Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 4

Selepas senja, Kahyang bersiap pulang ke rumahnya di Balingawan. Sudah seminggu dia tidak pulang karena sibuk membantu pekerjaan ayahnya di istana. Dia berniat membersihkan rumahnya yang sudah seminggu tak ditempati itu setelah itu, dia kembali ke istana untuk membantu ayahnya.

Saat berjalan keluar dari gerbang istana, tiba-tiba ada suara yang memanggil Kahyang dari kejauhan

“Kahyang !”

Kahyang menghentikan langkahnya. Lalu menengok ke arah asal suara itu. Begitu ditengok, ternyata Senopati Bara yang memanggilnya dari kejauhan itu.

Setelah itu, Senopati Bara menghampirinya.

“Kau mau kemana ?” Tanya Senopati Bara

“Pulang, ada apa kau memanggilku ?” Tanya Kahyang

“Hmmmmmm hanya ingin menyapamu saja. Apa kau butuh teman untu menemanimu dalam perjalanan pulang ?” Ujar Senopati Bara

“Tidak, aku bisa pulang seorang diri !” Balas Kahyang

“Apa aku boleh menemanimu pulang ?”

“Baikalah jika kau mau !”

Setelah itu keduanya berjalan meninggalkan istana menuju Balingawan. Sepanjang perjalanan mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing untuk lebih mengakrabkan diri.

“Oh iya, aku lupa menanyakan apa yang kau lakukan di gunung waktu itu sampai kau nyaris jatuh dari tebing ?” Tanya Senopati Bara

“Aku sedang mengambil bunga edelweis, sepanjang hari aku mencarinya di gunung dan baru aku temukan di tempat itu !”

“Memangnya untuk apa kau mencari bunga edelweis ?”

“Untuk mencari benihnya lalu aku budidayakan di rumah. Aku sangat menyukai bunga itu !”

“Jadi begitu, karena kau sangat menyukainya kau sampai mempertaruhkan nyawamu !”

“Tidak seperti itu, kemarin aku hanya sedang sial saja !”

“Iya …. iya … baiklah !”

“Oh iya kau sendiri kenapa hari itu pergi ke gunung ?”

“Hari itu aku pulang dari mendaki, setelah sepuluh hari sebelumnya aku singgah di sana ”

“Sepuluh hari ?” Tanya Kahyang

Mendengar pertanyaan itu, Senopati Bara seolah disadarkan bahwa kata-kata yang dia ucapkan tadi keliru

“Apa yang kau lakukan selama sepuluh hari di sana ?”

Senopati Bara menghentikan langkahnya. Begitu juga Kahyang.

Senopati Bara teringat apa yang dia lakukan di gunung selama sepuluh hari itu.

Bagaimana dia mengendalikan dirinya dibawah kekuatan yang merenggut keluarganya sepuluh tahun lalu itu.

“Bara,” panggil Kahyang

Senopati Bara langsung membuyarkan lamunannya begitu mendengar Kahyang memanggilnya.

“Iya, ada apa ?”

“Kau tidak papa kan ?”

“Aku mendadak pusing, sepertinya aku harus kembali sekarang. Apa rumahmu masih jauh ?”

“Tidak, rumahku di ujung jalan itu ” kata Kahyang sambil menunjuk rumah kecil di ujung jalan yang ia dan Senopati Bara lewati sekarang

“Tidak apa-apa jika kau memang harus kembali sekarang, pergilah !”

“Kau serius ?”

“Iya, lagi pula rumahku beberapa meter lagi dari sini !”

“Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik !”

“Iya kau juga !”

“Sampai jumpa !”

“Sampai jumpa !”

Senopati Bara pun langsung berbalik arah. Sementara Kahyang masih diam menatap kepergian Senopati Bara dengan penuh tanda tanya.

***

Senopati Bara melangkahkan kakinya menuju Sungai Berantas malam itu juga

Dia kalut, tatkala teringat masa lalu kelamnya sepuluh tahun lalu.

Dia teringat bagaimana kedua orangtuanya meregang nyawa ditangannya.

Yah kekuatan besar yang telah ia bawa sejak lahir itulah yang mencabut nyawa kedua orangtuanya ketika emosinya memuncak.

Sepuluh tahun lalu, Senopati Bara adalah seorang anak laki-laki yang baru akan beranjak dewasa.

Suatu hari, dia marah pada orang tuanya karena untuk kesekian kalinya ia dilarang keluar rumah untuk bermain bersama teman-temannya.

Kemarahan Senopati Bara baru memuncak hari itu pada orang tuanya karena sudah sejak usianya lima tahun dia dilarang keluar rumah seperti itu.

Apa yang dilakukan orang tua Senopati Bara bukan tanpa alasan. Mereka hanya takut putranya itu melukai orang lain. Pasalnya di dalam diri Senopati Bara terdapat sebuah kekuatan besar yang bisa meluluh lantakan apapun yang ada di sekitarnya jika dia marah.

Tak ayal, hari itu Senopati Bara remaja di ikat pada sebuah pohon dibelakang rumahnya oleh Sang Ayah karena di mencoba kabur.

Senopati Bara yang sedang diberi pengertian oleh kedua orang tuanya itu tiba-tiba berteriak lantang penuh amarah. Tubuhnya bergetar hebat sampai tali yang mengikatnya terberai. Hal itu membuat ayah dan ibunya takut.

Lalu Senopati Bara menatap tajam kedua orang tuanya penuh amarah. Kemarahannya membuat nuraninya mati, dan tidak ingat siapa dua orang setengah baya di hadapannya itu.

Senopati Bara langsung mengayunkan tangannya pada tanah dihadapannya kemudian timbulah ledakan hebat yang meluluh lantakan apapun yang ada disekitarnya tidak terkecuali kedua orang tuanya yang berdiri tepat dihadapannya.

Setelah sadar dan mengetahui kedua orang tuanya meregang nyawa ditangannya, Senopati Bara sangat menyesal dan meratapi perbuatan yang tak sadar dia lakukan itu.

Sejak saat itu, Senopati Bara menjadi enggan untuk dekat dengan siapapun. Karena dia takut mengulangi kesalahannya dulu.

Setelah peristiwa itu, Senopati Bara diasuh oleh pamannya yang saat itu menjabat sebagai senopati kerajaan Kanjuruhan.

Sang Paman yang kini menjadi adipati di Balingawan itu mengerti trauma yang dialami keponakannya pasca peristiwa pahit itu. Maka dari itu, dia berusaha mendekatkan diri dengan Senopati Bara agar tidak terkungkung pada trauma yang ia alami.

Usahanya pun tidak sia-sia. Senopati Bara yang juga dia didik menjadi seorang ksatria selama beberapa tahun tinggal bersamanya akhirnya diangkat menjadi seorang Senopati ketika dewasa menggantikan dirinya yang ditempatkan pada posisi lain di jajaran pemerintahan kerajaan.

Namun, trauma yang disebabkan peristiwa kelam sepuluh tahun lalu itu kembali menggelayutinya. Membuatnya gamang untuk lebih dekat lagi dengan Kahyang. Dia tidak mau Kahyang bernasib sama seperti kedua orang tuanya. Dia tidak mau melukai wanita itu dengan kedua tangannya jika suatu saat emosinya tersulut. Dia menjadi takut berdekatan dengan Kahyang.

Tapi di sisi lain, dia tidak bisa jauh dengan Kahyang. Karena dia terlanjur mencintainya.

Kedua perasaannya yang berlawanan arah itu membuat emosi Senopati Bara memuncak.

Yah sekali lagi dia melampiaskan amarahnya seperti yang dia lakukan di gunung beberapa waktu lalu.

Kekuatan besar yang sudah mengalir di dalam darahnya sejak ia lahir ke dunia ini pun meluap di sungai Berantas. Mengendalikan seluruh jiwa dan raganya.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s