajuan yang dicapai negeri masing-masing.

Setelah perjamuan makan siang, Raja dan pembesar istana di jajaran pemerintahan mengadakan pertemuan dengan Patih dari kerajaan Medang itu untuk membicarakan maksud dari kedatangannya.

“Begini Gusti Prabu Gajayana, anda memiliki seorang putri yang cantik jelita, kecantikannya begitu tersohor di seluruh negeri Kanjuruhan bahkan sampai ke negeri kami, kerajaan Medang.

Saya diutus oleh Prabu Sanjaya dari kerajaan Medang untuk melamar Putri Uttejana untuk dinikahkan dengan putra beliau… ” kata Patih bernama Garu itu

Mendengar pernyataan Patih Garu itu, Raja dan semua orang yang ada di balairung istana itu terkejut. Pasalnya mereka tidak menyangka jika kedatangan rombongan dari Medang itu ternyata tidak hanya sebatas kunjungan kenegaraan tapi juga untuk melamar Putri Uttejana.

“Prabu Sanjaya dari kerajaan Medang memiliki seorang putra yaitu Pangeran Daksotama. Dia seorang pemuda yang tampan rupawan dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Dia pandai dalam ilmu ketatanegaraan maupun ilmu kanuragan. Saya mewakili Prabu Sanjaya berharap Prabu Gajayana menerima lamaran ini !” Lanjut Patih Garu

Raja diam sejenak. Dia mencerna semua perkataan Patih Garu tadi, sambil menimbang-nimbang jawaban yang akan ia berikan pada utusan Kerajaan Medang itu

“Sebelumnya saya berterimakasih atas kunjungan anda yang mewakili Prabu Sanjaya untuk melamar putri saya. Berhubung sekarang ananda Putri Uttejana sedang tidak berada bersama saya, saya tidak bisa memberikan jawaban atas lamaran Prabu Sanjaya untuk Pangeran Daksotama hari ini.

Saya harap anda, Patih Garu dan Prabu Sanjaya serta Pangeran Daksotama berkenan menunggu selama tiga hari. Karena saya akan merundingkan lamaran ini dengan putri saya serta menyiapkan jawaban atas lamaran ini !” 

“Baik, kami akan menunggu jawaban atas lamaran ini, tiga hari lagi saya akan kembali lagi kemari mewakili Prabu Sanjaya dan Pangeran Daksotama untuk mendengar langsung jawaban lamaran ini dari Putri Uttejana !”

“Iya saya ucapkan terimakasih atas kesediaan pihak kerajaan Medangb menunggu jawaban dari lamaran ini !”

“Kalau begitu, saya dan rombongan dari Medang  permisi terlebih dahulu !”

Setelah itu, utusan dari kerajaan Medang beranjak meninggalkan istana kerajaan Kanjuruhan. Prabu Gajayana dan para punggawa kerajaannya mengantar rombongan utusan dari kerajaan Medang itu sampai di halaman istana.

Sementara itu, di balai pengobatan istana, Putri Uttejana mewakili Prabu Gajayana sedang sibuk menerima kedatangan para tabib dan perawat baru dari berbagai daerah pemerintahan kerajaan Kanjuruhan.

***

Setelah selesai melaksanakan tugasnya, Putri Uttejana dipanggil oleh Sang Ayah agar datang ke balairung.

Putri Uttejana pun langsung pergi seorang diri ke balairung istana setelah mendapat perintah yang disampaikan melalui Emban Sriti itu.

Sesampainya di balairung istana ia langsung menghadap pada Sang Ayah.

“Ada apa Ayah tiba-tiba memanggilku ?” Tanya Putri Uttejana

“Begini anakku, tadi Patih dari kerajaan Medang itu diutus oleh Prabu Sanjaya untuk melamarmu. Mereka Berniat menjodohkanmu dengan putra Prabu Sanjaya, Pangeran Daksotama !” Terang Prabu Gajayana

“Apa ?” Ucap Putri Uttejana terkejut

“Tapi ayah tidak langsung memberikan jawaban pada mereka. Karena ayah akan membicarakan lamaran ini denganmu terlebih dahulu, dan ayah sudah berjanji pada utusan kerajaan Medang itu untuk menyampaikan jawabannya tiga hari lagi !”

Putri Uttejana diam seribu bahasa mendengar penjelasan ayahnya yang ke dua itu.

Dia sangat terkejut mendengar berita tersebut di tengah usahanya menyingkirkan Kahyang dari istana untuk mendapatkan Senopati Bara.

“Bagaimana Putriku ? Apa kau mau menerima pinangan Pangeran Daksotama itu ?” Tanya Prabu Gajayana

“Aku menolak lamaran ini!” Jawab Putri Uttejana dengan tegas

“Apa alasanmu menolak lamaran ini anakku ?”

“Aku mencintai Pria lain. Saat ini aku tengah berusaha mendapatkannya !” Terang Putri Uttejana

Prabu Gajayana terkejut mendengar pernyataan putrinya itu. Karena sebelumnya dia tidak pernah tahu jika anak semata wayangnya itu telah mencintai seorang pria.

“Kalau boleh ayah tahu, siapa pria itu, Nak ?”

“Senopati Bara !”

Prabu Gajayana semakin terbelalak kaget begitu mendengar pernyataan terakhir Putri Uttejana.

“Kau tidak salahkan anakku ?”

“Tidak Ayah, aku sangat mencintai Senopati Bara, !”

Prabu Gajayana terdiam. Dia mencoba menelaah keputusan dan alasan putrinya itu

“Ayah, aku mohon padamu tolong lamar Senopati Bara untukku, nikahkan aku dengan dia !” Mohon Putri Uttejana sambil menggenggam tangan ayahnya

Prabu Gajayana tidak bergeming

“Aku mohon Ayah, turuti permintaan putrimu ini. Aku begitu menginginkan Senopati Bara !” Kata Putri Uttejana lagi

“Siapkan dirimu untuk menjawab lamaran Pangeran Daksotama saja, sekarang pergilah !” Pintah Prabu Gajayana

“Tapi Ayah, . . . Bagaimana dengan . . .”

“Ayah akan memikirkannya, sekarang pergilah !”

“Baik Ayah, ”

Setelah itu, Putri Uttejana pun pergi meninggalkan Prabu Gajayana sendiri di balairung istana dengan langkah lemah.

***

Kahyang bersiap-siap meninggalkan istana sore itu. Karena para perawat dan tabib baru telah tiba di balai pengobatan istana. Jadi selesai sudah pekerjaannya membantu Sang Ayah di balai pengobatan istana.

Tapi ketika akan pergi, Sang Ayah menahannya karena dia membutuhkan sedikit lagi bantuan dari Kahyang. Tabib Ludiro meminta Kahyang membantunya memberikan pembekalan pada parai tenaga perawat baru itu. Karena Sang Ayah akan memberikan pembekalan pada para tabib baru, terutama tabib pribadi Putri Uttejana.

“Tunggulah barang tiga hari untuk kembali ke rumah, bantu ayahmu ini terlebih dulu, setelah selesai pembekalan, Ayah izinkan kau pulang ke rumah !” Tukas Tabib Ludiro

“Baiklah kalau begitu Ayah, Kahyang akan tinggal tiga hari lagi disini”

“Sebenarnya tempat ini membutuhkan dirimu. Kau memiliki keahlian yang seharusnya bisa kau amalkan di tempat ini, tapi kau malah memilih berkebun di rumah !”

“Ah ayah, aku sudah pernah mengatakan hal ini kan, bahwa kemampuanku tidak hanya bisa ku amalkan di tempat ini. Aku bisa mengamalkannya dimanapun aku berada. Diluar sana ada banyak orang yang juga membutuhkan keahlianku Ayah, ”

“Iyah Ayah tahu, tapi alangkah baiknya jika kau bisa memanfaatkan tempat yang sudah ada di depan mata seperti ini !”

“Iya . . . Aku tahu,” kata Kahyang  sambil memeluk ayahnya di halaman balai pengobatan istana malam itu,

“Aku sangat menyayangimu Ayah !” Kata Kahyang

“Ayah juga sangat menyayangimu anakku !”

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s