Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 3

Keesokan harinya, beredar desas-desus kedekatan Senopati Bara dengan putri Tabib Ludiro dikalangan para dayang istana.

Desas-desus tersebut akhirnya sampai di telinga Putri Uttejana lewat Emban Sriti.

“Benarkah itu Bi ?” Tanya Putri Uttejana tak percaya

“Menurut desas-desus di kalangan para dayang istana sih begitu Gusti Putri. Katanya lagi, Senopati Bara dan putri Tabib Ludiro itu semalam pergi jalan-jalan berdua !” Terang Emban Sriti penuh antusias

“Apa ? Sudah sejauh itu kedekatan mereka ? Bagaimana mungkin mereka sedekat itu ?” Kata Putri Uttejana bertanya-tanya dengan diliputi perasaan gusar bercampur cemburu

“Saya juga kurang paham Gusti Putri, tapi katanya Senopati Bara itu sudah lama saling mengenal dengan putri Tabib Ludiro itu !”

“Memangnya siapa nama putri Yabib Ludiro itu Bi ?”

“Kalau tidak salah namanya Kahyang Gusti Putri !”

“Kita harus mencari tahu siapa dia Bi, aku sangat penasaran seperti apa dia. Sampai mampu menarik perhatian Senopati Bara ! Selama ini yang aku tahu, Senopati Bara tidak pernah dekat dengan seorang wanita pun !”

“Saya akan mencari informasinya untuk anda Gusti Putri !”

“Dapatkan secepatnya !”

“Baik Gusti Putri !”

Emban Sriti pun bergegas melakukan tugas yang diperintahkan tuannya itu. Dia pergi ke tempat-tempat yang disinggahi banyak dayang seperti dapur istana, dan ruang cuci yang menjadi sarang gosip istana.

Emban Sriti mengorek-ngorek informasi tentang Kahyang dari para dayang istana. Setelah informasi yang didapatkan dirasa cukup, Emban Sriti pun kembali ke keputren istana untuk melaporkannya pada Putri Uttejana.

“Kahyang bekerja di balai pengobatan istana Gusti Putri, kata para dayang dia hanya sementara berada di istana untuk membantu ayahnya karena di balai pengobatan kekurangan tenaga perawat !” Terang Emban Sriti

“Hmmmmm lalu sudah sejauh mana kedekatannya dengan Senopati Bara ?” Tanya Putri Jana

“Tidak ada kabar terbaru Gusti Putri, desas-desus kedekatan Kahyang dan Senopati Bara juga sudah meredah!”

“Aku harus menyingkirkan Kahyang dari istana ini ! Karena dia telah mengancam posisiku di mata Senopati Bara !”

“Caranya Gusti Putri ?” Tanya Emban Sriti

“Ayo ikut aku !” Ajak Putri Uttejana

***

Putri Uttejana mengarahkan langkahnya menuju balairung istana. Sementara Emban Sriti mengekor di belakangnya.

Saat tiba di balairung suasana tengah sepi. Hanya ada Prabu Gajayana yang tengah membaca sebuah kitab ditemani seorang pengawal pribadinya.

“Putriku ! Tumben sekali kau datang menemui ayahmu hari ini, ada apa ? Apa kau merindukan ayah ?” Sapa Prabu Gajayana sambil merentangkan tangannya untuk memeluk putri semata wayangnya itu. Sedangkan Putri Uttejana langsung menghambur memeluk ayahnya itu. Prabu Gajayana memeluk erat tubuh Putri Uttejana, begitupun sebaliknya. Keduanya seperti orang yang sudah lama tidak bertemu

Tapi kenyataanya memang begitu. Ayah dan anak perempuannya itu memang hampir tak pernah bertemu. Karena Sang Ayah sangat sibuk mengurus negerinya bersama jajaran pemerintahannya.

“Ada apa Putriku ? Tidak biasanya kau menemui ayahmu ini di balairung. Kecuali ada hal yang sangat penting !” Tanya Prabu Gajayana sambik tetap memeluk Putri Uttejana

Putri Uttejana kemudian melepaskan diri dari pelukan Erat ayahnya itu, lalu

“Tepat sekali, ada hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan denganmu Ayah !” Balas Putri Uttejana

“Katakan Putriku, apa yang ingin kau bicarakan !”

“Begini ayah, menurut kabar yang beredar, balai pengobatan istana kita sedang kekurangan tenaga tabib dan perawat, aku berniat merekrut tenaga tabib dan perawat sesuai kebutuhan balai pengobatan istana. Bagaimana ?” Terang Putri Uttejana

“Ide yang sangat bagus Putriku ! Ayah juga sedang mengurus masalah itu, kebetulan sekali kau mau membantu ! Kalau begitu urusan ini ayah serahkan padamu ! Diskusikan dengan Tabib Ludiro selaku kepala balai pengobatan istana agar dia membantumu !” Pintah Prabu Gajayana

“Baik Ayah, akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya tugas ini !” Ujar Putri Uttejana

Kemudian dia kembali memeluk ayahnya.

***

Keesokan harinya, Senopati Bara pergi ke kandang kuda istana untuk memeriksa kudanya, karena kemarin dia mendapat laporan dari seorang pengurus kuda istana bahwa kuda kepunyaannya tiba-tiba rewel dan sulit dikendalikan.

“Apa kudaku sakit ?” Tanya Senopati Bara pada seorang pengurus kuda yang melapor padanya kemarin

“Tidak Tuan Senopati, kemarin saya sudah meminta tabib hewan untuk memeriksanya. Tapi setelah diperiksa katanya kuda ini tidak apa-apa !” Terang pengurus kuda tersebut

“Jadi sejak kemarin dia seperti ini ?”

“Iya Tuan Senopati !”

“Bagaimana dengan makanannya ?”

“Kuda ini tidak begitu bernafsu makan Tuan sejak beberapa hari lalu sebelum dia rewel seperti ini !”

“Hmmmmm, lalu kenapa dengan kudaku ini ?” Gumam Senopati Bara sambil membelai surai kuda berwarna hitam itu

“Kuda itu sedang stress, Senopati Bara !” Teriak seorang wanita dari kejauhan

Senopati Bara menengok ke arah asal suara itu. 

Tampak Putri Uttejana dan Emban Sriti yang setia menemaninya berdiri di ambang pintu kandang kuda. Kemudian wanita nomor satu di negeri Kanjuruhan itu berjalan menghampiri Senopati Bara yang berdiri di samping kudanya yang tengah merajuk itu.

“Ajak saja kudamu ini berjalan-jalan sebentar keluar istana, mungkin dia sedang bosan. Bukankah sudah lama ia tidak keluar dari kandang ini sejak kau pergi mendaki ?” Usul Putri Uttejana

Senopati Bara terdiam, lantas dia membalas kata-kata Putri Uttejana itu dengan seutas senyum

“Ayo, ajak aku turut jalan-jalan dengan kuda ini !” Ujar Putri Jana sambil bergegas naik ke atas punggung kuda itu

Melihat tindakan Sang Putri yang tidak basa-basi itu, Senopati Bara hanya tercengang.

Tapi begitu Putri Uttejana telah duduk di atas punggung kuda itu, tiba-tiba kuda itu mengangkat kedua kaki depannya.

“Aaaaaaaaa!” Teriak Putri Uttejana terkejut

Sontak saja orang-orang di sekitarnya juga terkejut.

Terlebih lagi Putri Uttejana, dia langsung terjatuh dari atas punggung kuda jantan itu.

Senopati Bara dan Emban Sriti segera menolongnya, sementara Sang Penjaga Kuda berusaha mengendalikan kuda tersebut.

“Aduh !” Rintih Putri Uttejana yang tergeletak di lantai kandang kuda itu.

Senopati Bara langsung membopongnya dan membawanya ke balai pengobatan istana. Sementara Emban Sriti mengikuti langkah senopati Bara dari belakang.

Putri Uttejana terus merintih kesakitan dalam perjalanan menuju balai pengobatan istana. Tapi jauh didalam hati dia juga merasa sangat senang karena saat ini dia berada di dalam pelukan laki-laki yang dia kagumi.

***

Begitu sampai di balai pengobatan istana, Putri Uttejana langsung ditangani oleh Tabib Ludiro. Senopati Bara dan Emban Sriti menemani Sang Putri yang tengah diobati itu. Tidak ada luka fatal yang diderita Putri Uttejana karena peristiwa tadi. Kaki Putri Uttejana hanya terkilir dan pinggangnya lebam karena terjatuh tadi.

Tabib Ludiro lantas memijat kaki Putri Uttejana yang terkilir itu. 

Putri Uttejana berteriak kesakitan ketika kakinya dipijat.

Setelah selesai dipijat, Tabib ludiro memberikan ramuan pada Putri Uttejana agar diminum, untuk mempercepat proses penyembuhan pada kakinya yang terkilir.

Sementara lebam pada pinggang Sang Putri hanya diberi ramuan yang dibalurkan lalu dikompres dengan air hangat yang dicampur dengan ramuan pendamping.

Setelah pengobatan selesai, Prabu Gajayana tiba di balai pengobatan istana untuk melihat kondisi putrinya sehabis kecelakaan tadi.

“Apa kau baik-baik saja Putriku ?” Tanya Prabu Gajayana

“Aku baik-baik saja ! Tabib Ludiro sudah mengobatiku jadi Ayah tenang saja !” Tukas Putri Uttejana menenangkan ayahnya

“Bagaimana aku bisa tenang, ketika mendengar kabar bahwa putri kesayanganku kecelakaan ? Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi ?”

“Tadi aku hendak jalan-jalan dengan menunggang kuda Ayah, lalu tiba-tiba kudanya tidak dapat dikendalikan. Beruntung ada Senopati Bara yang menolongku !” Terang Putri Uttejana

“Benarkah itu Senopati Bara ?” Tanya Prabu Gajayana

“Benar Gusti Prabu !” Jawab Senopati Bara

“Kalau begitu, terimakasih karena kau sudah menolong Putri Uttejana !” Ujar Prabu Gajayana

“iya sama-sama Gusti Prabu ! Kalau begitu saya mohon diri terlebih dahulu karena ada pekerjaan yang harus saya seleaikan !”

“Iya, pergilah !”

Setelah itu, Senopati Bara meninggalkan ruang rawat balai pengobatan istana itu.

Di halaman balai pengobatan, Senopati Bara bertemu dengan Kahyang yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya sambil membaca beberapa buku. Ketika Senopati Bara mencoba menyapanya Kahyang tidak menyahut. Dia terus saja berjalan lurus.

Mungkin dia sedang fokus dengan buku ditangannya itu, pikir Senopati Bara.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s