Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 2

Setelah beberapa hari menyepi ke gunung, Senopati Bara merasa lebih bersemangat lagi dalam memimpin pasukannya.

Latihan-latihan berat pun ia berikan pada para prajuritnya untuk menambah skill dan menguatkan mental mereka.

Maka dari itu, dia sangat sibuk sejak tiba di istana.

Namun, ditengah kesibukannya itu, Senopati Bara masih sempat memikirkan wanita bernama Kahyang yang ia tolong beberapa hari lalu di perjalanannya pulang dari mendaki.

Jujur, dia tertarik pada wanita itu. Dia berharap suatu hari nanti dia bisa bertemu kembali dengan Kahyang.

Sampai suatu hari, Senopati Bara mengasah ketangkasan menggunakan pedang para prajuritnya dengan mengadu satu lawan satu antar prajuritnya di Gladi Yudha.

Sepasang demi sepasang prajuritnya pun bertarung.

sepuluh pasangan prajurit telah selesai beradu ketangkasan mengayunkan pedang. Ketika pasangan ke sebelas bertarung, tak sengaja salah satu prajurit yang bertarung itu terhunus pedang dan terluka cukup parah.

Kontan saja latihan pun dibubarkan dan prajurit yang terluka itupun segera dilarikan ke balai pengobatan istana.

Sampai disana, tak disangka oleh Senopati Bara yang turut mengantar prajuritnya itu, ternyata tabib yang mengobati prajuritnya adalah Kahyang. 

Senopati Bara senang bukan main mengetahui Kahyang ternyata bekerja sebagai tabib di istana tempat ia mengabdi.

Setelah selesai mengobati prajurit itu, Kahyang yang baru sadar jika pria yang menolongnya di gunung beberapa hari lalu itu ada di dekatnya sejak tadi, langsung ia sapa.

“Bara ?” Sapa Kahyang seketika itu pula

“Jadi kau menjadi tabib disini ?” Tanya Senopati Bara tanpa basa-basi lagi

“Ya seperti yang kau lihat !”

Kahyang dan Bara kemudian melanjutkan pembicaraan di luar ruangan balai pengobatan istana itu.

“Apa kabar ?” Ujar Kahyang

“Kabarku baik, bagaimana denganmu sendiri ?

“Aku juga baik, senang sekali bisa bertemu denganmu lagi !”

“Aku juga !”

Keduanya lalu saling diam,

“Apa kau sibuk malam ini ?” Tanya Senopati Bara

“Tidak, memangnya ada apa ?” Tanya Kahyang lagi

“Apa kau mau pergi jalan-jalan keluar istana denganku malam ini ?”

“Jalan-jalan malam ini ?”

“Iya !”

Kahyang diam, seperti sedang mempertimbangkan ajakan Senopati Bara itu.

Ekspresi Kahyang yang tengah diam itu membuat Senopati Bara gugup. Ia takut Kahyang menolak ajakannya.

“Baiklah, kita janji bertemu dimana ?” Kata Kahyang tiba-tiba, membuat Sang Senopati muda itu terhenyak

“Oh, eh kita bertemu di gerbang istana !”

“Baik, sampai jumpa nanti kalau begitu !”

“Iya sampai jumpa !”

Setelah itu, Kahyang kembali masuk ke dalam ruangan balai pengobatan istana itu, sementara Senopati Bara masih terpaku di tempat itu.

Sepanjang hidupnya dia belum pernah gugup seperti itu berhadapan dengan seorang wanita.

Di sudut lain halaman balai pengobatan istana itu rupanya sejak tadi ada dua orang dayang tengah menguping pembicaraan Kahyang dan Senopati Bara. 

Begitu Senopati Bara beranjak meninggalkan tempatnya tadi, dua orang dayang tadi juga beranjak dari tempatnya.

***

Selepas senja, Senopati Bara baru saja menyelesaikan tugasnya di kerajaan.

Setelah itu, dia bergegas menuju gerbang istana untuk bertemu dengan Kahyang.

Ketika dia sampai di gerbang istana, Kahyang juga tiba gerbang istana. Keduanya menghentikan langkah pada satu titik, lalu saling melemparkan seutas senyum. Kemudian, Senopati Bara menghampiri Kahyang.

“Apa kau sudah siap ?” Tanya Senopati Bara

“Sudah,”

Keduanya lalu berjalan beriringan meninggalkan istana.

Sambil berjalan mereka berbincang-bincang seputar pertemuan pertama mereka beberapa hari lalu sampai pertemuan kedua mereka tadi siang.

“Jadi, kau senopati kerajaan Kanjuruhan ?” Tanya Kahyang

“Iya, dan kau tabib istana Kanjuruhan ?” Tanya Senopati Bara balik

“Tidak bisa dibilang begitu, beberapa hari ini aku hanya membantu ayahku di balai pengobatan istana karena disana kekurangan perawat!” Terang Kahyang

“Siapa nama ayahmu ?”

“Tabib Ludiro,”

“Oh, kalau kau mengusai ilmu pengobatan, kenapa kau tidak bekerja disana saja membantu ayahmu ?”

“Aku tidak begitu tertarik bekerja di istana,”

“Kenapa ?”

“Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu ”

Akhirnya langkah Senopati Bara dan Kahyang tiba di depan sebuah kedai makanan.

“Apa kau sudah makan ?” Tanya Senopati Bara

“Sudah, tadi sebelum menemuimu aku makan bersama ayahku!”

“Begitu ya, hmmmmm bisa temani aku makan ?”

“Tentu bisa !”

Lalu mereka mampir ke kedai tersebut.

Senopati Bara lalu memesan beberapa macam makanan. Setelah makanan dihidangkan, ia lalu mulai menikmatinya bersama Kahyang.

Setelah itu, keduanya pun beranjak pulang karena malam beranjak larut.

Mereka berpisah di gerbang istana, tempat dimana mereka janji bertemu tadi.

“Senang bisa jalan-jalan denganmu malam ini !” Ujar Kahyang sebelum berpisah dengan Senopati Bara.

Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Kahyang, jantung Senopati Bara semakin berdebar-debar.

“Aku juga senang jika kau senang !” Balas Senopati Bara

“Kalau begitu sampai jumpa !”

“Sampai jumpa !”

Kahyang berjalan pergi meninggalkan Senopati Bara yang masih berdiri mematung di gerbang istana.

Senopati Bara tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya karena hari ini dia bisa bertemu bahkan pergi bersama Kahyang, wanita yang berhasil menarik perhatiannya itu.

Dia terus saja tersenyum menatap Kahyang yang beranjak semakin jauh dari pandangannya.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s