Karya Tulis

Senandung Senja

Oleh Nia Nayajomis

BAGIAN 1

Pada zaman dahulu di pulau Jawa bagian timur, tepatnya di sebelah timur lereng Gunung Kawi terdapat sebuah kerajaan yang aman dan makmur bernama kerajaan Kanjuruhan.

Kerajaan tersebut diperintah oleh seorang raja bernama Gajayana.

Di bawah penerintahannya, Kerajaan Kanjuruhan berkembang pesat, baik pemerintahan, sosial, ekonomi maupun seni budayanya.

Rakyat merasa aman dan terlindungi. Kekuasaan kerajaan meliputi daerah lereng timur dan barat Gunung Kawi. Ke utara hingga pesisir laut Jawa. Keamanan negeri terjamin. Tidak ada peperangan. Jarang terjadi pencurian dan perampokan, karena raja selalu bertindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. Dengan demikian rakyat hidup aman, tenteram, dan terhindar dari malapetaka.

Tentu keberhasilan Raja Gajayana dalam memerintah negeri Kanjuruhan tidak ia lakukan sendiri, tapi dia juga dibantu oleh para pelayannya seperti patih amungkubumi, patih, tumenggung, adipati, dan senopati.

Dan diantara jajaran tata pemerintahan kerajaaan Kanjuruhan, ada seorang senopati muda bernama Bara yang sangat termahsyur karena kecerdasan dan kerupawanannya. Dia kerap menjadi buah bibir kawula istana karena kelebihan yang ia miliki itu. Terutama para pelayan perempuan. Banyak diantara mereka yang berharap dilirik oleh Sang Senopati.

Tidak hanya para dayang, putri semata wayang Raja Gajayana sekaligus pewaris tunggal takhta kerajaan Kanjuruhan, yaitu Putri Utteana juga tertarik pada Sang Senopati muda itu.

Diam-diam dia sering mencari perhatian Senopati Bara dengan meminta diajari menunggang kuda atau memanah.

Sayangnya, meskipun Senopati Bara disegani banyak orang baik laki-laki maupun perempuan ia tidak pernah perduli bahkan berbangga diri. Pasalnya ia takut akan dirinya sendiri.

***

Putri Uttjana dan embannya pergi ke gladi yudha untuk mencari tahu apakah Senopati Bara telah kembali dari mendaki ke gunung Semeru, karena sudah sepuluh hari dia pergi.

Putri Uttejana menyuruh embannya untuk memanggil seorang prajurit di gladi yudha itu, agar menemuinya. Sementara dirinya menunggu diluar area gladi yudha yang dikelilingi tembok tinggi itu

“Ada yang bisa saya bantu Gusti Putri ?” tanya prajurit muda itu begitu tiba di hadapan Putri Uttejana

“Ada yang ingin aku tanyakan padamu, apa Senopati Bara sudah kembali ke istana ?” Tanya Putri Uttejana

“Senopati Bara belum kembali dari mendaki Gusti Putri, menurut kabar yang saya dengar beliau akan kembali besok” jawab prajurit itu

“Hmmmmm baiklah kalau begitu. Terimakasih. Sekarang kau boleh pergi” ujar Putri Uttejana sambil tersenyum ramah

Kemudian, prajurit itupun pergi. Setelah itu ,

“Akhirnya Senopati Bara besok pulang Bi, jadi aku bisa berlatih memanah lagi !” Kata Putri Uttejana kegirangan

“Bisa berlatih memanah lagi apa bisa berdekatan lagi dengan Senopati Bara, Gusti Putri ?” Sindir Emban Sriti

“Bibi,” gumam Putri Uttejana

“Bercanda Gusti Putri,” Balas Emban Sriti sambil tersenyum

“Ah, sudahlah! Ayo pergi!” Ajak Putri Uttejana

Kedua perempuan itupun lalu berjalan meninggalkan area gladi yudha.

***

Hari beranjak senja, seorang laki-laki muda berjalan turun melintasi lereng semeru dengan sebuah buntalan menyerupai tas yang menggantung di pundak kanannya.

Laki-laki muda itu tidak lain adalah Senopati Bara. Dia bergegas kembali ke Kanjuruhan setelah sepuluh hari mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa itu.

Dia memang senang pergi mendaki gunung. Hal itu sering ia lakukan untuk menghilangkan kejenuhannya melakukan tugas sebagai senopati atau sekedar melatih ilmu kanuragannya yang mempunyai kelebihan itu.

Ketika Senopati Bara melintasi sebuah padang rumput di perjalanannya melintasi lereng semeru, tak sengaja dia bertemu dengan seorang perempuan yang tengah berusaha mengambil sebuah tanaman di pinggir tebing. Senopati Bara tidak memperdulikan keberadaan wanita itu, dia terus saja berjalan. Sampai ketika dia telah berjalan beberapa langkah dari padang rumput itu, tiba-tiba dia mendengar teriakan seseorang meminta tolong.

Lalu Senopati Bara segera menghampiri asal suara tersebut.

Ketika berbalik arah, dia tidak menemukan wanita yang tengah mengambil tanaman tadi.Dia menduga suara tersebut adalah suara wanita itu.

Suara itu semakin terdengar jelas ketika Senopati Bara mendekati tebing di padang rumput itu.

Sesuai dugaannya suara teriakan itu adalah suara wanita tadi.

Begitu ia tengok ke tebing, wanita itu tengah bergelantung di atas tebing sambil berpegangan pada setangkai ranting pohon.

“Tolong! Tolong aku!” Teriak wanita itu pada Senopati Bara

Senopati Bara pun segera menolong wanita itu

“Pegang tanganku!” Pintahnya sambil mengulurkan tangan pada wanita itu

Wanita itupun menurut pintah Senopati Bara, setelah itu dia ditarik naik ke atas tebing oleh Senopati Bara dengan susah payah.

Akhirnya, wanita itupun berhasil diselamatkan.

“Terimakasih banyak Tuan, anda sudah menolong saya!” Ucap wanita yang berpakaian seperti seorang tabib dengan rambut terurai serta caping yang menggantung dilehernya kebelakang itu.

“Sama-sama Nona, apa anda baik-baik saja ?” Tanya Senopati Bara

“Saya baik-baik saja, oh iya apa Tuan penduduk daerah ini ?”

“Bukan, aku hanya pendaki. Aku berasal dari Kanjuruhan!”

“Kebetulan sekali, saya juga berasal dari Kanjuruhan!”

“Kalau begitu kita bisa kembali pulang bersama-sama ke Kanjuruhan. Lagipula, hari juga sudah senja, seorang wanita tidak baik pulang sendirian, bagaimana ?” Tawar Senopati Bara

“Baiklah kalau begitu Tuan, mari kita pulang !” Balas wanita itu sambil tersenyum ramah yang membuat Senopati Bara gugup.

Keduanya pun lalu berjalan beriringan meninggalkan tempat itu menyusuri lereng semeru itu.

***

Menjelang tengah malam, Senopati Bara dan wanita itu tiba di kota raja Kanjuruhan.

Keduanya berpisah di perbatasan kerajaan. Senopati Bara langsung menuju istana sementara wanita yang ia tolong tadi pulang ke rumahnya di Balingawan.

“Oh iya, siapa namamu ?” Tanya Senopati Bara sebelum berpisah 

“Kahyang, dan kau Bara kan ?” Tukas wanita itu

“Iya,”

“Jika kita bertemu kembali suatu hari nanti, aku berjanji akan membalas kebaikanmu tadi!”

“Tidak usah repot-repot, kau tersenyum dan menyapaku saja, itu sudah cukup bagiku!” Kata Bara

Kahyang tersenyum mendengar kata-kata Bara itu,

“Sampai jumpa kembali !” Kata Bara sambil tersenyum

“Sampai jumpa !” Balas Kahyang

Kedua anak manusia itupun berpisah. Berjalan ke arah yang berbeda.

***

Keesokan harinya, Emban Sriti melapor pada Putri Uttejana, bahwa Senopati Bara telah kembali dari mendaki. Dan tiba di istana semalam.

Pagi itu, Putri Uttejana baru saja selesai mandi, kemudian dia berdandan seperti biasa. Setelah itu, dia menyisir rambutnya yang panjang dan hitam. Sementara itu, Emban Sriti merapikan kamarnya yang berantakan.

“Gusti Putri, Senopati Bara sudah tiba di istana!” Ujar Emban Sriti sambil melipat pakaian Putri Uttejana yang dipakai tidur semalam

“Benarkah Bi ? Aku mau menemuinya ah!” Kata Putri Jana sambil meletakkan sisirnya meja rias lalu beranjak berdiri

“Mau kemana Gusti Putri ?” Tanya Emban Sriti

“Mau menemui Senopati Bara !” Jawab Putri Uttejana

“Apa ndak terlalu frontal Gusti Putri kalau langsung menemuinya sekarang ?”

Putri Uttejana lalu duduk kembali

“Gusti Putri ini pewaris takhta kerajaan loh, harus menjaga wibawa !” Tambah Emban Sriti

“Ahhhh, apa yang sudah kulakukan!” Sergah Putri Uttejana

“Gusti Putri menyukai seserang itu boleh, tapi juga harus menjaga harga diri !”

“Baiklah, lalu aku harus bagaimana Bi ? Kamu tau kan, aku sangat menyukai Senopati Bara ?”

“Iya Gusti Putri saya sangat tahu itu, ya maksud saya itu, Gusti Putri itu mbok ya jangan terlalu memperlihatkan gitu loh kalau menyukai Senopati Bara, yang jual-mahal sedikit !” Nasehat Emban Sriti

“Begitu ya Bi ? Memangnya aku seperti itu ya ?”

“Ya begitulah Gusti Putri!”

Putri Uttejana menghela nafas berat, sedangkan Emban Sriti tetap melanjutkan pekerjaannya.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s